Pemandangan antrean panjang kendaraan roda dua yang mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum kini menjadi pemandangan yang semakin lumrah di berbagai kota besar di indonesia. Peningkatan volume kendaraan serta penyesuaian kuota bahan bakar minyak bersubsidi ditengarai menjadi pemicu utama masyarakat harus rela menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mengisi tangki motor. Situasi ini secara logis seharusnya menjadi momentum emas bagi peralihan moda transportasi ke arah kendaraan ramah lingkungan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang cukup kontradiktif karena angka penjualan sepeda motor listrik belum mengalami lonjakan yang masif. Berdasarkan data asosiasi industri sepeda motor indonesia, penjualan motor konvensional masih mendominasi pasar domestik dengan angka mencapai jutaan unit per tahun, sementara adopsi motor listrik baru menyerap sebagian kecil dari target nasional. Kesenjangan antara kejenuhan konsumsi bensin dan lambatnya penetrasi pasar kendaraan listrik ini memicu pertanyaan besar mengenai hambatan yang sedang terjadi di masyarakat.
