Ilustrasi cicilan KPR (pexels.com/Atlantic Ambience)
Seseorang dapat disebut house poor ketika biaya rumah menyerap porsi sangat besar dari anggaran bulanannya. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai hal.
Dalam beberapa kasus, pembeli rumah tidak memperhitungkan seluruh biaya yang muncul setelah memiliki hunian. Kondisi keuangan juga bisa berubah ketika pendapatan menurun atau hilang.
Kepemilikan rumah memang menjadi bagian dari impian banyak orang. Membayar cicilan untuk memiliki aset properti juga bisa menjadi investasi dalam jangka panjang.
Namun, kondisi keuangan dapat berubah ketika muncul masalah yang tidak terduga. Biaya rumah yang awalnya masih terjangkau bisa menjadi beban ketika pendapatan berkurang atau ada pengeluaran baru.
Karena itu, calon pembeli rumah perlu menyesuaikan harga rumah dengan kemampuan keuangan. Beberapa panduan yang bisa dipertimbangkan antara lain:
Batas harga berdasarkan gaji: Salah satu perkiraan yang digunakan adalah membeli rumah dengan harga sekitar 2,5 kali total gaji kotor tahunan. Angka tersebut bisa berbeda, terutama di wilayah dengan harga rumah yang lebih tinggi. Perkiraan kenaikan pendapatan pada masa depan juga sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kemampuan membeli rumah karena pendapatan bisa berubah.
Front-end DTI: Besarnya uang muka, suku bunga KPR, pajak properti, dan biaya lain perlu diperhitungkan. Salah satu cara mengukurnya adalah melalui rasio utang terhadap pendapatan atau debt-to-income ratio (DTI). Untuk biaya perumahan, perhitungan ini disebut front-end DTI. Panduan yang digunakan adalah biaya perumahan sebaiknya tidak lebih dari 28 persen dari pendapatan kotor bulanan.
Pilih KPR yang sesuai: Skema KPR juga perlu diperhatikan. Jika ingin menghindari perubahan pembayaran akibat suku bunga yang naik, peminjam dapat memilih KPR dengan suku bunga tetap atau fixed rate.
Siapkan dana darurat: Sebagian pendapatan perlu disisihkan untuk menghadapi kondisi tak terduga, seperti biaya perawatan rumah atau perubahan kondisi keuangan.