GMF Aero Asia Cetak Laba Bersih Rp570 Miliar, Tumbuh 26,3 Persen

- GMF Aero Asia mencatat pendapatan 491,9 juta dolar AS dan laba bersih Rp570 miliar pada 2025, tumbuh masing-masing 16,8 persen dan 26,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
- Perusahaan memperluas bisnis dengan reaktivasi pesawat Garuda Group, kerja sama pertahanan dengan Dassault Aviation, serta pembangunan Kertajati Aerospace Park untuk memperkuat kapabilitas industri penerbangan.
- Aset GMF naik 91,5 persen menjadi Rp13,6 triliun dan ekuitas berbalik positif; perusahaan menargetkan laba Rp621 miliar pada 2026 seiring peningkatan pendapatan hingga Rp9,61 triliun.
Jakarta, IDN Times - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) membukukan pendapatan usaha sebesar 491,9 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp8,25 triliun sepanjang 2025, tumbuh 16,8 persen secara year on year (yoy).
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan usaha, perusahaan membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS atau setara Rp570 miliar, tumbuh 26,3 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 26,9 juta dolar AS atau setara Rp451 miliar.
Hal itu disampaikan Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 secara daring, Jumat (21/5/2026).
“Tahun 2025 menjadi momentum pembuktian GMF dalam mengeksekusi berbagai langkah transformasi dan aksi korporasi strategis secara agresif sekaligus terukur. Pencapaian positif ini tentu tidak akan terwujud tanpa fundamental operasional yang semakin solid,” kata Andi.
1. GMF selesaikan reaktivasi 15 pesawat grup Garuda Indonesia

Sepanjang 2025, GMF Aero Asia membukukan pendapatan dari segmen non-group-afiliasi 141,3 juta dolar AS atau setara Rp2,37 triliun. Capaian itu mencapai 28,7 persen dari total pendapatan. Pada sektor perawatan pesawat komersial, GMFI berhasil mempertahankan kepercayaan existing customer seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific, sekaligus memperluas basis customer baru seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.
Sepanjang 2025, GMFI juga telah menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia.
Pada sektor pertahanan, GMFI menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737-800. Perseroan memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation dalam implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.
Lini bisnis non-commercial aircraft, khususnya SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services, turut mencatatkan pertumbuhan positif dengan capaian pendapatan sebesar 36,7 juta dolar AS (Rp617 miliar), atau tumbuh 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi pengembangan kapabilitas dan ekspansi bisnis, GMFI telah melakukan groundbreaking Kertajati Aerospace Park bersama Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) serta dimulainya kerja sama dengan Pelita Air dalam pemanfaatan hanggar milik Pelita Air Service di Bandar Udara Pondok Cabe untuk layanan perawatan pesawat tipe propeller.
Perseroan juga telah menyelesaikan pembangunan hangar door di Hanggar 1 guna memperkuat kapasitas operasional yang selaras dengan standar internasional, khususnya European Union Aviation Safety Agency (EASA).
2. Aset tumbuh 91,5 persen

Lebih lanjut, kinerja Perseroan juga meningkat dari sisi neraca dengan total aset melesat menjadi 813 juta dolar AS (Rp13,6 triliun) atau tumbuh 91,5 persen dari tahun sebelumnya. Struktur permodalan juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan ekuitas berbalik dari yang sebelumnya negatif sebesar 257,9 juta dolar AS (-Rp4,33 triliun), menjadi positif sebesar 114,6 juta dolar AS (Rp1,92 triliun).
“Kami telah bertumbuh secara signifikan dan berkelanjutan. Dengan kapabilitas semakin kuat dan adaptif, GMFI akan terus membuka peluang baru untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun global,” ujar Andi.
3. Bidik laba Rp621 miliar tahun ini

Hingga kuartal I-2026, perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar 114,94 juta dolar AS atau setara Rp1,95 triliun (kurs Rp16.999 per dolar AS pada 31 Maret 2026), dan laba berjalab 6,76 juta dolar AS atau setara Rp114,91 miliar.
Di sepanjang 2026, perusahaan menargetkan pendapatan tahunan bisa mencapai 542,8 juta dolar AS atau sekitar Rp9,61 triliun, dan laba bersih 35,1 juta dolar AS atau sekitar Rp621,87 miliar.


















