Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspada Bahaya FOMO Investasi: Pahami Ciri dan Cara Mencegahnya

Waspada Bahaya FOMO Investasi: Pahami Ciri dan Cara Mencegahnya
ilustrasi investasi, krisis, risiko, saham (magnific.com/tirachardz)
  • FOMO investasi terjadi saat seseorang membeli aset karena takut ketinggalan tren atau keuntungan orang lain, tanpa cukup mempertimbangkan nilai aset dan risiko.
  • Ciri FOMO meliputi mengejar kenaikan harga, meniru keputusan investor lain, mengubah strategi, sulit menjelaskan alasan membeli, serta mengabaikan batas risiko.
  • Pencegahan FOMO dapat dilakukan dengan memberi jeda 24–48 jam, mencatat alasan dan risiko, serta menyesuaikan keputusan dengan tujuan dan kemampuan finansial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Investasi memang bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan uang dan mencapai tujuan keuangan di masa depan. Namun, keputusan investasi bisa berubah menjadi masalah ketika kamu mulai membeli aset hanya karena takut ketinggalan keuntungan orang lain. Kondisi ini dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO, apalagi ketika media sosial terus memperlihatkan cerita orang yang berhasil mendapatkan cuan dari aset tertentu.

Rasa takut tertinggal bisa membuatmu terburu-buru mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan kondisi aset dan risiko yang mungkin muncul. Karena itu, penting bagi kamu mengenali ciri FOMO investasi supaya gak gampang terbawa tren.

  1. 1. Membeli aset karena harganya terus naik

    ilustrasi investasi saham
    ilustrasi investasi saham (freepik.com/freepik)

    Salah satu ciri FOMO investasi adalah membeli aset karena melihat harganya terus meningkat. Kamu mungkin merasa kalau gak segera membeli sekarang, kesempatan mendapatkan keuntungan bakal hilang. Padahal, kenaikan harga di masa lalu gak otomatis berarti aset tersebut akan terus naik pada masa mendatang, lho. Kalau harga menjadi alasan utama tanpa dibarengi pertimbangan mengenai nilai dan risiko, keputusanmu bisa lebih dipengaruhi tren daripada analisis.

    Menurut penelitian dalam International Journal of Emerging Markets, keputusan investor ritel dipengaruhi oleh herd behavior, loss aversion, dan FOMO. Penelitian terhadap 323 investor ritel di pasar saham India tersebut juga menemukan bahwa FOMO berperan sebagai mediator dalam hubungan antara perilaku ikut-ikutan dan keputusan investasi. Artinya, melihat banyak orang membeli aset tertentu bisa membuatmu semakin terdorong untuk ikut masuk meski belum benar-benar memahami investasinya.

  2. 2. Merasa harus mengejar keuntungan orang lain

    ilustrasi crypto bitcoin
    ilustrasi crypto bitcoin (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

    FOMO juga bisa muncul ketika kamu merasa tertinggal setelah melihat orang lain mendapatkan keuntungan besar. Misalnya, teman mengunggah keuntungan dari saham atau aset kripto, lalu kamu mulai berpikir harus mendapatkan hasil yang sama secepat mungkin.

    Perasaan tersebut bisa menciptakan dorongan untuk menginvestasikan uang dalam jumlah lebih besar dari rencana awal. Masalahnya, kamu hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui kapan mereka membeli, berapa besar modalnya, dan risiko apa yang mereka tanggung.

    Penelitian dalam International Journal of Financial Studies terhadap 727 investor emas di Vietnam menunjukkan bahwa FOMO memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap keputusan investasi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa herd behavior dan loss aversion dapat meningkatkan FOMO sehingga mendorong keputusan investasi yang lebih terburu-buru dan kurang dipertimbangkan. Jadi, keinginan mengejar keuntungan orang lain bukan cuma membuatmu tergesa-gesa, tapi juga bisa mengubah cara kamu menilai risiko.

  3. 3. Mengubah strategi investasi demi mengikuti tren

    ilustrasi investasi
    ilustrasi investasi (pexels.com/RDNE Stock project)

    Ciri berikutnya adalah ketika kamu mulai meninggalkan strategi investasi yang sudah dibuat hanya karena ada aset yang sedang ramai. Portofolio yang sebelumnya disesuaikan dengan tujuan dan toleransi risikomu tiba-tiba diubah karena melihat aset tertentu sedang naik.

    Kamu bahkan bisa memindahkan dana dalam jumlah besar ke sektor yang sedang populer tanpa menghitung apakah keputusan tersebut masih sesuai dengan kondisi keuanganmu. Kalau hal ini terjadi, strategi investasi akhirnya berubah menjadi sekadar mengikuti cerita yang sedang ramai.

    Menurut penelitian dalam International Journal of Emerging Markets, perilaku ikut-ikutan memiliki hubungan signifikan dengan keputusan investasi dan FOMO ikut memainkan peran dalam hubungan tersebut. Kondisi ini menunjukkan kenapa kamu perlu berhati-hati ketika melihat banyak orang mengambil keputusan yang sama. Banyaknya orang yang membeli sebuah aset bukan berarti investasi tersebut otomatis cocok dengan tujuan, jangka waktu, atau kemampuan menanggung risiko yang kamu punya, ya.

  4. 4. Gak bisa menjelaskan alasan membeli dengan jelas

    ilustrasi bingung, berpikir
    ilustrasi bingung, berpikir (magnific.com/benzoix)

    Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, “Kenapa aku membeli aset ini?” Kalau jawabanmu hanya karena sedang viral, banyak orang membelinya, atau katanya bakal naik tinggi, kamu perlu berhenti sejenak.

    Keputusan investasi seharusnya punya alasan yang bisa kamu pahami dan jelaskan dengan sederhana. Ketika kamu lebih banyak mengandalkan pendapat orang lain daripada memahami alasan investasinya, kemungkinan kamu sedang mengambil keputusan karena FOMO semakin besar.

    Penelitian dalam International Journal of Financial Studies juga menemukan bahwa FOMO berperan penting dalam keputusan investasi dan dapat mendorong tindakan yang relatif terburu-buru. Karena itu sebelum membeli, kamu bisa mencoba menuliskan alasan investasi tersebut secara singkat, termasuk potensi keuntungan dan risikonya. Kalau setelah ditulis kamu sendiri kesulitan menemukan alasan yang masuk akal selain “takut ketinggalan”, sebaiknya jangan terburu-buru melakukan transaksi.

  5. 5. Mengabaikan risiko dan gak punya aturan yang jelas

    ilustrasi investasi (pexels.com/Liza Summer)
    ilustrasi investasi (pexels.com/Liza Summer)

    FOMO sering membuat perhatianmu hanya tertuju pada peluang mendapatkan keuntungan. Kamu sibuk membayangkan harga akan naik, tapi lupa mempertimbangkan kemungkinan harga turun dan seberapa besar kerugian yang sanggup kamu terima.

    Dalam kondisi seperti ini, keputusan investasi menjadi lebih emosional karena dorongan untuk mendapatkan keuntungan terasa lebih kuat daripada keinginan untuk melindungi modal. Padahal, memahami risiko merupakan bagian penting sebelum kamu memasukkan uang ke sebuah aset.

    Untuk mencegahnya, kamu bisa memberi jeda sekitar 24–48 jam sebelum membeli aset yang sedang ramai dibicarakan. Gunakan waktu tersebut untuk menuliskan alasan membeli, jumlah dana yang akan digunakan, risiko yang siap kamu tanggung, serta aturan kapan investasi perlu dievaluasi kembali. Temuan dalam International Journal of Financial Studies menunjukkan bahwa pesan yang menekankan keputusan mandiri dan peringatan risiko dapat berperan dalam memoderasi pengaruh FOMO terhadap keputusan investasi. Jadi, membiasakan diri mengambil keputusan secara mandiri dan mengingatkan diri tentang risiko bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi dorongan FOMO.

    FOMO investasi bukan sekadar rasa iri melihat orang lain mendapatkan keuntungan lebih dulu. Perasaan takut tertinggal bisa membuatmu mengikuti tren, mengubah strategi secara impulsif, bahkan memasukkan dana lebih besar daripada rencana awal.

    Penelitian terhadap investor di India dan Vietnam sama-sama menunjukkan adanya hubungan antara FOMO, perilaku ikut-ikutan, dan keputusan investasi. Karena itu, jangan jadikan keuntungan orang lain sebagai patokan utama, ya, dan pastikan setiap keputusan investasi tetap berdasarkan tujuan, kemampuan finansial, serta risiko yang sanggup kamu tanggung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More