Daftar Mata Uang Terkuat Lawan Dolar AS di 2026, Rupiah Anjlok

- Berdasarkan data Deutsche Bank hingga 30 Juni 2026, peso Kolombia menjadi mata uang terkuat terhadap dolar AS dengan penguatan 19,2 persen, disusul shekel Israel 13,2 persen dan forint Hungaria 8,9 persen.
- Rupiah melemah 9,3 persen terhadap dolar AS pada Juni 2025–Juni 2026, menempati peringkat ke-31 dari 36 mata uang; pelemahannya sedikit lebih ringan dibanding rupee India, yen, won, lira, dan peso Argentina.
- Kinerja mata uang dipengaruhi suku bunga, kondisi ekonomi, arus modal, kebijakan, dan sentimen pasar; beberapa mata uang Teluk nyaris stabil karena dipatok atau terikat erat dengan dolar AS.
Pergerakan nilai tukar mata uang sepanjang 2026 menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok di berbagai negara. Berdasarkan data Deutsche Bank hingga 30 Juni 2026, sejumlah mata uang justru berhasil menguat terhadap dolar AS dalam setahun terakhir.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia mengalami tekanan cukup besar, termasuk rupiah yang turun 9,3 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat posisi rupiah berada di jajaran mata uang dengan kinerja terlemah dalam daftar 36 mata uang utama.
Lantas, mata uang negara mana saja yang berhasil menjadi jawara dalam menghadapi dolar AS?
Table of Content
1. Peso Kolombia

ilustrasi Colombia, Kolombia (pexels.com/Oscar Andres Roballo) Peso Kolombia menjadi mata uang dengan kinerja paling kuat terhadap dolar AS sepanjang periode Juni 2025 hingga Juni 2026. Berdasarkan data Deutsche Bank, peso Kolombia menguat sebesar 19,2 persen dalam satu tahun. Angka tersebut membuatnya unggul cukup jauh dari mata uang di posisi kedua, yakni shekel Israel yang menguat 13,2 persen. Dengan kata lain, peso Kolombia memiliki selisih penguatan sekitar 6 poin persentase dari pesaing terdekatnya.
Kinerja tersebut juga membuat Kolombia berada di posisi yang cukup unik dalam daftar mata uang global. Pasalnya, kawasan Amerika Latin justru memiliki mata uang dengan performa paling kuat sekaligus paling lemah dalam daftar ini. Peso Kolombia menguat 19,2 persen, sedangkan peso Argentina anjlok 18,9 persen terhadap dolar AS. Artinya, terdapat selisih kinerja hingga 38,1 poin persentase di antara keduanya.
2. Shekel Israel dan forint Hungaria

ilustrasi Budapest, Hungaria, Eropa (pexels.com/Begimai Nurmametova) Shekel Israel menempati posisi kedua setelah mencatat penguatan sebesar 13,2 persen terhadap dolar AS. Posisi berikutnya ditempati forint Hungaria yang naik 8,9 persen dalam periode yang sama. Rand Afrika Selatan dan peso Meksiko kemudian melengkapi lima besar dengan penguatan masing-masing 8,1 persen dan 7,7 persen. Jadi, lima mata uang teratas dalam daftar ini sama-sama berhasil mencatat pertumbuhan positif terhadap dolar AS.
Salah satu faktor yang dapat membuat mata uang lebih menarik bagi investor asing adalah tingkat suku bunga. Imbal hasil yang lebih tinggi bisa mendorong investor mencari aset dalam mata uang tersebut sehingga permintaannya ikut meningkat. Namun, kamu juga perlu melihat bahwa nilai tukar bukan hanya ditentukan oleh suku bunga. Kondisi ekonomi, arus modal, kebijakan pemerintah, hingga sentimen pasar juga bisa memengaruhi pergerakan sebuah mata uang.
3. Yuan China hingga ringgit Malaysia

ilustrasi renminbi, yuan, mata uang China (magnific.com/xb100) Beberapa mata uang Asia masih mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS meski performanya gak sebesar negara-negara di posisi teratas. Yuan China naik 5,6 persen, sedangkan dolar Australia dan real Brasil sama-sama menguat 5,2 persen. Ringgit Malaysia juga masih berada di zona positif dengan kenaikan 3,1 persen. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa gak semua mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Setelah ringgit, sejumlah mata uang lain hanya mengalami perubahan kecil atau justru mulai melemah. Krona Norwegia masih naik 1,8 persen, sedangkan peso Chile dan pound Mesir masing-masing bertambah 1 persen dan 0,8 persen. Dolar Hong Kong bahkan hanya bergerak 0,1 persen terhadap dolar AS. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa kondisi setiap negara punya pengaruh besar terhadap arah mata uangnya, meski masih berada dalam kawasan geografis yang sama.
4. Rupiah anjlok 9,3 persen

ilustrasi lembaran uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens) Rupiah berada di posisi ke-31 dari 36 mata uang yang dibandingkan dalam data tersebut. Mata uang Indonesia tercatat melemah 9,3 persen terhadap dolar AS dalam periode satu tahun hingga Juni 2026. Posisi rupiah berada di bawah dolar Taiwan dan peso Filipina yang masing-masing turun 8,2 persen. Sementara itu, rupee India mengalami pelemahan sedikit lebih dalam, yakni 9,4 persen.
Rupiah juga masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya dalam daftar tersebut. Yen Jepang anjlok 11,3 persen, won Korea Selatan turun 12,6 persen, sedangkan lira Turki merosot 14,6 persen. Posisi paling bawah ditempati peso Argentina dengan penurunan 18,9 persen. Jadi, meski pelemahan rupiah cukup terasa, kinerjanya belum menjadi yang terburuk di antara 36 mata uang yang dianalisis.
5. Kenapa beberapa mata uang bisa sangat stabil?

ilustrasi Qatar (pexels.com/なかむーちょ Nakamuhcho) Gak semua mata uang dalam daftar tersebut mengalami perubahan besar terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong, dirham Uni Emirat Arab, riyal Qatar, dan riyal Arab Saudi tercatat bergerak kurang dari 0,2 persen terhadap dolar AS. Bahkan dirham UEA dan riyal Qatar tercatat gak mengalami perubahan atau berada di angka 0 persen. Kondisi ini bukan berarti mata uang tersebut secara alami selalu lebih kuat daripada dolar AS, lho.
Pergerakan yang sangat kecil tersebut berkaitan dengan kebijakan nilai tukar negara-negara tersebut. Mata uang mereka dipatok atau memiliki keterikatan yang sangat erat dengan dolar AS sehingga ruang pergerakannya memang dibatasi. Bagi negara-negara Teluk, keterikatan tersebut juga penting karena minyak sebagai komoditas utama mereka umumnya diperdagangkan menggunakan dolar AS. Jadi, ketika kamu melihat mata uang tertentu hampir tidak bergerak terhadap dolar, hal itu bisa saja merupakan hasil dari kebijakan nilai tukar, bukan semata-mata karena kondisi ekonominya lebih kuat.
Data sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026 menunjukkan betapa beragamnya kinerja mata uang dunia terhadap dolar AS. Peso Kolombia menjadi juara dengan penguatan 19,2 persen, sementara shekel Israel dan forint Hungaria juga mencatat kenaikan yang cukup tinggi. Di sisi lain, rupiah melemah 9,3 persen dan masuk jajaran mata uang dengan performa terlemah dalam daftar tersebut.
Buat kamu yang sering bertransaksi menggunakan dolar AS, kondisi nilai tukar seperti ini penting diperhatikan karena bisa berdampak pada biaya perjalanan, belanja barang impor, hingga investasi.





















