Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Ilmiah Kenapa Kecepatan Tinggi Membuat Mata Jadi Buta Samping

Alasan Ilmiah Kenapa Kecepatan Tinggi Membuat Mata Jadi Buta Samping
ilustrasi MotoGP (unsplash.com/ThrowBack.sk)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kecepatan tinggi menyebabkan penyusutan sudut pandang visual dari 180 derajat menjadi sekitar 40 derajat, membuat fokus mata hanya tertuju pada area depan.
  • Penyempitan pandangan ini menimbulkan efek kebutaan samping yang membuat pengendara sulit mendeteksi objek di kiri dan kanan jalan, meningkatkan risiko kecelakaan.
  • Teknik pemindaian aktif dengan menggerakkan pandangan secara berkala dapat melatih otot mata dan menjaga kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar saat berkendara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Menikmati sensasi berkendara dengan kecepatan tinggi di lintasan lurus sering kali memberikan kepuasan tersendiri bagi para pencinta aktivitas touring. Ketika tuas gas diputar lebih dalam, fokus perhatian secara alami akan langsung tertuju pada satu titik mati di ujung jalanan yang berada jauh di depan.

Namun, di balik keseruan tersebut, ada bahaya biologis yang mengintai indra penglihatan pengendara sepeda motor. Fenomena yang dikenal sebagai efek visual tunneling atau penglihatan terowongan ini secara ilmiah memaksa mata kehilangan kemampuan memantau situasi sekitar, sehingga menciptakan area kebutaan baru yang sangat berisiko memicu kecelakaan fatal.

Berikut adalah analisis sains mengenai penyusutan sudut pandang akibat kecepatan serta taktis melatih otot mata untuk mengatasinya.

1. Penyusutan drastis sudut pandang visual seiring meningkatnya kecepatan

ilustrasi MotoGP (unsplash.com/ ali mahmoodi)
ilustrasi MotoGP (unsplash.com/ ali mahmoodi)

Dalam kondisi berhenti atau berjalan kaki, mata manusia normal memiliki sudut pandang perifer yang sangat luas, yaitu mencapai sekitar 180 derajat. Kemampuan visual yang lebar ini memungkinkan otak untuk mendeteksi setiap pergerakan objek di sisi kiri maupun kanan dengan sangat baik tanpa harus menolehkan kepala.

Celakanya, sudut pandang horizontal ini akan merosot tajam secara linier seiring dengan bertambahnya kecepatan sepeda motor. Saat kendaraan melaju pada kecepatan rendah sekitar 40 km/jam, sudut pandang perifer manusia langsung menyusut menjadi 100 derajat. Ketika kecepatan ditingkatkan lagi hingga menyentuh angka 100 km/jam, ruang pandang mata melosot drastis dan hanya menyisakan 40 derajat saja di area sentral. Otak secara otomatis mematikan pemrosesan informasi dari area tepi demi memfokuskan energi pada objek yang datang cepat dari arah depan.

2. Risiko kebutaan samping terhadap objek tak terduga di jalan raya

ilustrasi balapan MotoGP (pixabay.com/ Lesbains39)
ilustrasi balapan MotoGP (pixabay.com/ Lesbains39)

Penyempitan sudut pandang hingga tersisa 40 derajat menciptakan efek seperti melihat dunia dari dalam sebuah terowongan yang sempit. Akibatnya, pengendara motor yang melaju sangat kencang secara ilmiah akan mengalami "kebutaan" fungsional terhadap objek-objek yang berada di area kiri dan kanan jalur utama.

Kondisi psikologi persepsi ini menjadi alasan utama kenapa banyak pemotor berkecepatan tinggi gagal mengantisipasi kendaraan lain yang mendadak keluar dari gang kecil, pejalan kaki yang menyeberang, atau kendaraan yang berpindah lajur di sampingnya. Pengendara bukan sengaja mengabaikan objek-objek tersebut, melainkan karena informasi visual dari area samping memang gagal ditangkap oleh retina dan tidak pernah sampai ke pusat pemrosesan otak. Saat menyadari kehadiran objek tersebut, jarak kendaraan biasanya sudah terlalu dekat sehingga kecelakaan sulit dihindari.

3. Melatih otot mata dengan teknik pemindaian aktif sepanjang perjalanan

ilustrasi MotoGP (pexels.com/jilu jily)
ilustrasi MotoGP (pexels.com/jilu jily)

Untuk memutus efek hipnotis dari terowongan visual ini, pengendara tidak boleh membiarkan bola mata terpaku menatap satu titik lurus ke depan dalam waktu lama. Otot mata harus dilatih secara sadar untuk melakukan teknik pemindaian aktif (scanning) secara berkala setiap beberapa detik sekali.

Gerakkan fokus pandangan mata secara dinamis dengan pola segitiga, yaitu melihat jauh ke depan, melirik spion kiri, kembali ke depan, lalu melirik spion kanan. Selain itu, sempatkan mata untuk membaca papan penunjuk jalan atau melihat pergerakan di bahu jalan tanpa perlu memutar posisi kepala. Latihan pergerakan bola mata yang dinamis ini akan merangsang kembali sel-sel saraf perifer pada retina agar tetap aktif bekerja mengirimkan sinyal ke otak, sehingga tingkat kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar tetap terjaga optimal sepanjang sisa perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More