Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Setujui Potensi Penjualan Senjata Rp89,85 Triliun ke Arab Saudi

AS Setujui Potensi Penjualan Senjata Rp89,85 Triliun ke Arab Saudi
ilustrasi senjata (unsplash.com/Thomas Tucker)
  • Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan paket senjata senilai 5 miliar dolar AS kepada Arab Saudi, mencakup lebih dari 10 ribu kit panduan presisi dan ribuan bom.
  • Boeing menjadi kontraktor utama paket JDAM-ER, sementara Honeywell menangani potensi penjualan mesin AGT-1500 senilai 750 juta dolar AS; paket juga mencakup perangkat pendukung, teknis, dan logistik.
  • Usulan penjualan muncul di tengah tensi keamanan Teluk dan penurunan stok amunisi AS setelah operasi melawan Iran; seluruh transaksi masih menunggu persetujuan akhir Kongres AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui potensi penjualan paket senjata senilai 5 miliar dolar AS (setara Rp88,1 triliun) kepada Arab Saudi. Pengumuman tersebut disampaikan pada Sabtu (5/9/2026) setelah pemerintah AS mengusulkan Penjualan Militer Luar Negeri kepada Kongres AS yang berfokus pada sistem Joint Direct Attack Munition-Extended Range (JDAM-ER).

Paket tersebut berisi lebih dari 10 ribu kit panduan presisi dan ribuan bom untuk memperkuat kemampuan militer Riyadh. Departemen Luar Negeri AS menyebut, penjualan itu ditujukan untuk membantu Arab Saudi menghadapi ancaman regional serta memperkuat kerja sama militer dengan pasukan AS dan mitra di kawasan Teluk.

“Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi untuk menghadapi ancaman regional saat ini dan masa depan, memperkuat pertahanan tanah airnya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan sistem yang dioperasikan oleh pasukan AS dan mitra Wilayah Teluk lainnya,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut, dikutip Times of India.

  1. 1. Boeing menjadi kontraktor utama paket senjata Saudi

    AS Setujui Potensi Penjualan Senjata Rp89,85 Triliun ke Arab Saudi
    Kantor Pusat Boeing. (unsplash.com/svenpiper)

    Boeing ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam kesepakatan tersebut. Paket senjata itu terdiri dari 5.004 kit panduan JDAM KMU-572, 5 ribu kit KMU-556, 5.004 bom BLU-111 seberat 500 pon, serta 5 ribu bom BLU-117 seberat 2 ribu pon.

    Arab Saudi juga bakal memperoleh sejumlah perangkat pendukung selain bom dan kit panduan. Di antaranya sistem sekering FMU-139, detektor target DSU-38 dan DSU-40, serta dukungan teknis dan logistik.

    Secara terpisah, AS menyetujui potensi penjualan mesin AGT-1500 senilai 750 juta dolar AS (setara Rp13,2 triliun). Honeywell ditetapkan sebagai kontraktor utama untuk transaksi tersebut, dilaporkan News18.

  2. 2. Stok amunisi AS menurun setelah operasi melawan Iran

    AS Setujui Potensi Penjualan Senjata Rp89,85 Triliun ke Arab Saudi
    ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

    Seperti dilaporkan News18, persetujuan penjualan senjata itu muncul saat stok amunisi AS mendapat sorotan setelah operasi militer melawan Iran. Riset Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat cadangan pencegat Patriot AS turun menjadi sekitar 759 hingga 827 unit pada akhir Juli dari sekitar 2.330 unit sebelum konflik pecah.

    Stok pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga berkurang dari 452 unit menjadi sekitar 234 hingga 278 unit. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan tingginya permintaan rudal jarak jauh seperti Tomahawk dan ATACMS.

    Pentagon merespons kondisi itu dengan mendorong peningkatan kapasitas produksi pencegat PAC-3 MSE hingga tiga kali lipat dan THAAD sampai empat kali lipat. Upaya tersebut dilakukan melalui kontrak baru bersama produsen pertahanan.

    Presiden AS Donald Trump berulang kali membantah adanya kelangkaan senjata di negaranya. Trump menyebut laporan mengenai kekurangan amunisi sebagai bentuk pengkhianatan dan menegaskan AS memiliki jumlah pasokan yang tidak terbatas, sedangkan Gedung Putih terus mendorong percepatan produksi senjata nasional.

  3. 3. AS dan Saudi memperluas kerja sama keamanan

    AS Setujui Potensi Penjualan Senjata Rp89,85 Triliun ke Arab Saudi
    ilustrasi kesepakatan kerja sama (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Penguatan militer tersebut berlangsung ketika keamanan kawasan Teluk menghadapi tensi tinggi akibat konflik AS-Iran. Situasi itu juga mencakup ancaman serangan terhadap infrastruktur kritis Arab Saudi serta aktivitas militer pemberontak Houthi dari Yaman.

    Sebelum pengajuan paket senjata, AS dan Arab Saudi telah memperluas kerja sama di sektor energi nuklir sipil melalui penandatanganan Perjanjian 123. Kesepakatan tersebut ditandatangani Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Abdulaziz bin Salman.

    Perjanjian itu membuka jalan bagi perusahaan Amerika untuk memasuki sektor energi Arab Saudi. Departemen Energi AS menyatakan kemitraan tersebut akan memperkuat hubungan jangka panjang kedua negara di bidang energi nuklir sipil.

    Seluruh usulan penjualan senjata dan perjanjian strategis tersebut kini telah diserahkan kepada Kongres AS. Eksekusi paket bantuan militer itu selanjutnya bergantung pada persetujuan akhir para legislator.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More