ilustrasi Indonesia (unsplash.com/Adismara Putri Pradiri)
Meskipun bantuan tunai dinilai lebih tepat sasaran, pelaksanaannya juga menghadapi tantangan tersendiri. Salah satu masalah terbesar adalah kualitas data penerima bantuan sosial yang belum selalu diperbarui. Ada kasus penerima bantuan yang kondisi ekonominya sudah membaik, tapi masih tercatat sebagai keluarga miskin sehingga tetap memperoleh bantuan.
Selain itu, proses penyaluran bantuan di tingkat daerah juga disebut masih menyisakan persoalan. Beberapa laporan menunjukkan adanya praktik pilih kasih sehingga bantuan justru diterima oleh warga yang sebenarnya tergolong mampu. Sementara itu, masyarakat yang benar-benar membutuhkan terkadang gak mendapatkan bantuan sama sekali.
Wijayanto memperkirakan seluruh subsidi dan program sosial pemerintah mencapai sekitar Rp1.000 triliun setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen diduga tidak tepat sasaran akibat kualitas data yang kurang baik dan berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan sistem pendataan menjadi langkah penting apabila Indonesia ingin beralih ke skema bantuan yang lebih efektif.
Subsidi BBM memang masih menjadi penopang bagi banyak masyarakat Indonesia. Namun, temuan Bank Dunia menunjukkan bahwa manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.
Jika pemerintah mampu memperbaiki data penerima bantuan dan membangun sistem penyaluran yang lebih akurat, bantuan tunai berpotensi menjadi solusi yang lebih adil. Dengan begitu, anggaran negara dapat digunakan secara lebih efisien tanpa mengurangi perlindungan bagi masyarakat rentan.