Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bank Indonesia Ungkap Perang Timur Tengah Picu Dampak Multi-Sektoral

Bank Indonesia Ungkap Perang Timur Tengah Picu Dampak Multi-Sektoral
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Desrty Damayanti. (IDN Times/Triyan).
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Bank Indonesia menilai perang antara AS, Israel, dan Iran memicu dampak multi-sektoral serta mengubah perilaku pasar global melalui jalur finansial langsung maupun tidak langsung.
  • Dampak tidak langsung terlihat dari aliran modal keluar sekitar Rp21 triliun, penguatan dolar AS, serta kenaikan yield obligasi akibat meningkatnya ketidakpastian dan sentimen risk-off.
  • Konflik turut mendorong lonjakan harga minyak, emas, LNG, batubara, dan CPO karena gangguan distribusi di Selat Hormuz serta meningkatnya permintaan energi alternatif dan instrumen safe haven.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia mengungkapkan eskalasi perang Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel dan Iran telah membawa dampak yang multi sektoral dan multi market dan memicu perubahan perilaku pelaku pasar di berbagai negara. Dari sisi jalur transmisi, dampak konflik tersebut terbagi menjadi dua, yakni dampak langsung (direct impact) dan tidak langsung (indirect impact), terutama melalui kanal finansial.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan dampak secara langsung terhadap sektor finansial tidak terlalu besar, serta reaksi pasar di Timur Tengah relatif terbatas. Lantaran, keduanya bukan merupakan pusat keuangan dunia (financial hub), sehingga reaksi pasar di kawasan Timur Tengah cenderung tidak terlalu besar.

"Kita menghadapi situasi yang memang tidak biasa-biasa saja. Khususnya situasi di regional dan di global karena kami melihat dampak dari perang Amerika Serikat, Israel dan Iran, itu ternyata memang mempunyai dampak yang multi-sektoral, kemudian multi-market juga," tegas Destry Damayanti dalam Central Banking Forum 2026, Senin (13/4/2026).

1. Konflik Timur Tengah picu gejolak di pasar keuangan global dan domestik

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Namun, dampak tidak langsung cukup besar karena Amerika Serikat merupakan pusat keuangan dunia. Konflik ini meningkatkan ketidakpastian pasar, memicu perilaku risk-off, dan mendorong aktivitas safe haven. Aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sempat mengalami outflow sekitar Rp21 triliun. Selain itu, yield obligasi AS naik ke 4,5–4,6 persen, sementara indeks dolar AS (DXY) menguat, memberi tekanan pada nilai tukar dan ekspektasi inflasi global.

“Mereka tidak ingin mengambil risiko, sehingga memicu aktivitas safe haven. Untuk amannya, modal dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih stabil,” jelas Destruy.

Menurutnya, Amerika Serikat sebagai financial hub menjadi pusat dari seluruh sektor keuangan global. Kondisi geopolitik di wilayah strategis seperti Iran pun berdampak luas, tidak hanya pada sektor finansial, tetapi juga pada aspek ekonomi lainnya.

“Ketidakpastian pasar keuangan global dan sentimen risiko meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di pasar global lainnya. Para pelaku keuangan cenderung menjauh dari risiko, yang memperkuat perilaku risk-off di pasar internasional,” tegasnya.

2. Dampak lain berasal dari harga komoditas global

Ilustrasi harga BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi harga BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Destruy, jalur lain dampak perang Iran terkait harga komoditas, yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung terlihat pada minyak, karena Iran merupakan penghasil utama minyak, ditambah Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi kapal-kapal.

Meskipun pangsa produksi minyak Iran hanya 5 persen terhadap produksi global, gangguan distribusi di Selat Hormuz mencapai 20 persen dari suplai minyak dunia. Hal ini menyebabkan terganggunya produksi Gulf Oil dan mendorong kenaikan harga minyak global.

“Harga minyak beberapa hari terakhir naik karena ketidakpastian tinggi. Tiga hari lalu sempat muncul harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun kabar terbaru menunjukkan perundingan belum ada kesepakatan, sehingga harga minyak kembali naik, baik tengah malam maupun pagi tadi,” tegas Destry.

3. Komoditas emas hingga batu bara alami kenaikan

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Lebih lanjut, Destry menjelaskan konflik Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga komoditas lain selain minyak. Emas, misalnya, meningkat tajam sebagai safe haven, diikuti LNG, batubara, aluminium, dan CPO. Kenaikan batubara dipicu kebutuhan alternatif energi di beberapa negara, sedangkan CPO dan emas memberi peluang bagi ekspor Indonesia.

“Indirect impact ini cukup positif bagi Indonesia. Selain harga minyak naik, harga komoditas ekspor utama kita juga meningkat. Jadi perlu analisis seimbang dalam melihat peluang dan risiko,” jelas Destry.

Dampak perang juga menyentuh jalur perdagangan. Meskipun PDB Iran relatif kecil, di bawah 1 persen terhadap global, serta ekspor-impor Iran juga terbatas, hambatan di Selat Hormuz mengganggu rantai pasok UAE dan Arab Saudi. Kondisi ini menimbulkan efek lanjutan bagi negara lain, termasuk Cina, Irak, UAE, Turki, India, dan Indonesia, akibat terganggunya suplai komoditas utama.

"Dengan demikian, konflik ini meningkatkan juga biaya pengapalan dan premium asuransi naik. Jadi logistiknya juga naik, sehingga terjadi gangguan terhadap global supply chain. Jadi kesimpulannya harga komoditas global naik, mulai dari emas naik, minyak naik, indeks harga komoditas ekspor Indonesia juga naik, kemudian produk pertanian juga harganya naik," tegas Destry.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More