Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Mesin Mobil Ber-cc Besar Tidak Selalu Lebih Boros?

Kenapa Mesin Mobil Ber-cc Besar Tidak Selalu Lebih Boros?
Ilustrasi Nissan Xtrail T30 (Image by ChatGPT)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Mesin ber-cc besar punya torsi melimpah di putaran rendah, sehingga tidak perlu bekerja keras dan justru bisa lebih efisien dibanding mesin kecil yang harus berputar tinggi.
  • Saat melaju konstan di jalan tol, mesin besar dengan transmisi modern mampu menjaga RPM rendah, membuat konsumsi bahan bakarnya lebih hemat daripada mesin kecil pada kecepatan sama.
  • Teknologi seperti Cylinder Deactivation dan manajemen termal modern memungkinkan sebagian silinder nonaktif saat tenaga penuh tak dibutuhkan, menjadikan mesin besar tetap irit dan efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pandangan umum masyarakat terhadap dunia otomotif sering kali langsung mengaitkan kapasitas mesin atau centimeter cubic (cc) yang besar dengan konsumsi bahan bakar yang boros. Anggapan ini membuat banyak calon pembeli langsung mencoret mobil bermesin besar dari daftar buruan mereka, terutama di tengah situasi ketidakpastian harga bahan bakar minyak (BBM) seperti sekarang.

Padahal, perkembangan teknologi mekanikal modern telah mengubah peta efisiensi berkendara secara drastis. Realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa mobil ber-cc besar sering kali mencatatkan konsumsi bensin yang sangat bersahabat, bahkan dalam beberapa kondisi tertentu bisa mengalahkan mobil bermesin kecil.

1. Keunggulan torsi melimpah yang membuat mesin tidak perlu berputar tinggi

ilustrasi panel speedometer pada dasbor mobil (unsplash.com/Danny Sleeuwenhoek)
ilustrasi panel speedometer pada dasbor mobil (unsplash.com/Danny Sleeuwenhoek)

Faktor utama yang mematahkan mitos borosnya mesin berkapasitas besar adalah melimpahnya ketersediaan torsi sejak putaran mesin (RPM) rendah. Mobil dengan cc besar memiliki volume ruang bakar yang luas, sehingga mampu menghasilkan daya dorong yang kuat tanpa harus dipaksa bekerja ekstra keras. Saat mobil mulai berjalan dari posisi diam atau ketika harus menanjak, mesin hanya membutuhkan sedikit injakan pedal gas untuk menggerakkan bodi kendaraan secara responsif.

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan mobil ber-cc kecil yang sering kali kekurangan torsi di putaran bawah. Untuk mencapai kecepatan yang diinginkan atau saat membawa beban penuh, pengemudi mobil bermesin kecil terpaksa harus menginjak pedal gas lebih dalam guna memancing RPM naik tinggi. Proses "memaksa" mesin bekerja keras di putaran tinggi inilah yang justru menyedot volume bahan bakar dalam jumlah besar, membuat efisiensinya drop drastis.

2. Efisiensi saat melaju konstan di rute luar kota atau jalan tol

ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)
ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)

Perbedaan efisiensi ini akan semakin terlihat jelas ketika kedua jenis mobil ini diuji di rute jarak jauh atau jalan bebas hambatan. Mobil ber-cc besar umumnya dipadukan dengan sistem transmisi modern yang memiliki rasio gigi melimpah (overdrive). Hasilnya, saat mobil melaju konstan di kecepatan tinggi, misalnya 100 kilometer per jam, mesin besar bisa menjaga putaran RPM tetap sangat rendah dan rileks, sering kali di bawah angka 2.000 RPM.

Pada putaran mesin yang serendah itu, pasokan bahan bakar yang disemprotkan ke dalam ruang bakar menjadi sangat minimal. Sebaliknya, mobil bermesin kecil yang melaju di kecepatan yang sama harus mempertahankan putaran mesin yang jauh lebih tinggi agar mobil tidak kehilangan momentum kecepatan. Alhasil, dalam skenario perjalanan luar kota, mobil ber-cc besar justru sering kali keluar sebagai pemenang dalam hal keiritan konsumsi bahan bakar.

3. Penerapan teknologi pintar pemutus silinder dan manajemen termal modern

ilustrasi jalan tol (freepik.com/freepik)
ilustrasi jalan tol (freepik.com/freepik)

Produsen otomotif global saat ini telah menyematkan berbagai inovasi canggih untuk menjinakkan konsumsi bahan bakar pada mesin berkapasitas besar. Salah satu teknologi paling revolusioner adalah Cylinder Deactivation atau sistem penonaktifan silinder. Lewat fitur pintar ini, komputer mobil (ECU) akan mematikan aliran bahan bakar dan pengapian pada separuh jumlah silinder secara otomatis saat mobil mendeteksi kondisi berkendara yang santai atau tidak membutuhkan tenaga penuh.

Sebagai contoh, mesin berkonfigurasi V6 atau V8 bisa mendadak bekerja hanya dengan tiga atau empat silinder saja saat melaju konstan di jalan datar. Begitu pedal gas diinjak secara spontan untuk berakselerasi, silinder yang mati tadi akan langsung aktif kembali dalam hitungan milidetik. Ditambah dengan manajemen termal yang lebih baik dan material mesin yang lebih ringan, mobil ber-cc besar masa kini sukses menjelma menjadi kendaraan yang bertenaga namun tetap ramah bagi isi dompet harian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More