Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa itu Social Commerce? Ini Caranya Berjualan Lewat Media Sosial
ilustrasi live TikTok (freepik.com/freepik)
  • Social commerce memanfaatkan media sosial untuk menemukan produk, berinteraksi dengan penjual, dan berbelanja melalui konten, fitur katalog, chat, atau tautan transaksi.

  • Perjalanan pembelian biasanya dimulai dari konten, berlanjut ke pencarian ulasan dan informasi, lalu transaksi; pengalaman customer dapat memicu rekomendasi bagi audiens baru.

  • Bisnis perlu memilih platform sesuai target, membuat konten bermanfaat, menjaga stok dan respons, serta mengukur klik, konversi, pesanan, dan penjualan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apa itu social commerce? Pernah sedang asyik scrolling media sosial, lalu tiba-tiba menemukan video produk yang bikin kamu tertarik untuk membelinya?

Awalnya cuma ingin mencari hiburan, tetapi beberapa menit kemudian kamu malah sibuk membaca ulasan, mengecek harga, hingga memasukkan produk ke keranjang belanja.

Nah, kebiasaan seperti inilah yang membuat social commerce semakin relevan dalam dunia bisnis digital. Media sosial kini bukan hanya tempat berbagi foto, menonton video, atau berinteraksi dengan teman, tetapi juga menjadi sarana bagi bisnis untuk memperkenalkan dan menjual produk.

Menariknya, social commerce menggabungkan pengalaman bersosialisasi dengan aktivitas berbelanja. Calon pembeli bisa mengenal suatu produk melalui konten, bertanya langsung kepada penjual, hingga melanjutkan transaksi melalui saluran yang tersedia.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara kerja social commerce dan apa yang membedakannya dari e-commerce biasa? Yuk, kenali lebih jauh!

1. Apa itu Social Commerce?

ilustrasi seller sedang live shop untuk menjual produknya (Pexels.com)

Social commerce adalah aktivitas jual beli produk atau layanan yang memanfaatkan platform media sosial sebagai tempat customer menemukan produk, berinteraksi dengan seller, hingga melakukan pembelian. Sederhananya, social commerce mengubah fungsi media sosial yang awalnya hanya digunakan untuk hiburan dan komunikasi menjadi salah satu channel penjualan bagi bisnis.

Bayangkan kamu sedang asyik scrolling TikTok, lalu menemukan video review produk skincare yang menarik perhatian. Karena penasaran, kamu mulai membaca komentar, mengecek informasi produk, hingga membuka fitur belanja untuk melakukan pembelian.

Nah, proses tersebut merupakan gambaran sederhana bagaimana social commerce bekerja. Customer bisa menemukan produk melalui konten dan melanjutkan proses belanja melalui fitur yang tersedia, tanpa harus selalu mencari produk tersebut secara manual di website atau marketplace.

Beberapa platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp juga memiliki fitur yang mendukung aktivitas social commerce. Mulai dari katalog produk, product tagging, live shopping, hingga komunikasi langsung melalui chat.

Pada platform yang mendukung transaksi langsung, proses belanja bahkan dapat berlangsung hingga checkout dalam satu ekosistem aplikasi. Namun, pada platform lainnya, customer mungkin tetap perlu diarahkan ke website atau marketplace untuk menyelesaikan pembayaran.

Jadi, social commerce bukan sekadar mempromosikan produk melalui media sosial, melainkan memanfaatkan konten, interaksi, dan fitur belanja untuk membantu mengubah ketertarikan customer menjadi pembelian.

2. Bagaimana cara kerja social commerce? Dari scrolling hingga checkout

ilustrasi scrolling media sosial (pexels.com/Roberto Hund)

Salah satu hal menarik dari social commerce adalah customer tidak selalu memiliki rencana untuk membeli produk sejak awal. Berbeda dari kebiasaan membuka marketplace untuk mencari barang tertentu, di media sosial seseorang bisa menemukan produk secara tidak sengaja melalui konten yang muncul di beranda.

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan sebuah UMKM menjual camilan pedas melalui media sosial, dan seperti ini contoh tahapannya.

1. Discovery: Customer menemukan produk

Perjalanan dimulai ketika calon customer menemukan video singkat yang memperlihatkan proses pembuatan dan kemasan camilan tersebut.

Awalnya, mereka mungkin hanya tertarik menonton karena videonya terlihat menggugah selera. Namun, setelah melihat produknya, muncul keinginan untuk mencoba.

2. Consideration: Customer akhirnya mulai mencari informasi

Setelah tertarik, calon customer biasanya mulai mencari informasi lebih lanjut. Mereka bisa membaca komentar, melihat ulasan customer lain, memeriksa harga, atau bertanya mengenai pilihan rasa dan tingkat kepedasan.

Pada tahap ini, pengalaman pengguna lain dapat membantu calon customer menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhannya.

3. Purchase: Melanjutkan pembelian

Ketika sudah yakin, customer dapat melanjutkan proses pemesanan melalui fitur belanja atau channel transaksi yang disediakan seller. Misalnya, customer membuka tautan produk yang terhubung ke marketplace, memilih varian camilan, lalu menyelesaikan pembayaran melalui sistem transaksi yang tersedia.

4. Review dan Recommendation: Pengalaman dibagikan kembali

Proses social commerce tidak selalu berhenti setelah barang diterima. Customer yang puas bisa memberikan ulasan, mengunggah video saat mencoba produk (biasanya dengan konten UGC di media sosial), atau merekomendasikannya kepada teman.

Konten tersebut kemudian dapat dilihat oleh calon customer lain dan memunculkan ketertarikan baru. Inilah yang membuat social commerce memiliki hubungan erat dengan interaksi komunitas dan rekomendasi antarpengguna.

Sebuah pembelian bisa berawal dari konten sederhana, sedangkan pengalaman customer sebelumnya dapat membantu memperkenalkan produk kepada audiens berikutnya.

3. Apa perbedaan social commerce dan e-commerce?

Social commerce dan e-commerce sama-sama berkaitan dengan aktivitas jual beli secara online. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, terutama dari cara customer menemukan produk dan berinteraksi dengan seller.

E-commerce merupakan istilah luas untuk perdagangan melalui sistem elektronik, sedangkan social commerce lebih menekankan penggunaan media sosial sebagai bagian dari pengalaman berbelanja customer.

Agar lebih jelas, berikut perbandingannya.

Tabel perbedaan antara social commerce dan e-commerce

Aspek

Social Commerce

E-Commerce

Pengertian

Aktivitas perdagangan yang mengandalkan interaksi dan fitur media sosial

Aktivitas perdagangan melalui sistem elektronik secara luas

Channel Utama

Media sosial dan fitur perdagangan yang terkait

Website, aplikasi belanja, dan marketplace

Cara menemukan produk

Melalui konten, rekomendasi, komentar, atau kreator

Melalui pencarian, kategori produk, iklan, dan rekomendasi

Interaksi customer

Menonjolkan komentar, percakapan, komunitas, dan konten kreator

Umumnya melalui halaman produk, ulasan, dan fitur komunikasi

Proses pembelian

Dapat terhubung ke fitur belanja atau sistem transaksi sesuai ketentuan platform

Umumnya melalui sistem checkout pada website atau marketplace

Faktor yang memengaruhi pembelian

Konten menarik, rekomendasi, dan pengalaman pengguna lain

Kebutuhan produk, harga, spesifikasi, ulasan, dan kemudahan transaksi

Sebagai contoh, ketika kamu membuka marketplace untuk mencari sepatu lari dengan ukuran dan harga tertentu, aktivitas tersebut termasuk e-commerce. Sementara itu, jika kamu awalnya menemukan sepatu melalui video seorang kreator, membaca komentar, kemudian tertarik membelinya melalui fitur belanja terkait, keranjang kuning misalnya, proses tersebut mencerminkan karakter social commerce.

Meski berbeda, keduanya tidak harus dipisahkan secara mutlak. Social commerce dapat menjadi bagian dari strategi e-commerce yang lebih luas. Bahkan, bisnis bisa menggabungkan media sosial untuk menarik minat customer dengan marketplace atau website untuk menyelesaikan transaksi.

4. Contoh platform social commerce yang sering digunakan

Ilustrasi konten kreator sedang memperkenalkan produknya (freepik.com/dragonimages)

Setelah memahami konsepnya, mungkin kamu mulai menyadari bahwa social commerce sebenarnya sudah cukup dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Ada berbagai platform yang bisa membantu bisnis memperkenalkan produk, membangun interaksi dengan calon customer, hingga mengarahkan mereka menuju pembelian. Setiap platform memiliki pendekatan berbeda dalam menggabungkan pengalaman media sosial dan aktivitas belanja.

1. TikTok Shop

TikTok Shop menjadi salah satu contoh social commerce yang menghubungkan konten video dengan aktivitas belanja. Melalui video pendek, live streaming, maupun konten kreator, seller dapat memperkenalkan produk secara lebih interaktif dibandingkan hanya mengunggah foto katalog.

Misalnya, kamu sedang menonton live streaming kreator yang sedang menunjukkan alat masak. Setelah melihat cara penggunaannya, kamu tertarik membuka detail produk yang ditampilkan dan melanjutkan pembelian.

Di Indonesia, layanan ini dikenal sebagai TikTok Shop by Tokopedia, yang menggabungkan pengalaman penemuan produk melalui konten TikTok dengan layanan perdagangan dari ekosistem marketplace yang terintegrasi. Dengan pendekatan tersebut, konten tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat mendorong keputusan pembelian.

2. WhatsApp Business

Berbeda dari TikTok yang mengandalkan konten video, WhatsApp Business lebih berfokus pada interaksi langsung antara seller dan customer melalui percakapan. Platform ini menyediakan fitur katalog produk yang dapat digunakan untuk menampilkan foto, deskripsi, dan informasi produk kepada calon customer.

Sebagai contoh, sebuah UMKM makanan menerima pertanyaan melalui WhatsApp mengenai menu katering untuk acara keluarga. Customer dapat melihat katalog, bertanya mengenai pilihan paket, menentukan jumlah pesanan, hingga mendiskusikan jadwal pengiriman langsung melalui chat.

Keunggulan pendekatan ini terletak pada komunikasi yang lebih personal, terutama untuk produk atau layanan yang membutuhkan konsultasi sebelum pembelian. Namun, penggunaan WhatsApp Business untuk pemesanan tidak berarti seluruh transaksi pembayaran otomatis berlangsung melalui fitur checkout dalam aplikasi.

3. Instagram Shop atau Instagram Shopping

Instagram juga dapat dimanfaatkan sebagai channel social commerce, terutama bagi bisnis yang mengandalkan tampilan visual produk. Melalui Instagram Shopping, akun bisnis yang memenuhi persyaratan dapat menampilkan katalog dan menggunakan fitur penandaan produk (product tagging) pada konten tertentu.

Misalnya, sebuah brand fashion mengunggah foto model yang mengenakan koleksi pakaian terbaru. Customer yang tertarik dapat melihat informasi produk melalui tag yang tersedia, kemudian melanjutkan pembelian melalui website atau channel transaksi terkait.

Selain itu, konten Reels, Stories, dan interaksi melalui Direct Message juga dapat membantu memperkenalkan produk sekaligus menjawab pertanyaan calon customer. Perlu diketahui, ketersediaan fitur Instagram Shopping dapat berbeda berdasarkan wilayah, kelayakan akun, dan kebijakan Meta.

4. Facebook Marketplace

Facebook Marketplace merupakan fitur yang membantu pengguna menemukan dan menawarkan produk melalui ekosistem Facebook. Berbeda dari konten video pendek yang biasanya berfokus pada hiburan, Marketplace lebih menonjolkan daftar produk berdasarkan kategori dan lokasi.

Contohnya, seseorang ingin menjual meja kerja bekas yang masih layak digunakan. Ia dapat mengunggah foto, memberikan deskripsi kondisi barang, mencantumkan harga, dan menampilkan lokasi penjualan.

Calon customer yang tertarik kemudian bisa menghubungi seller untuk menanyakan detail barang atau mendiskusikan proses transaksi. Model seperti ini cukup relevan untuk penjualan produk lokal, barang bekas, maupun transaksi yang membutuhkan komunikasi langsung antara kedua pihak.

Namun, Facebook Marketplace tidak selalu menyediakan proses pembayaran langsung di dalam platform. Mekanisme transaksi dapat bergantung pada fitur yang tersedia dan kesepakatan antara seller dengan customer.

Dari keempat contoh tersebut, terlihat bahwa social commerce tidak harus menggunakan pendekatan yang sama/mirroring di setiap platform.

Ada yang mengandalkan video dan live shopping, ada yang berfokus pada katalog serta percakapan, dan ada pula yang membantu customer menemukan produk berdasarkan lokasi. Bagi bisnis, pilihan platform sebaiknya disesuaikan dengan karakter produk, kebiasaan target customer, dan kemampuan operasional dalam menangani pesanan.

5. Mengapa social commerce penting bagi bisnis di era sekarang?

ilustrasi konten kreator memperlihatkan produk baju (pexels.com/ANTONI SHKRABA Production)

Bagi pelaku bisnis, social commerce menawarkan kesempatan untuk memperkenalkan produk melalui konten yang dekat dengan aktivitas sehari-hari calon customer.

Daripada hanya menampilkan katalog dan harga, seller bisa menunjukkan cara penggunaan produk, membagikan cerita di balik bisnisnya, atau berinteraksi langsung melalui komentar dan siaran langsung. Pendekatan tersebut membuat proses marketing terasa lebih interaktif.

Berikut beberapa manfaat social commerce bagi bisnis:

  • Memperluas jangkauan calon customer: Konten media sosial dapat membantu produk ditemukan oleh pengguna yang sebelumnya belum mengenal bisnis tersebut.

  • Membangun kepercayaan: Ulasan, demo/spill produk, dan pengalaman customer lain dapat membantu calon customer mengenal kualitas produk.

  • Mendorong interaksi langsung: Customer bisa bertanya mengenai harga, stok, ukuran, atau cara penggunaan sebelum memutuskan membeli.

  • Membantu meningkatkan peluang penjualan: Konten yang relevan dapat menarik perhatian dan mengarahkan calon customer menuju proses pembelian.

  • Mendukung marketing UMKM: Bisnis kecil dapat memperkenalkan produknya melalui konten organik tanpa selalu harus memulai dengan anggaran iklan besar.

  • Mempermudah pengumpulan feedback: Komentar dan ulasan customer bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki produk maupun layanan.

Namun, bukan berarti social commerce selalu berjalan mulus. Bisnis tetap menghadapi tantangan, seperti perubahan algoritma media sosial, komentar negatif, persaingan konten, hingga kesulitan mengelola stok ketika berjualan melalui beberapa channel sekaligus.

Misalnya, sebuah produk sedang viral dan mendadak menerima banyak pesanan. Jika seller tidak segera memperbarui stok, customer bisa terlanjur memesan barang yang sebenarnya sudah habis. Selain itu, popularitas konten juga tidak otomatis menjamin penjualan.

Video dengan ribuan penonton belum tentu menghasilkan banyak pembelian jika produk tidak sesuai dengan kebutuhan audiens, informasinya kurang jelas, atau proses pemesanannya terlalu rumit. Karena itu, keberhasilan social commerce tidak hanya ditentukan oleh jumlah views dan likes, tetapi juga kemampuan bisnis memberikan pengalaman belanja yang baik.

6. Cara menerapkan social commerce agar penjualan lebih optimal

Ilustrasi konten kreator kecantikan memperlihatkan produknya di live shop (Pexels.com/George Milton)

Setelah memahami manfaatnya, sekarang muncul pertanyaan penting: bagaimana cara memulai social commerce, terutama jika kamu baru membangun bisnis online?

Kabar baiknya, strategi ini tidak harus dimulai dengan peralatan produksi konten yang mahal atau bekerja sama dengan kreator terkenal. Hal yang lebih penting adalah memahami kebutuhan calon customer dan membuat proses menemukan produk hingga melakukan pembelian terasa mudah.

Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.

1. Pilih media Sosial yang sesuai dengan target customer

Tidak semua bisnis harus aktif di seluruh platform media sosial. Misalnya, jika produk kamu memiliki daya tarik visual yang kuat, konten foto dan video pendek bisa menjadi pilihan untuk memperkenalkannya.

Namun, jika calon customer membutuhkan banyak penjelasan sebelum membeli, pertimbangkan juga channel yang mendukung percakapan dan konsultasi produk.

2. Buat konten yang memberikan manfaat

Daripada terus-menerus mengunggah foto produk dengan tulisan "Beli Sekarang", cobalah membuat konten yang menjawab pertanyaan calon customer. Contohnya, bisnis perlengkapan dapur dapat membuat video mengenai cara menggunakan alat masak, tips membersihkan peralatan, atau perbandingan fungsi beberapa produk.

Konten seperti ini tidak hanya memperkenalkan barang, tetapi juga membantu audiens memahami manfaatnya.

3. Manfaatkan ulasan dan pengalaman customer

Calon customer sering mempertimbangkan pengalaman orang lain sebelum mengambil keputusan. Karena itu, bisnis dapat membagikan testimoni asli, ulasan produk, atau konten customer yang sudah mendapatkan izin untuk dipublikasikan.

Namun, hindari membuat ulasan palsu atau melebih-lebihkan manfaat produk karena hal tersebut justru dapat merusak kepercayaan customer.

4. Permudah proses pemesanan

Jangan sampai customer sudah tertarik membeli, tetapi akhirnya membatalkan transaksi karena tidak menemukan informasi harga atau cara pemesanan. Pastikan katalog produk mudah diakses, informasi stok diperbarui, dan tautan menuju channel pembelian tersedia dengan jelas.

Jika menggunakan beberapa platform penjualan, perhatikan juga kesesuaian data produk dan stok agar tidak terjadi pesanan ganda atau barang kehabisan.

5. Bangun komunikasi yang responsif

Social commerce mengandalkan interaksi, sehingga respons seller menjadi bagian penting dari pengalaman customer.

Usahakan menjawab pertanyaan dengan informasi yang jelas, bukan sekadar membalas komentar menggunakan jawaban otomatis yang tidak menyelesaikan masalah. Misalnya, jika seseorang bertanya apakah ukuran pakaian cocok untuk tinggi badan tertentu, berikan informasi ukuran yang relevan atau arahkan ke panduan ukuran produk.

6. Evaluasi hasil konten dan penjualan

Terakhir, jangan hanya menilai keberhasilan berdasarkan jumlah followers, likes, atau views. Perhatikan juga beberapa metrik yang berkaitan dengan tujuan bisnis, seperti:

  • Engagement rate: Seberapa aktif audiens berinteraksi dengan konten.

  • Product clicks: Berapa banyak orang yang tertarik membuka informasi produk.

  • Conversion rate: Persentase pengunjung atau interaksi yang menghasilkan tindakan sesuai tujuan.

  • Jumlah pesanan: Total transaksi yang berhasil diperoleh.

  • Nilai penjualan: Pendapatan dari transaksi yang dihasilkan.

Dengan membandingkan data tersebut, kamu dapat mengetahui konten mana yang benar-benar membantu penjualan dan mana yang hanya ramai ditonton.

Pada akhirnya, social commerce bukan sekadar memindahkan aktivitas jualan ke media sosial. Strategi ini menggabungkan konten, percakapan, dan kepercayaan untuk membantu customer mengambil keputusan pembelian.

Buat pelaku bisnis, tantangannya bukan hanya menciptakan konten viral, tetapi juga memastikan produk yang ditawarkan relevan, informasi mudah ditemukan, dan pelayanan tetap berjalan baik.

Jadi, sebelum mengejar jutaan views, coba tanyakan satu hal: apakah konten yang kamu buat sudah membantu calon customer mengenal, memahami, dan yakin untuk membeli produkmu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article