BBC PHK 2 Ribu Staf di Tengah Krisis Keuangan Terbesar dalam 15 Tahun

- BBC akan memangkas 2 ribu staf atau 10 persen karyawan untuk menghemat 500 juta poundsterling akibat tekanan inflasi, penurunan pendapatan lisensi, dan ketidakpastian ekonomi global.
- Perusahaan menghadapi tantangan besar karena kehilangan ratusan ribu pembayar lisensi tiap tahun seiring peralihan penonton ke platform streaming seperti Netflix dan Disney.
- Ofcom memperingatkan ancaman terhadap televisi publik di era streaming, mendorong BBC memperluas layanan digital seperti iPlayer dan menjalin kerja sama konten dengan YouTube.
Jakarta, IDN Times - BBC mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2 ribu staf atau sekitar 10 persen dari total karyawannya. Langkah efisiensi terbesar sejak 2011 ini diambil, guna menghemat anggaran tahunannya sebesar 500 juta poundsterling (sekitar Rp11,5 triliun) selama dua tahun ke depan.
Direktur Utama sementara, Rhodri Talfan Davies, mengungkapkan bahwa tekanan inflasi tinggi, penurunan pendapatan lisensi, dan ketidapastian ekonomi global menjadi pemicu utama. Ia juga mengatakan kesenjangan antara biaya dan pendapatan BBC semakin melebar.
"Saya tahu ini menimbulkan ketidakpastian yang nyata, tetapi kami ingin bersikap terbuka tentang tantangan ini," kata Davies dalam sebuah email kepada staf pada 15 April 2026, dilansir Asahi Shimbun, Jumat (17/4/2026).
1. Tekanan keuangan yang berdampak pada operasional BBC

Pemangkasan besar-besaran ini terjadi di tengah masa transisi kepemimpinan. Bulan depan, mantan eksekutif Google, Matt Brittin, akan resmi menjabat sebagai Direktur Utama menggantikan Tim Davie.
Sebelumnya, Davie mengundurkan diri menyusul serangkaian kontroversi. Ini termasuk gugatan pencemaran nama baik senilai 10 miliar dolar AS (Rp171,4 triliun) dari Presiden AS Donald Trump terkait dokumenter kerusuhan Gedung Capitol AS.
Selain PHK, BBC akan menerapkan pengetatan biaya operasional, termasuk pembatasan perjalanan, perekrutan, dan penggunaan konsultan. Fokus penghematan utama ditargetkan tercapai pada tahun fiskal 2027-2028.
2. Transformasi media global ke layanan streaming

The Guardian melaporkan, pada 1 April 2026, biaya lisensi tahunan Inggris meningkat seiring dengan inflasi, dari 174,50 poundsterling (Rp4 juta) menjadi 180 poundsterling (Rp4,1 juta).
BBC memperoleh 3,8 miliar poundsterling (Rp88 triliun) dari pengumpulan biaya lisensi tahun lalu, dari 23,8 juta rumah tangga. Jumlah tersebut ditambah 2 miliar poundsterling (Rp46,3 triliun) dari kegiatan komersial dan hibah. Namun, BBC terus kehilangan sekitar 300 ribu pembayar lisensi per tahun karena penonton beralih ke platform streaming, seperti Netflix dan Disney.
Saat ini, BBC dan pemerintah tengah menegosiasikan model pendanaan baru, guna memastikan keberlangsungan lembaga penyiaran publik tersebut di era digital. Ini termasuk kemungkinan reformasi sistem biaya lisensi.
3. Badan pengawas media Inggris telah memperingatkan gempuran era streaming

Tahun lalu, Ofcom, badan pengawas media, memperingatkan bahwa televisi layanan publik yang diproduksi oleh BBC, ITV, serta Channel 4 dan 5, menjadi media yang terancam hilang di era streaming. BBC berupaya memperluas layanan iPlayer-nya, termasuk mengumumkan kesepakatan konten dengan YouTube pada Januari.
Didirikan pada 1922, BBC menjadi layanan radio untuk memberi informasi, mendidik, dan menghibur. Saat ini, perusahaan media tersebut mengoperasikan 15 saluran televisi nasional dan regional Inggris, beberapa saluran internasional, 10 stasiun radio nasional, puluhan stasiun radio lokal, serta layanan radio World Service yang menjangkau seluruh dunia. BBC tetap menjadi salah satu institusi media paling berpengaruh di dunia.



















