Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Arab Saudi Klaim Punya Cadangan Mineral Senilai Rp42 Ribu Triliun

Arab Saudi Klaim Punya Cadangan Mineral Senilai Rp42 Ribu Triliun
ilustrasi tambang (pexels.com/Vlad Chețan)
Intinya sih...
  • Anggaran eksplorasi pertambangan naik 595% hingga investasi digencarkan
  • Diversifikasi ekonomi lewat pertambangan menjadi fokus Visi 2030 Arab Saudi
  • Ambisi Arab Saudi menarik perhatian AS untuk investasi di sektor mineral
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Arab Saudi kini tengah mengembangkan sektor mineral untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak sekaligus memperkuat pengaruh geopolitiknya. Pemerintah Arab Saudi mengklaim memiliki cadangan mineral senilai 2,5 triliun dolar AS atau setara Rp42 ribu triliun.

Dilansir dari CNN Business, cadangan tersebut meliputi emas, seng, tembaga, dan litium, serta mineral tanah jarang seperti disprosium, terbium, neodimium, dan praseodimium yang dibutuhkan dalam industri kendaraan listrik, turbin angin, hingga komputasi berkecepatan tinggi.

1. Anggaran eksplorasi naik hingga investasi digencarkan

Arab Saudi Klaim Punya Cadangan Mineral Senilai Rp42 Ribu Triliun
ilustrasi investasi (freepik.com/jcomp)

Berdasarkan data S&P Global, anggaran eksplorasi pertambangan Arab Saudi naik 595 persen sepanjang 2021-2025, meski lebih kecil dibandingkan negara pertambangan maju seperti Kanada dan Australia. Pemerintahnya juga mempercepat penerbitan izin tambang bagi perusahaan domestik dan asing.

Direktur Eksekutif Minerals Center di SAFE, Abigail Hunter menyampaikan, sektor pertambangan membutuhkan waktu panjang hingga menghasilkan produk akhir.

“Dibutuhkan tiga hingga lima tahun untuk membangun fasilitas pengolahan. Di beberapa yurisdiksi, bahkan bisa memakan waktu hingga 29 tahun," kata dia.

Untuk mengejar ketertinggalan, pemerintah Arab Saudi memangkas birokrasi, menurunkan tarif pajak investasi pertambangan, dan menyiapkan belanja besar di sektor tersebut.

Dalam Future Minerals Forum, perusahaan tambang milik negara Maaden mengumumkan rencana investasi 110 miliar dolar AS di sektor logam dan pertambangan dalam 10 tahun ke depan. Investasi itu mencakup kemitraan internasional dan perekrutan talenta industri global, dengan pengakuan bahwa pengembangan sektor ini tidak dapat dilakukan secara mandiri.

2. Diversifikasi ekonomi lewat pertambangan

Arab Saudi Klaim Punya Cadangan Mineral Senilai Rp42 Ribu Triliun
ilustrasi tambang (unsplash.com/consoledotlog)

Nilai sektor mineral Arab Saudi masih jauh di bawah nilai industrinya di sektor minyak, di mana negara tersebut memiliki cadangan terbukti terbesar kedua di dunia. Meski demikian, pemerintah menilai pengembangan mineral memiliki nilai strategis di luar aspek pendapatan.

Melalui Visi 2030, Arab Saudi menargetkan diversifikasi ekonomi dengan menjadikan pertambangan sebagai salah satu pilar utama. Program tersebut tidak hanya fokus pada penambangan, tetapi juga penguatan rantai pasok industri domestik, termasuk pengembangan manufaktur kendaraan listrik.

Sejumlah ahli menilai infrastruktur Arab Saudi yang terus berkembang membuka peluang negara itu menjadi pusat regional pemurnian mineral kritis yang ditambang dari negara lain.

“Melihat ke Global South dan bermitra dengan negara-negara Afrika … secara logistik, sangat masuk akal bagi kami untuk memproses lebih banyak mineral di sini,” kata Hunter.

3. Ambisi Arab Saudi menarik perhatian AS

Arab Saudi Klaim Punya Cadangan Mineral Senilai Rp42 Ribu Triliun
Ilustrasi tambang (pexels.com/PPPS CZ)

Ambisi Arab Saudi menarik perhatian AS. Selama ini, AS diketahui mengekspor logam tanah jarang berat ke China untuk proses pemurnian. Namun, China memperketat kontrol ekspor mineral tersebut pada tahun lalu, terutama yang memiliki kegunaan militer.

Pada kunjungan kenegaraan ke Washington pada November 2025 lalu, Arab Saudi mengumumkan rencana investasi hingga hampir 1 triliun dolar AS di sektor infrastruktur, teknologi, dan industri AS. Salah satu kesepakatan mencakup kolaborasi bilateral di sektor mineral, termasuk rencana pembangunan fasilitas pemurnian baru di Arab Saudi oleh MP Materials bersama Maaden dan Departemen Pertahanan AS.

Wakil Ketua Critical Minerals Institute, Melissa Sanderson menyebut, keunggulan Arab Saudi sebagai pusat pengolahan mineral terletak pada pasokan energi yang stabil serta keahlian perusahaan energi nasional Aramco. Ia menilai, hal tersebut berpotensi mendorong metode pemurnian yang lebih efisien dan kompetitif.

Namun, Sanderson juga menilai kredensial lingkungan Arab Saudi masih menjadi tanda tanya, mengingat negara itu termasuk yang menentang sebagian rancangan resolusi PBB terkait transparansi rantai pasok dan dampak lingkungan pertambangan.

Dia menambahkan, ketidakstabilan kawasan Timur Tengah dan dinamika hubungan diplomatik dengan negara-negara Afrika kaya mineral menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, Arab Saudi dinilai masih memiliki opsi kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah yang memiliki cadangan mineral dan hubungan lama dengan Aramco.

Sanderson menilai, transformasi ekonomi Arab Saudi dirancang untuk memperkuat posisi politik negara tersebut dalam peta geopolitik global.

“Ini adalah strategi untuk kekuatan jangka panjang, pengaruh jangka panjang, dan keuntungan jangka panjang," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Aturan Memakai Dana Darurat yang Perlu Diperhatikan

24 Jan 2026, 19:00 WIBBusiness