Ilustrasi konten kreator sedang memperkenalkan produknya (freepik.com/dragonimages)
Setelah memahami konsepnya, mungkin kamu mulai menyadari bahwa social commerce sebenarnya sudah cukup dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Ada berbagai platform yang bisa membantu bisnis memperkenalkan produk, membangun interaksi dengan calon customer, hingga mengarahkan mereka menuju pembelian. Setiap platform memiliki pendekatan berbeda dalam menggabungkan pengalaman media sosial dan aktivitas belanja.
1. TikTok Shop
TikTok Shop menjadi salah satu contoh social commerce yang menghubungkan konten video dengan aktivitas belanja. Melalui video pendek, live streaming, maupun konten kreator, seller dapat memperkenalkan produk secara lebih interaktif dibandingkan hanya mengunggah foto katalog.
Misalnya, kamu sedang menonton live streaming kreator yang sedang menunjukkan alat masak. Setelah melihat cara penggunaannya, kamu tertarik membuka detail produk yang ditampilkan dan melanjutkan pembelian.
Di Indonesia, layanan ini dikenal sebagai TikTok Shop by Tokopedia, yang menggabungkan pengalaman penemuan produk melalui konten TikTok dengan layanan perdagangan dari ekosistem marketplace yang terintegrasi. Dengan pendekatan tersebut, konten tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat mendorong keputusan pembelian.
2. WhatsApp Business
Berbeda dari TikTok yang mengandalkan konten video, WhatsApp Business lebih berfokus pada interaksi langsung antara seller dan customer melalui percakapan. Platform ini menyediakan fitur katalog produk yang dapat digunakan untuk menampilkan foto, deskripsi, dan informasi produk kepada calon customer.
Sebagai contoh, sebuah UMKM makanan menerima pertanyaan melalui WhatsApp mengenai menu katering untuk acara keluarga. Customer dapat melihat katalog, bertanya mengenai pilihan paket, menentukan jumlah pesanan, hingga mendiskusikan jadwal pengiriman langsung melalui chat.
Keunggulan pendekatan ini terletak pada komunikasi yang lebih personal, terutama untuk produk atau layanan yang membutuhkan konsultasi sebelum pembelian. Namun, penggunaan WhatsApp Business untuk pemesanan tidak berarti seluruh transaksi pembayaran otomatis berlangsung melalui fitur checkout dalam aplikasi.
3. Instagram Shop atau Instagram Shopping
Instagram juga dapat dimanfaatkan sebagai channel social commerce, terutama bagi bisnis yang mengandalkan tampilan visual produk. Melalui Instagram Shopping, akun bisnis yang memenuhi persyaratan dapat menampilkan katalog dan menggunakan fitur penandaan produk (product tagging) pada konten tertentu.
Misalnya, sebuah brand fashion mengunggah foto model yang mengenakan koleksi pakaian terbaru. Customer yang tertarik dapat melihat informasi produk melalui tag yang tersedia, kemudian melanjutkan pembelian melalui website atau channel transaksi terkait.
Selain itu, konten Reels, Stories, dan interaksi melalui Direct Message juga dapat membantu memperkenalkan produk sekaligus menjawab pertanyaan calon customer. Perlu diketahui, ketersediaan fitur Instagram Shopping dapat berbeda berdasarkan wilayah, kelayakan akun, dan kebijakan Meta.
4. Facebook Marketplace
Facebook Marketplace merupakan fitur yang membantu pengguna menemukan dan menawarkan produk melalui ekosistem Facebook. Berbeda dari konten video pendek yang biasanya berfokus pada hiburan, Marketplace lebih menonjolkan daftar produk berdasarkan kategori dan lokasi.
Contohnya, seseorang ingin menjual meja kerja bekas yang masih layak digunakan. Ia dapat mengunggah foto, memberikan deskripsi kondisi barang, mencantumkan harga, dan menampilkan lokasi penjualan.
Calon customer yang tertarik kemudian bisa menghubungi seller untuk menanyakan detail barang atau mendiskusikan proses transaksi. Model seperti ini cukup relevan untuk penjualan produk lokal, barang bekas, maupun transaksi yang membutuhkan komunikasi langsung antara kedua pihak.
Namun, Facebook Marketplace tidak selalu menyediakan proses pembayaran langsung di dalam platform. Mekanisme transaksi dapat bergantung pada fitur yang tersedia dan kesepakatan antara seller dengan customer.
Dari keempat contoh tersebut, terlihat bahwa social commerce tidak harus menggunakan pendekatan yang sama/mirroring di setiap platform.
Ada yang mengandalkan video dan live shopping, ada yang berfokus pada katalog serta percakapan, dan ada pula yang membantu customer menemukan produk berdasarkan lokasi. Bagi bisnis, pilihan platform sebaiknya disesuaikan dengan karakter produk, kebiasaan target customer, dan kemampuan operasional dalam menangani pesanan.