Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Proyek Gas Masela Kejar Kepastian Investasi Paling Lambat Januari 2027

3 min read
Proyek Gas Masela Kejar Kepastian Investasi Paling Lambat Januari 2027
Ilustrasi proyek Blok Masela. (YouTube/Sekretariat Presiden)
  • Proyek LNG Abadi Masela menyelesaikan tahap FEED pada Oktober 2026, tiga bulan lebih cepat dari jadwal.

  • FID diharapkan terlaksana paling lambat akhir Januari 2027, dengan PJBG dan pengadaan sebagai persyaratan lanjutan.

  • INPEX melibatkan perusahaan, pemerintah, kontraktor, serta akademisi dalam pengembangan proyek Masela.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Proyek LNG Abadi Masela yang digarap INPEX Masela Ltd. telah menyelesaikan perancangan teknik awal. Tahap yang dikenal sebagai Front-End Engineering Design (FEED) itu rampung pada Oktober 2026.

Pekerjaan tersebut mencakup penentuan desain dasar, spesifikasi, hingga kebutuhan teknis yang diperlukan untuk membangun fasilitas LNG. Hasilnya akan menjadi pegangan dalam pelaksanaan pembangunan proyek.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menilai penyelesaian tahap tersebut tidak mudah karena kompleksitas pekerjaan yang harus ditangani kontraktor. Namun, seluruh pekerjaan FEED dapat diselesaikan tiga bulan lebih cepat dari jadwal.

"Alhamdulilah FEED lebih cepat 3 bulan Oktober selesai. Mudah-mudahan FID (Final Investment Decision) segera, atau paling telat kalau bisa akhir Januari 2027," kata Djoko dalam seremoni FEED Completion di Jakarta, dikutip Rabu (28/10/2026).

  1. 1. Produksi gas Masela ditargetkan mulai pada 2029

    Screenshot_20260716_152017_YouTube.jpg
    Ilustrasi proyek Blok Masela. (YouTube/Sekretariat Presiden)

    Setelah perancangan teknik selesai, proyek Abadi Masela perlu menuntaskan sejumlah persyaratan sebelum melangkah lebih jauh. Djoko menyebut penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) menjadi salah satu hal penting agar konsorsium INPEX dapat menyetujui keputusan investasi.

    Selain PJBG dan FID, percepatan pengadaan barang dan jasa juga diperlukan untuk mendukung kelanjutan proyek. SKK Migas berharap gas dari lapangan Masela sudah dapat diproduksi pada 2029.

    "Mudah mudah-mudahan bisa ikut cepat. Produksi gas mulai secepatnya kalau bisa 2029, bagus 2030 paling telat akhir tahun 2030," ujar Djoko.

  2. 2. INPEX bersiap melanjutkan pengembangan proyek Masela

    Screenshot_20260716_151951_YouTube.jpg
    Ilustrasi proyek Blok Masela. (YouTube/Sekretariat Presiden)

    Perancangan teknik yang telah selesai mencakup empat komponen utama. President Director INPEX Masela Ltd., Kenji Hasegawa, menyebut komponen tersebut meliputi fasilitas LNG di darat atau Onshore LNG (OLNG).

    Kemudian fasilitas produksi dan penyimpanan terapung atau Floating Production Storage and Offloading (FPSO), sistem bawah laut Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF), serta jaringan pipa ekspor gas atau Gas Export Pipeline (GEP).

    "Selesainya tahap FEED bukanlah tujuan akhir kita, melainkan bagian dari kemajuan menuju fase EPCI dan upaya mencapai Final Investment Decision (FID)," kata dia.

  3. 3. Sejumlah perusahaan dan akademisi terlibat dalam proyek Masela

    Screenshot_20260716_152032_YouTube.jpg
    Ilustrasi proyek Blok Masela. (YouTube/Sekretariat Presiden)

    Kelanjutan proyek membutuhkan kerja sama antara INPEX, pemerintah, mitra usaha patungan, kontraktor, dan pemangku kepentingan lainnya. Kenji menyatakan perusahaan akan melanjutkan koordinasi dengan seluruh pihak tersebut.

    "INPEX tetap berkomitmen untuk bekerja sama secara erat dengan pemerintah, mitra joint venture, kontraktor, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memajukan proyek ini secara aman dan bertanggung jawab," ujar dia.

    Dalam penyelesaian FEED, INPEX bekerja bersama Saipem, Tripatra, McDermott, Technip, JGC, TEN, KBR Indonesia, PT Adhi Karya, Samsung E&A, dan Worley. Perusahaan-perusahaan tersebut menerima Technical Acceptance Certificate sebagai tanda penerimaan atas pekerjaan teknis yang telah diselesaikan.

    Pemeriksaan dokumen FEED juga melibatkan akademisi dari tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Pattimura (UNPATTI). Sekitar 200 profesor dan doktor dari ketiga institusi tersebut bertugas sebagai penelaah independen.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More