Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Shrinkflation yang Terjadi di Sekitar Kita, Jarang Disadari!
ilustrasi membeli snack (pexels.com/Dario Solano)
  • Shrinkflation terjadi ketika ukuran, berat, atau jumlah produk dikurangi tanpa menaikkan harga, membuat konsumen menerima nilai lebih sedikit dari sebelumnya.
  • Tanda shrinkflation meliputi isi kemasan berkurang, ruang kosong bertambah, serta perubahan kualitas atau komposisi produk yang menurunkan nilai sebenarnya.
  • Fenomena ini muncul akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi, mendorong perusahaan menyesuaikan isi produk agar harga tetap terlihat stabil di pasaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan harga barang sering menjadi perhatian banyak orang ketika berbelanja. Namun, tidak semua kenaikan biaya hidup terjadi melalui kenaikan harga. Dalam beberapa kasus, perusahaan memilih cara yang lebih halus untuk menyesuaikan biaya produksi tanpa mengubah harga jual secara langsung.

Fenomena tersebut dikenal sebagai shrinkflation, yaitu kondisi ketika ukuran, berat, atau jumlah produk dikurangi tetapi harga tetap sama atau hanya berubah sedikit. Akibatnya, konsumen mendapatkan produk yang lebih sedikit dibanding sebelumnya. Berikut beberapa tanda shrinkflation yang mungkin sedang terjadi di sekitar kita.

1. Ukuran atau berat produk menjadi lebih kecil

ilustrasi snack bar (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Salah satu tanda shrinkflation yang paling umum adalah berkurangnya ukuran atau berat produk. Kemasan makanan ringan, minuman, hingga kebutuhan rumah tangga sering mengalami pengurangan isi tanpa perubahan mencolok pada desain kemasannya. Sekilas produk terlihat sama, tetapi jika diperhatikan lebih detail, jumlah gram atau mililiternya ternyata lebih sedikit dibanding sebelumnya.

Strategi ini sering digunakan karena banyak konsumen lebih memperhatikan harga daripada ukuran produk. Dengan mempertahankan harga yang sama, produsen dapat mengurangi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku dan distribusi. Karena perubahan ukurannya biasanya tidak terlalu besar, banyak orang tidak menyadari bahwa nilai yang diterima sebenarnya telah berkurang.

2. Jumlah isi dalam satu kemasan berkurang

ilustrasi snack (pexels.com/Kenneth Surillo)

Tidak semua shrinkflation dilakukan dengan mengurangi berat produk. Dalam beberapa kasus, perusahaan mengurangi jumlah isi di dalam kemasan tanpa mengubah ukuran luar kemasan secara signifikan. Contohnya dapat ditemukan pada biskuit, permen, mi instan, atau produk makanan lain yang sebelumnya berisi lebih banyak unit dalam satu kemasan.

Perubahan seperti ini sering luput dari perhatian karena kemasan luar tetap terlihat hampir sama. Konsumen biasanya baru menyadari setelah membandingkan produk lama dengan produk yang baru dibeli. Meskipun terlihat sederhana, pengurangan jumlah isi dalam skala besar dapat membantu perusahaan menghemat biaya produksi sekaligus menjaga harga tetap kompetitif di pasaran.

3. Kemasan terlihat sama tetapi ruang kosong bertambah

ilustrasi memakan chips (pexels.com/kaboompics)

Tanda lain yang cukup sering ditemukan adalah bertambahnya ruang kosong di dalam kemasan. Dari luar, ukuran kemasan tampak tidak berubah sehingga konsumen mengira isi produk tetap sama seperti sebelumnya. Namun ketika dibuka, ternyata sebagian ruang dalam kemasan tidak terisi produk secara penuh.

Praktik ini sering menimbulkan kesan konsumen mendapatkan lebih banyak produk daripada yang sebenarnya. Walaupun ruang kosong pada kemasan kadang dibutuhkan untuk melindungi produk selama distribusi, peningkatan ruang kosong yang berlebihan dapat menjadi salah satu indikasi shrinkflation. Karena itu, melihat informasi berat bersih sering kali lebih penting daripada hanya mengandalkan ukuran kemasan.

4. Kualitas atau komposisi produk mengalami perubahan

Ilustrasi membaca label makanan (pexels.com/Laura James)

Shrinkflation tidak selalu berkaitan dengan ukuran atau jumlah produk. Dalam beberapa situasi, perusahaan memilih mengganti sebagian bahan dengan alternatif yang lebih murah untuk mengendalikan biaya produksi. Perubahan tersebut dapat memengaruhi kualitas, rasa, tekstur, atau daya tahan produk tanpa mengubah harga jual secara signifikan.

Bagi konsumen, perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat pada pandangan pertama. Namun setelah digunakan atau dikonsumsi, perbedaan kualitas sering mulai terasa. Meski produk masih memiliki fungsi yang sama, nilai yang diterima konsumen dapat berkurang dibanding sebelumnya. Karena itu, perubahan komposisi juga sering dianggap sebagai bentuk penyesuaian biaya yang mirip dengan shrinkflation.

5. Harga tetap tetapi nilai yang diterima berkurang

ilustrasi membeli barang (pexels.com/energepic)

Pada dasarnya, inti dari shrinkflation adalah berkurangnya nilai yang diterima konsumen tanpa adanya kenaikan harga yang jelas. Kondisi ini membuat harga terlihat stabil meskipun jumlah produk yang diperoleh sebenarnya lebih sedikit. Akibatnya, biaya per gram atau biaya per unit produk justru meningkat tanpa disadari.

Fenomena ini semakin sering muncul ketika biaya produksi, bahan baku, energi, atau distribusi mengalami kenaikan. Dibanding menaikkan harga secara langsung, sebagian perusahaan memilih mengurangi isi produk agar tetap menarik bagi konsumen. Oleh sebab itu, membandingkan ukuran, berat, dan jumlah isi produk dari waktu ke waktu menjadi salah satu cara untuk mengenali adanya shrinkflation.

Shrinkflation merupakan fenomena yang cukup umum terjadi ketika perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi. Beberapa tanda di atas menunjukan nilai yang diterima konsumen tidak lagi sama seperti sebelumnya. Dengan lebih teliti memperhatikan informasi pada kemasan, kita dapat memahami perubahan tersebut dan membuat keputusan belanja yang lebih bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article