- Mengurangi risiko kerugian
Kenapa Tidak Boleh Taruh Semua Uang di Satu Instrumen Investasi?

Ada sejumlah alasan yang menjadikan investor tidak boleh menaruh semua uangnya di satu instrumen investasi saja.
Menaruh seluruh dana pada satu instrumen meningkatkan risiko kerugian besar saat nilainya turun, sedangkan diversifikasi membantu membatasi dampak penurunan satu aset.
Diversifikasi investasi juga membantu menghadapi perubahan ekonomi, perbedaan siklus dan likuiditas instrumen, sekaligus mengurangi dampak keputusan investasi yang keliru pada seluruh portofolio.
Sebagian orang mungkin pernah mendengar peribahasa, "jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama." Kalimat itu mengajarkan agar kita tidak boleh bergantung pada satu pilihan saja karena bisa meningkatkan risiko kerugian di kemudian hari. Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia investasi.
Saat ini, tak sedikit orang yang memilih menempatkan seluruh uangnya pada satu instrumen investasi karena dinilai paling menguntungkan atau sudah dipahami cara kerjanya. Padahal, setiap instrumen punya risiko dan pergerakan yang berbeda-bedasehingga mengandalkan satu jenis investasi saja bisa meningkatkan risiko kerugian.
Karena itu, banyak ahli menyarankan investor untuk menerapkan diversifikasi, yaitu membagi dana ke beberapa jenis untuk meminimalkan risiko kerugian yang bisa muncul. Lantas, kenapa tidak boleh menaruh semua uang di satu instrumen investasi?
Table of Content
1. Menjaga aset dari risiko kerugian yang lebih besar

ilustrasi investasi (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya) Salah satu alasan tidak disarankan menaruh semua uang di satu instrumen investasi adalah menghindari risiko kerugian yang besar. Misalnya kamu menaruh semua dana untuk saham, ketika harganya anjlok, nilai seluruh investasimu juga bakal turun.
Namun, beda halnya jika investasimu dibagi ke beberapa instrumen berbeda. Dampak penurunan salah satu aset bisa diimbangi oleh profit dari instrumen lainnya.
2. Perbesar peluang agar keuntungan lebih banyak

ilustrasi investasi (unsplash.com/Leeloo The First) Dalam investasi, diversifikasi bisa membantu menyeimbangkan potensi keuntungan dan risiko kerugian. Di satu sisi, kamu tetap bisa berinvestasi pada instrumen yang berisiko tinggi untuk mengejar imbal hasil, tetapi pada saat yang sama memiliki aset lain yang relatif lebih stabil sebagai penyangga ketika pasar sedang bergejolak.
Contoh mudahnya, kamu bisa menempatkan sebagian dana di saham, lalu sebagian lagi di obligasi pemerintah, dan sisanya di emas. Saat saham sedang menguat, kamu dapat memperoleh keuntungan lebih besar. Namun, ketika nilainya turun, instrumen lain tetap bisa membantu menjaga nilai portofolio agar tidak ikut merosot terlalu dalam.
3. Pahami bahwa setiap instrumen punya siklus yang berbeda

ilustrasi investasi emas (pexels.com/Robert Lens) Saat memutuskan untuk berinvestasi, kamu perlu tahu bahwa tidak ada instrumen yang selalu menjanjikan hasil terbaik setiap waktu. Pada intinya, semua punya siklus dan risikonya masing-masing.
Ada kalanya ketika emas mengalami kenaikan tajam, namun ada instrumen lain seperti saham yang justru kinerjanya kurang bagus. Nah, karena memiliki beberapa jenis investasi berbeda, kamu tak perlu panik. Pasalnya, ketika satu instrumen sedang melemah, masih ada sumber investasi lain yang bisa mempertahankan nilai portofoliomu.
4. Kebutuhan keuangan setiap orang berbeda

ilustrasi investasi naik (unsplash.com/Getty images) Investasi sebaiknya juga disesuaikan dengan tujuan keuangan. Misal untuk tabungan membeli rumah dalam lima tahun ke depan atau untuk dana pensiun pada masa senja.
Mengingat target investasinya berbeda, kamu tidak boleh hanya menggunakan satu instrumen investasi saja. Sebagai contoh, dana jangka pendek dapat ditempatkan pada instrumen yang relatif stabil seperti reksadana pasar uang, sementara dana jangka panjang bisa dialokasikan ke aset dengan potensi imbal hasil yang lebih tinggi seperti emas.
5. Kondisi ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu

ilustrasi investasi saham (unsplash.com/Anne Nygård) Layaknya hal lain dalam hidup, pasar investasi juga tidak bisa diduga ke depannya. Inflasi, kenaikan suku bunga, pelemahan nilai tukar hingga gejolak ekonomi global bisa memengaruhi setiap instrumen investasimu dengan cara yang berbeda.
Misalnya saat suku bunga naik, harga obligasi dapat tertekan. Di sisi lain, deposito juga menawarkan bunga yang lebih menarik. Begitu pula ketika kondisi ekonomi tidak menentu, emas sering dianggap sebagai aset yang aman untuk dipilih. Intinya membagi portofolio investasi akan membantu menghadapi berbagai kemungkinan tak terduga pada masa depan.
6. Meminimalisir keputusan yang keliru

ilustrasi investasi (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Dalam investasi, terkadang ada sebagian orang yang kurang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Karena hanya ikut-ikutan tren di media sosial, mereka bisa saja salah memilih aset atau salah membaca kondisi pasar.
Saat seluruh dana hanya ditempatkan pada satu investasi yang ternyata berkinerja buruk, dampaknya tentu bakal lebih besar. Sebaliknya, ketika uangmu tersebar di beberapa instrumen berbeda, kesalahan pada satu aset tidak langsung mengganggu nilai portofolio secara keseluruhan.
7. Likuiditas setiap instrumen tidak sama

ilustrasi investasi (unsplash.com/Precondo CA) Seperti diketahui, setiap instrumen dalam investasi punya karakteristik berbeda. Sebagian mungkin mudah dicairkan kapan saja, tetapi ada pula yang butuh waktu lebih lama.
Jika seluruh investasimu ditempatkan untuk instrumen yang kurang likuid, kamu bisa kesulitan memperoleh dana ketika membutuhkan uang mendadak. Sebaliknya, ketika menyebarkan investasi di beberapa instrumen berbeda, kamu tetap memiliki aset yang mudah dicairkan tanpa harus menjual seluruh portofolio.
Apa manfaat diversifikasi dalam investasi?

ilustrasi investasi (pexels.com/Hanna Pad) Diversifikasi investasi bisa diartikan sebagai strategi untuk membagi dana investasi ke berbagai instrumen atau aset berbeda dengan tujuan mengurangi risiko kerugian. Berikut sejumlah manfaatnya.
Salah satu manfaat utama diversifikasi aset adalah meminimalisir kerugian yang mungkin timbul di kemudian hari. Dengan diversifikasi, kerugian pada satu instrumen tidak akan langsung berdampak pada seluruh dana karena asetnya tersebar di beberapa tempat berbeda.
- Jaga kestabilan portofolio
Saat salah satu instrumen investasimu anjlok, instrumen lainnya masih menahan atau bahkan mengimbangi penurunannya dengan profit. Maka, nilai portofolio keseluruhannya tidak terlalu berfluktuasi.
- Buka peluang keuntungan dari banyak aset
Setiap instrumen investasi punya potensi keuntungan yang berbeda-beda. Dengan diversifikasi, kamu memiliki peluang memperoleh imbal hasil lebih dari satu jenis investasi.
- Membantu menghadapi perubahan kondisi pasar
Kondisi ekonomi global dan pasar investasi tidak selalu sama. Lewat strategi diversifikasi, portofolio milikmu bakal lebih siap menghadapi gejolak, baik itu perubahan suku bunga, inflasi, dan lainnya.
- Kurangi tekanan emosional saat berinvestasi
Karena asetnya lebih tersebar, investor tidak mudah panik ketika salah satu investasinya mengalami penurunan nilai. Alhasil, keputusan selanjutnya bisa diambil dengan lebih rasional.
Itulah tadi ulasan untuk menjawab kenapa tidak boleh menaruh semua uang di satu instrumen investasi. Semoga informasinya, ya.





















