Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apindo Wanti-wanti Dampak Erupsi Anak Krakatau ke Rantai Pasok
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani dalam acara Ngobrol Seru di IDN Times. (IDN Times/Mikho Fridolin Siahaan)
  • Apindo mengingatkan erupsi Anak Krakatau yang berkepanjangan berpotensi mengganggu penerbangan, distribusi barang, perdagangan, dan rantai pasok, terutama melalui Bandara Soekarno-Hatta.
  • Gangguan berkepanjangan dapat menaikkan biaya logistik, termasuk transportasi alternatif, handling, penyimpanan, safety stock, penyesuaian produksi, dan keterlambatan pesanan; besaran kerugian belum dapat dihitung.
  • Apindo meminta perusahaan menjalankan business continuity plan, melindungi pekerja dari risiko abu vulkanik, serta menyiapkan rute, moda, dan pemasok alternatif dengan dukungan informasi pemerintah yang terintegrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi apabila peningkatan aktivitas vulkanik berlangsung dalam waktu lama. Gangguan terutama dapat terasa pada konektivitas transportasi, distribusi barang, hingga rantai pasok.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan dunia usaha perlu merespons kondisi tersebut dengan tenang, tetapi tetap waspada. Keselamatan pekerja dan masyarakat harus menjadi prioritas, sembari mengikuti informasi serta arahan resmi dari otoritas terkait.

Menurut Shinta, salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah terganggunya penerbangan, terutama di Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan salah satu simpul utama konektivitas udara nasional.

“Gangguan penerbangan dapat berpengaruh terhadap mobilitas orang, distribusi barang, perdagangan, dan rantai pasok,” ujar Shinta saat dihubungi, Senin (7/9/2026).

1. Jika gangguan erupsi berlangsung lama akan berdampak pada beban biaya logistik

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di Jakarta, Rabu (13/5/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)

Meski demikian, ia tak menampik jika gangguan berlangsung lebih lama, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. Biaya tambahan dapat muncul baik secara langsung maupun tidak langsung.

Biaya langsung, misalnya, berasal dari penggunaan moda transportasi alternatif, biaya handling, hingga penyimpanan barang. Sementara itu, biaya tidak langsung dapat berupa bertambahnya lead time, kebutuhan safety stock, penyesuaian produksi, hingga keterlambatan pemenuhan pesanan.

Meski demikian, Shinta menilai saat ini masih terlalu dini untuk menghitung potensi kerugian ekonomi secara keseluruhan. Besarnya dampak akan sangat bergantung pada durasi dan cakupan gangguan, sektor yang terdampak, serta ketersediaan rute dan moda transportasi alternatif.

"Kami melihat bahwa yang penting saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat dan pekerja serta langkah-langkah mitigasi dapat berjalan dengan baik." ungkapnya.

2. Pengusaha diminta siapkan skenario

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Apindo mendorong dunia usaha memastikan business continuity plan (BCP) berjalan dan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi. Pelaku usaha perlu memetakan aktivitas, barang, serta komponen yang bersifat kritis. Selain itu, komunikasi dengan pemasok dan penyedia jasa logistik perlu diperkuat untuk memastikan kelancaran distribusi.

Dunia usaha juga perlu menyiapkan alternatif rute, moda transportasi, maupun pemasok apabila kondisi semakin memburuk.

"Langkah tersebut dinilai semakin penting bagi perusahaan yang menerapkan sistem just-in-time. Gangguan distribusi berpotensi memperpanjang lead time dan pada akhirnya memengaruhi ketersediaan bahan baku maupun komponen produksi," tegasnya.

3. Dunia usaha butuh dukungan informasi yang cepat, akurat dan terintegrasi

Anak Gunung Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Di sisi lain, keberlangsungan bisnis tetap harus dimulai dari perlindungan pekerja. Perusahaan perlu memastikan perlindungan yang memadai, melakukan penilaian risiko terhadap paparan abu vulkanik dan kualitas udara, serta menyiapkan prosedur komunikasi dan respons darurat yang jelas.

Shinta menambahkan, dunia usaha membutuhkan dukungan informasi yang cepat, akurat, dan terintegrasi dari pemerintah agar dapat mengambil langkah antisipasi secara tepat.

Informasi tersebut mencakup perkembangan aktivitas vulkanik, kondisi penerbangan, cuaca dan sebaran abu, hingga perkembangan operasional jalur serta moda transportasi alternatif.

“Koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pengelola bandara, operator transportasi, dan dunia usaha juga penting agar setiap penyesuaian distribusi dan aktivitas ekonomi dapat dilakukan secara terukur sesuai perkembangan kondisi,” tegasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article