Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Airlangga: Iran-AS Damai, Belum Otomatis Turunkan Harga BBM Nonsubsidi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Airlangga Hartarto menegaskan perdamaian Iran-AS belum otomatis menurunkan harga BBM nonsubsidi di Indonesia karena pemerintah masih menunggu implementasi penuh kesepakatan damai.
  • Pemerintah akan mencermati kondisi Selat Hormuz sebagai faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan stabilitas pasokan energi global.
  • Meski tensi geopolitik mereda, penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru dipertimbangkan setelah dampak nyata perdamaian terhadap pasokan dan harga minyak terlihat jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Airlangga bilang Iran dan Amerika sekarang mau damai, tapi harga bensin belum tentu turun cepat. Pemerintah masih mau lihat dulu apakah damainya benar jalan. Katanya laut di Selat Hormuz juga penting buat kapal minyak lewat. Jadi semua orang masih tunggu dulu sebelum harga bensin bisa berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat belum otomatis diikuti penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri.

Menurut Airlangga, pemerintah masih menunggu realisasi dan implementasi penuh dari kesepakatan perdamaian yang sedang diupayakan. Selain itu, perkembangan kondisi di Selat Hormuz juga menjadi faktor penting yang akan memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

"Ya pertama kan penandatanganan harapannya besok betul-betul bisa dilaksanakan. Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga (energi) lagi," ujar Airlangga, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, dampak perdamaian terhadap harga energi tidak terjadi secara langsung. Pemerintah masih akan mencermati pelaksanaan perjanjian damai tersebut, sebelum melihat kemungkinan penyesuaian harga.

"Ini kan tidak otomatis, kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian," katanya.

Normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan menjadi salah satu indikator utama bagi pasar energi global. Sebab, jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute strategis perdagangan minyak dunia.

Sebelumnya, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, dan mendorong kenaikan harga minyak mentah. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi memengaruhi harga energi di dalam negeri.

Meski tensi geopolitik mulai mereda, pemerintah masih menunggu perkembangan lebih lanjut, terkait implementasi kesepakatan perdamaian dan dampaknya terhadap stabilitas pasokan minyak dunia sebelum melihat peluang penurunan harga BBM nonsubsidi.

Editorial Team

Related Article