Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hasil Riset: Musik Rock dan EDM Bikin Pengendara Jadi Agresif

Hasil Riset: Musik Rock dan EDM Bikin Pengendara Jadi Agresif
Ilustrasi Touring (Pexels.com/Ene Marius)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Riset South China University of Technology menemukan musik bertempo tinggi seperti Rock dan EDM dapat memicu agresivitas pengendara karena lonjakan adrenalin berlebih.
  • Genre Lofi Hip-Hop dan Synthwave dengan tempo 60–80 BPM membantu menjaga kestabilan tekanan darah serta menurunkan stres selama berkendara.
  • Mendengarkan musik bertempo lambat membuat ritme berkendara lebih konstan, menghemat energi fisik, dan mencegah kelelahan otot maupun penuaan dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Mendengarkan musik saat menempuh perjalanan jarak jauh kini telah menjadi bagian dari gaya hidup para pencinta roda dua. Kehadiran teknologi perangkat komunikasi helm atau intercom memudahkan para pengendara untuk mengusir kebosanan di atas aspal dengan memutar daftar lagu favorit sepanjang hari.

Namun, musik di dalam helm bukan sekadar pengisi kesunyian, melainkan sebuah stimulan kuat yang mendikte perilaku berkendara. Pemilihan genre lagu yang tepat terbukti secara ilmiah mampu menjaga stabilitas mental dan fisik, yang secara tidak langsung membuat tubuh tetap bugar dan awet muda karena terhindar dari stres berkendara.

Berikut adalah analisis mengenai bagaimana ketukan musik memengaruhi tubuh pengendara serta genre terbaik untuk menjaga keawetan energi di jalanan.

1. Bahaya laten musik bertempo tinggi yang memicu agresivitas

ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)
ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)

Banyak pengendara motor secara tidak sadar memilih genre musik yang bertenaga seperti Rock, Metal, atau Electronic Dance Music (EDM) dengan harapan bisa mengusir kantuk. Padahal, riset psikologi transportasi dari South China University of Technology mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan mengenai kebiasaan ini.

Mendengarkan musik dengan tempo di atas 120 Beats Per Minute (BPM) secara drastis dapat memanipulasi alam bawah sadar pemotor untuk berkendara lebih agresif. Ketukan yang cepat merangsang otak melepaskan hormon adrenalin secara berlebihan, sehingga pengendara cenderung melanggar batas kecepatan dan melakukan manuver berbahaya tanpa disadari. Sikap agresif ini memicu lonjakan stres emosional dan ketegangan otot yang tinggi, sebuah kondisi yang mempercepat penuaan sel tubuh akibat kelelahan mental yang luar biasa.

2. Efek terapeutik genre lofi dan synthwave dalam menjaga stabilitas tubuh

ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Đạt Đào)
ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Đạt Đào)

Untuk mendapatkan efek awet muda dan hemat energi selama perjalanan harian atau touring, pengendara membutuhkan genre musik yang berfungsi sebagai penenang sistem saraf. Musik yang ideal adalah musik yang memiliki ketukan konsisten dan selaras dengan detak jantung normal manusia saat beristirahat, yaitu di kisaran 60 hingga 80 BPM.

Genre musik seperti Lofi Hip-Hop atau Synthwave bertempo lambat adalah pilihan paling ilmiah untuk meredam stres di jalan raya. Alunan nada yang repetitif dan menenangkan dari kedua genre ini membantu mempertahankan tekanan darah tetap stabil dan mencegah otak mengalami keletihan dini. Musik jenis ini bertindak sebagai perisai emosional yang efektif, sehingga saat dihadapkan pada situasi macet atau perilaku pengendara lain yang menjengkelkan, tingkat stres tetap berada di tingkat paling minimal.

3. Menghemat energi fisik melalui manajemen ritme berkendara yang konstan

ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Nishant Aneja)
ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Nishant Aneja)

Keuntungan terbesar dari menjaga detak jantung stabil lewat musik 60-80 BPM adalah terciptanya efisiensi pergerakan motorik tubuh. Musik bertempo lambat menuntun pemotor untuk melakukan pembukaan selongsong gas secara lebih halus, melakukan pengereman yang terukur, dan menjaga kecepatan kendaraan tetap konstan.

Ritme berkendara yang stabil ini sangat menghemat energi fisik karena otot-otot tubuh, terutama pada bagian bahu, punggung, dan pergelangan tangan, tidak dipaksa untuk terus-menerus menegang. Tubuh yang rileks selama berjam-jam di atas jok motor akan meminimalkan produksi hormon kortisol (hormon stres) yang merupakan pemicu utama penuaan dini dan penurunan daya tahan tubuh. Memilih sountrack perjalanan yang menenangkan adalah investasi terbaik untuk memastikan kepulangan ke rumah dalam kondisi fisik yang tetap segar dan bugar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More