Ilustrasi project manager (pexels.com/Pixabay)
Setiap proyek memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang sudah mempunyai persyaratan lengkap sejak awal, tetapi ada juga yang membutuhkan banyak penyesuaian selama proses pengerjaan. Karena itu, pemilihan pendekatan project management perlu mempertimbangkan karakter proyek. Berikut beberapa metode yang umum digunakan dalam project management!
1. Waterfall: Tahapan berurutan dengan perencanaan matang
Waterfall merupakan pendekatan pengelolaan proyek yang menjalankan pekerjaan melalui tahapan berurutan. Sebelum masuk ke tahap berikutnya, pekerjaan pada tahap sebelumnya umumnya perlu diselesaikan dan mendapatkan persetujuan.
Dalam pengembangan website, alurnya bisa berupa:
Requirements → Design → Development → Testing → Deployment
Misalnya, tim kedai kopi sudah menyepakati seluruh fitur website sejak awal, mulai dari katalog produk sampai sistem pemesanan. Tim kemudian menyelesaikan desain terlebih dahulu sebelum melanjutkan pengembangan dan pengujian.
Keunggulan Waterfall adalah jadwal, dokumentasi, serta ruang lingkup pekerjaan dapat direncanakan secara lebih terstruktur. Cocok digunakan ketika kebutuhan proyek relatif stabil, misalnya proyek konstruksi atau pekerjaan dengan spesifikasi dan persetujuan yang ketat.
Namun, kekurangannya adalah perubahan besar di tengah pengerjaan bisa menjadi mahal dan memakan waktu karena memengaruhi tahapan berikutnya.
2. Agile: Fleksibel dan mengutamakan feedback
Berbeda dari Waterfall, Agile merupakan pendekatan yang mengutamakan kolaborasi, pengembangan bertahap, dan kemampuan beradaptasi ketika kebutuhan berubah. Dalam Agile, tim tidak harus menunggu seluruh produk selesai untuk mendapatkan feedback. Sebaliknya, pekerjaan dapat dibagi menjadi bagian kecil yang bisa diuji dan dievaluasi.
Misalnya, tim website kedai kopi lebih dulu menyelesaikan katalog menu yang dapat digunakan. Setelah pemilik bisnis mencoba fitur tersebut, ternyata customer juga membutuhkan pilihan jadwal pengambilan pesanan. Nah, tim bisa mengevaluasi masukan tersebut dan memasukkannya ke prioritas pengembangan berikutnya.
Agile cocok digunakan ketika kebutuhan produk masih berkembang, terutama dalam pengembangan software dan layanan digital. Keunggulannya terletak pada fleksibilitas dan kesempatan mendapatkan feedback lebih awal. Namun, Agile tetap membutuhkan perencanaan dan pengendalian prioritas agar proyek tidak kehilangan arah.
Scrum, salah satu framework populer dalam agile
Agile bukan satu metode tunggal yang memiliki aturan kerja seragam. Ada berbagai framework yang bisa digunakan untuk menerapkan prinsipnya, salah satunya Scrum. Scrum mengatur pekerjaan dalam periode singkat yang disebut Sprint, dengan tujuan menghasilkan perkembangan produk yang dapat dievaluasi secara berkala.
Misalnya, tim pengembang menetapkan Sprint selama dua minggu untuk menyelesaikan fitur katalog website sebelum melanjutkan prioritas berikutnya. Scrum memiliki pembagian tanggung jawab, aktivitas, dan artefak khusus yang akan dibahas pada Sub 5.
3. Metode lain yang tidak kalah menarik
Selain Waterfall dan Agile Scrum, ada pendekatan serta teknik lain yang layak kamu kenali.
Kanban: Mengelola alur kerja melalui papan visual seperti To Do, In Progress, dan Done. Kanban juga membatasi jumlah pekerjaan yang sedang berjalan atau Work in Progress (WIP), agar tim tidak menumpuk terlalu banyak tugas sekaligus. Cocok untuk tim yang menerima pekerjaan secara berkelanjutan, seperti desain atau pengelolaan konten.
Lean: Berfokus mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Misalnya, menyederhanakan proses persetujuan yang berlapis agar tim tidak membuang waktu menunggu keputusan.
Hybrid: Menggabungkan pendekatan prediktif seperti Waterfall dengan praktik Agile. Misalnya, anggaran dan jadwal peluncuran website ditetapkan sejak awal, tetapi pengembangan fiturnya dilakukan secara bertahap.
Critical Path Method (CPM): Teknik penjadwalan untuk menemukan rangkaian aktivitas yang menentukan durasi minimum proyek. Jika aktivitas pada jalur kritis terlambat, penyelesaian proyek juga bisa ikut mundur.
Perlu dicatat, keempat istilah tersebut tidak berada pada kategori yang sepenuhnya sama. Kanban merupakan metode pengelolaan alur kerja, Lean adalah pendekatan peningkatan efisiensi, Hybrid menggabungkan pendekatan, sedangkan CPM merupakan teknik penjadwalan.
Jadi, metode terbaik bukan yang paling populer, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan, tingkat ketidakpastian, dan kemampuan tim.