LPEM FEB UI Proyeksikan Ekonomi Tumbuh 5,28 Persen di Kuartal III

- LPEM FEB UI memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,28 persen secara tahunan pada kuartal III 2026, dengan rentang estimasi 5,25-5,30 persen.
- Konsumsi rumah tangga melambat, terlihat dari turunnya keyakinan konsumen dan pertumbuhan kredit konsumsi menjadi 5,22 persen, terutama pada kelompok berpengeluaran rendah.
- Investasi dan belanja pemerintah menjadi penopang pertumbuhan; kredit investasi naik 23,2 persen, meski penerimaan fiskal masih ditopang sumber tidak berulang dan ekspor neto terbatas.
Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, proyeksi tersebut didasarkan pada perkembangan sejumlah indikator ekonomi, mulai dari konsumsi rumah tangga, kebijakan fiskal, perdagangan luar negeri, investasi, hingga kondisi pasar keuangan.
"Kami mengestimasi tingkat pertumbuhan PDB resmi untuk Triwulan III-2026 sebesar 5,28 persen (yoy), dengan rentang estimasi 5,25 persen hingga 5,30 persen," ungkap Riefky dalam laporan Indonesia Economic Outlook 2027 di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
1. Konsumsi rumah tangga tunjukkan indikator perlambatan

(Ilustrasi pertumbuhan ekonomi) IDN Times/Arief Rahmat Riefky menjelaskan, dari sisi konsumsi rumah tangga, sejumlah indikator menunjukkan adanya perlambatan. Hal ini tercermin dari indeks keyakinan konsumen (IKK) yang rata-rata tercatat 117,8 pada kuartal III 2026.
Angka tersebut turun 2,8 poin dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 120,6 dan lebih rendah 7,2 poin dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 125.
Pelemahan keyakinan konsumen terutama terjadi pada kelompok rumah tangga berpengeluaran rendah. Rata-rata IKK kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta turun 4,7 poin menjadi 107,4. Sementara itu, IKK kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta-Rp 3 juta melemah 4,8 poin menjadi 111,1 dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Tekanan konsumsi rumah tangga juga tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang melambat menjadi 5,22 persen pada kuartal III 2026, dari 5,92 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini mengindikasikan permintaan pembiayaan rumah tangga masih tertahan," ungkapnya.
2. Kondisi fiskal per September ikut memberikan pengaruh

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama) Dari sisi fiskal, pendapatan negara pada kuartal III 2026 tumbuh 32,83 persen secara tahunan menjadi Rp882,1 triliun. Namun, peningkatan penerimaan tersebut sebagian ditopang oleh sumber yang bersifat tidak berulang, seperti surplus Bank Indonesia (BI), denda Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), serta kenaikan harga komoditas.
Sementara itu, belanja negara tumbuh 21,18 persen secara tahunan dengan realisasi mencapai Rp1.004,5 triliun pada kuartal III 2026. Dengan demikian, APBN mencatat defisit Rp122,5 triliun pada periode tersebut. Secara kumulatif, defisit hingga September 2026 mencapai Rp 319 triliun.
LPEM FEB UI menilai, peningkatan pendapatan negara belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental fiskal. Pasalnya, penerimaan masih bergantung pada sumber yang tidak berulang dan faktor kenaikan harga komoditas.
Di tengah peningkatan belanja negara, keberlanjutan penerimaan dan keterbatasan ruang fiskal menjadi tantangan bagi pemerintah. Kondisi ini perlu dicermati untuk menjaga kesinambungan dukungan fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Meski konsumsi rumah tangga menunjukkan perlambatan, aktivitas ekonomi masih mendapat dorongan dari belanja pemerintah dan investasi," tulisnya.
3. Investasi dan belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal III

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama) Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III sekitar 5,0 persen secara tahunan, melambat dari 5,29 persen pada kuartal II.
Menurutnya, ekonomi masih resilien, tetapi konsumsi rumah tangga diperkirakan sedikit lebih moderat, sementara kebutuhan impor yang tinggi membatasi kontribusi ekspor neto.
"Indikator konsumsi menunjukkan pemulihan namun masih terbatas dan belum merata," ungkapnya.
Ia merinci, penjualan ritel tumbuh 1,1 persen pada Juli dan 1,3 persen pada Agustus, dengan September diperkirakan 1,4 persen. Sementara itu, indeks kondisi ekonomi saat ini turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September, meskipun masih berada di zona optimistis. Karena itu, kami memperkirakan konsumsi rumah tangga tumbuh melambat.
Investasi dan belanja pemerintah menjadi penopang utama. Kredit investasi September tumbuh 23,2 persemln secara tahunan dan PMI manufaktur berada di level ekspansi 52,4. Belanja negara hingga September juga tumbuh 19 persen. Indikator tersebut mendukung perkiraan kami bahwa investasi dan konsumsi pemerintah tetap tumbuh kuat di kuartal III
"Jadi, perkiraan perlambatan ke sekitar 5,0 persen mencerminkan konsumsi yang lebih tertahan dan kontribusi ekspor neto yang terbatas, sementara investasi dan fiskal tetap menjadi penyangga pertumbuhan," ungkapnya.






















