Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu House Poor? Kondisi Saat Rumah Bikin Keuangan Seret

Apa Itu House Poor? Kondisi Saat Rumah Bikin Keuangan Seret
ilustrasi pinjaman, skor kredit, utang, kredit rumah, KPR (magnific.com/jcomp)
  • House poor terjadi saat biaya rumah menyerap sebagian besar pendapatan, sehingga dana untuk kebutuhan lain menjadi terbatas.
  • Biaya perumahan dan utang lain dapat dihitung melalui front-end DTI serta back-end DTI.
  • Saat kondisi keuangan berubah, pengeluaran diskresi, pekerjaan tambahan, tabungan, atau penjualan rumah dapat dipertimbangkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - House poor adalah istilah untuk menggambarkan kondisi ketika sebagian besar pendapatan seseorang habis untuk biaya rumah. Pengeluaran itu mencakup kredit pemilikan rumah (KPR), pajak properti, biaya perawatan, hingga utilitas seperti listrik dan air.

Dilansir Investopedia, kondisi tersebut membuat uang yang tersisa untuk kebutuhan lain, termasuk hiburan dan pengeluaran tambahan, menjadi terbatas. Seseorang juga bisa kesulitan memenuhi kewajiban keuangan lain, seperti cicilan kendaraan.

House poor juga dikenal dengan istilah house rich, cash poor, yang menggambarkan seseorang yang memiliki aset rumah, tetapi kekurangan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  1. 1. Biaya rumah terlalu besar bisa bikin keuangan tertekan

    Cicilan KPR
    Ilustrasi cicilan KPR (pexels.com/Atlantic Ambience)

    Seseorang dapat disebut house poor ketika biaya rumah menyerap porsi sangat besar dari anggaran bulanannya. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai hal.

    Dalam beberapa kasus, pembeli rumah tidak memperhitungkan seluruh biaya yang muncul setelah memiliki hunian. Kondisi keuangan juga bisa berubah ketika pendapatan menurun atau hilang.

    Kepemilikan rumah memang menjadi bagian dari impian banyak orang. Membayar cicilan untuk memiliki aset properti juga bisa menjadi investasi dalam jangka panjang.

    Namun, kondisi keuangan dapat berubah ketika muncul masalah yang tidak terduga. Biaya rumah yang awalnya masih terjangkau bisa menjadi beban ketika pendapatan berkurang atau ada pengeluaran baru.

    Karena itu, calon pembeli rumah perlu menyesuaikan harga rumah dengan kemampuan keuangan. Beberapa panduan yang bisa dipertimbangkan antara lain:

    Batas harga berdasarkan gaji: Salah satu perkiraan yang digunakan adalah membeli rumah dengan harga sekitar 2,5 kali total gaji kotor tahunan. Angka tersebut bisa berbeda, terutama di wilayah dengan harga rumah yang lebih tinggi. Perkiraan kenaikan pendapatan pada masa depan juga sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kemampuan membeli rumah karena pendapatan bisa berubah.

    Front-end DTI: Besarnya uang muka, suku bunga KPR, pajak properti, dan biaya lain perlu diperhitungkan. Salah satu cara mengukurnya adalah melalui rasio utang terhadap pendapatan atau debt-to-income ratio (DTI). Untuk biaya perumahan, perhitungan ini disebut front-end DTI. Panduan yang digunakan adalah biaya perumahan sebaiknya tidak lebih dari 28 persen dari pendapatan kotor bulanan.

    Pilih KPR yang sesuai: Skema KPR juga perlu diperhatikan. Jika ingin menghindari perubahan pembayaran akibat suku bunga yang naik, peminjam dapat memilih KPR dengan suku bunga tetap atau fixed rate.

    Siapkan dana darurat: Sebagian pendapatan perlu disisihkan untuk menghadapi kondisi tak terduga, seperti biaya perawatan rumah atau perubahan kondisi keuangan.

  2. 2. Jangan lupa hitung utang lain lewat back-end DTI

    Cicilan
    ilustrasi cicilan (magnific.com/rawpixel.com)

    Batas 28 persen tidak hanya menjadi satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pemilik rumah juga perlu menghitung kewajiban utang lainnya.

    Ketika biaya perumahan digabung dengan utang lain, seperti cicilan kendaraan, totalnya sebaiknya tidak lebih dari 36 persen dari pendapatan kotor bulanan. Perhitungan ini disebut back-end DTI.

    Jika pengeluaran untuk rumah sudah jauh melewati batas front-end DTI, ditambah utang lain yang membuat back-end DTI ikut meningkat, seseorang berisiko berada dalam kondisi house poor.

  3. 3. Apa yang bisa dilakukan saat sudah house poor?

    ilustrasi berpikir, merenung, pengguna kacamata, smart
    ilustrasi berpikir, merenung, pengguna kacamata, smart (magnific.com/stockking)

    Kondisi keuangan rumah tangga dapat berubah karena hal yang tidak terduga. Kehilangan pekerjaan atau kelahiran anak, misalnya, dapat mengubah kebutuhan dan pengeluaran rumah tangga. Akibatnya, pembayaran biaya rumah dan cicilan KPR bisa menjadi sulit dikelola.

    Ada beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan ketika hal tersebut terjadi.

    Mengurangi pengeluaran diskresi: Langkah pertama adalah melihat kembali anggaran dan memangkas pengeluaran yang bukan kebutuhan utama. Membatalkan rencana liburan atau mengganti kendaraan dengan mobil yang cicilannya lebih rendah dapat mengurangi beban pengeluaran.

    Mengambil pekerjaan tambahan: Ketika pengeluaran sudah melebihi kemampuan anggaran, pekerjaan kedua atau pekerjaan sampingan dapat menjadi pilihan untuk menambah pendapatan dan membantu membayar biaya rumah.

    Menggunakan tabungan: Pembeli rumah idealnya memiliki tabungan khusus untuk kebutuhan yang tidak terduga. Menyisihkan uang secara rutin untuk biaya perawatan dan perbaikan rumah dapat membantu ketika terjadi masalah keuangan.

    Menjual rumah: Jika pilihan lain tidak memungkinkan, menjual rumah juga dapat menjadi opsi. Pemilik dapat pindah ke hunian di lingkungan yang lebih terjangkau atau menyewa tempat dengan biaya bulanan yang lebih rendah.

    Meski bukan pilihan yang diinginkan, menjual rumah dapat memberikan dana yang dibutuhkan dan membuka kesempatan untuk kembali menabung sebelum membeli rumah lagi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More