Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi perak (unsplash.com/Scottsdale Mint)
Intinya Sih
  • Harga perak yang sempat melonjak kini menurun, memicu pertanyaan investor tentang waktu terbaik untuk membeli atau menahan diri di tengah volatilitas pasar logam mulia.
  • Aturan 80/50 digunakan sebagai panduan membaca rasio emas-perak; rasio di atas 80 menandakan perak murah, sedangkan di bawah 50 menunjukkan perak relatif mahal dibanding emas.
  • Saat ini rasio berada di titik tengah historis, dengan permintaan industri dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga perak dan emas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Harga perak yang sebelumnya sempat melonjak tajam kini mulai mengalami penurunan. Perubahan arah ini membuat banyak investor kembali bertanya-tanya, apakah ini momen yang tepat untuk membeli atau justru saatnya menahan diri.

Kondisi pasar seperti ini memang sering memicu rasa ragu, apalagi buat kamu yang baru mulai tertarik ke investasi logam mulia. Fluktuasi harga perak juga menunjukkan bahwa volatilitas masih menjadi bagian dari perjalanan aset ini.

Salah satu cara untuk membaca situasi tersebut adalah dengan menggunakan aturan 80/50 sebagai panduan sederhana. Yuk, pahami strategi ini supaya kamu bisa mengambil keputusan investasi dengan lebih rasional dan bukan sekadar ikut tren.

1. Mengenal konsep aturan 80/50 dalam investasi perak

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi logam mulis emas dan perak (unsplash.com/Dash Cryptocurrency)

Dilansir CBS News, aturan 80/50 berasal dari perbandingan harga emas dan perak atau dikenal sebagai rasio emas-perak. Rasio ini menunjukkan berapa ons perak yang dibutuhkan untuk menyamai harga satu ons emas. Nilainya terus berubah mengikuti kondisi pasar, sentimen ekonomi, serta permintaan industri. Banyak analis logam mulia memanfaatkan rasio ini untuk membaca apakah perak sedang murah atau mahal dibanding emas.

Konsep aturannya cukup sederhana dan mudah dipahami pemula. Saat rasio naik di atas angka 80, perak dianggap relatif murah dibanding emas sehingga menarik untuk dibeli. Saat rasio turun di bawah angka 50, perak dinilai sudah mahal sehingga investor disarankan beralih ke emas. Strategi ini fokus pada perbandingan nilai relatif, bukan menebak harga tertinggi atau terendah secara mutlak.

2. Cara menghitung rasio emas-perak dengan mudah

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi menghitung dengan kalkulator (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Perhitungan rasio emas-perak bisa dilakukan siapa saja tanpa alat khusus. Kamu cukup membagi harga emas per ons dengan harga perak per ons pada waktu yang sama. Misalnya, harga emas berada di kisaran 4.500 dolar per ons dan perak 70 dolar per ons. Hasil pembagian tersebut menghasilkan rasio sekitar 64 banding 1.

Nilai rasio ini bisa dibandingkan dengan data historis untuk melihat posisinya. Sepanjang sejarah, rasio emas-perak sering berada di rentang 60 hingga 75. Pada masa tertentu, rasio pernah jatuh sangat rendah saat euforia logam mulia terjadi, juga melonjak tinggi ketika krisis ekonomi melanda. Informasi ini memberi gambaran apakah kondisi pasar saat ini tergolong ekstrem atau masih normal.

3. Alasan aturan 80/50 kembali relevan saat ini

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi panel surya (pexels.com/Kindel Media)

Pergerakan harga perak yang cepat membuat banyak investor kembali melirik aturan 80/50. Rasio saat ini berada di sekitar titik tengah historis, sehingga belum memberi sinyal kuat untuk membeli atau menjual. Posisi ini berbeda dengan tahun sebelumnya ketika rasio sempat berada di atas 80 dan memicu minat beli perak. Investor yang mengikuti sinyal tersebut mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga perak yang signifikan.

Kondisi pasar sekarang dipengaruhi oleh dua faktor utama. Permintaan industri meningkat karena perak digunakan pada panel surya dan perangkat elektronik. Ketidakpastian geopolitik juga membuat perak diburu sebagai aset lindung nilai. Para analis menilai kombinasi faktor tersebut menyebabkan perak naik lebih cepat dibanding emas dalam beberapa waktu terakhir.

4. Cara menerapkan aturan 80/50 dalam portofolio kamu

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi investasi (freepik.com/pch.vector)

Aturan 80/50 bisa dijadikan panduan rotasi aset, bukan alat spekulasi jangka pendek. Saat rasio mendekati 80, sebagian dana bisa dialihkan dari emas ke perak. Saat rasio turun mendekati 50, strategi dapat dibalik dengan menambah porsi emas. Pendekatan ini membantu memanfaatkan perbedaan nilai relatif kedua logam mulia.

Bagi investor pemula, aturan ini cocok dipakai bersama strategi diversifikasi. Kamu gak perlu memindahkan seluruh dana sekaligus, cukup sebagian sesuai profil risiko. Para perencana keuangan biasanya menyarankan tetap mempertahankan kombinasi emas dan perak. Tujuannya agar portofolio gak terlalu terpapar fluktuasi satu aset saja.

5. Keterbatasan aturan 80/50 yang perlu kamu pahami

Aturan 80/50 untuk Perak: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
ilustrasi perhiasan (freepik.com/kaboompics)

Aturan 80/50 bukan hukum pasti dalam dunia investasi. Strategi ini gak berbasis data fundamental seperti produksi tambang atau tingkat konsumsi industri. Pola tersebut lebih merupakan pengamatan dari perilaku harga selama puluhan tahun. Kondisi ekonomi modern bisa saja menghasilkan pola berbeda dari masa lalu.

Investor tetap perlu mempertimbangkan faktor lain sebelum mengambil keputusan. Inflasi, suku bunga, serta kebijakan moneter global juga memengaruhi harga emas dan perak. Para analis pasar menilai aturan ini sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya dasar keputusan. Sikap fleksibel dan disiplin tetap menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas.

Aturan 80/50 bisa menjadi panduan sederhana untuk membaca pergerakan emas dan perak di tengah kondisi pasar yang sedang berfluktuasi. Saat harga perak mengalami penurunan setelah sempat naik tinggi, strategi ini membantu kamu menilai apakah koreksi tersebut masih wajar atau sudah mendekati peluang beli. Pendekatan ini juga mendorong investor supaya gak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga sedang turun.

Bagi kamu yang baru masuk ke dunia logam mulia, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara emas dan perak dalam portofolio. Dengan mengombinasikan aturan 80/50 dan analisis lain, kamu bisa menghadapi volatilitas pasar dengan lebih tenang dan terencana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More