Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Beda dengan AS, China Belum Kena Hantam Badai PHK akibat AI

Beda dengan AS, China Belum Kena Hantam Badai PHK akibat AI
ilustrasi China atau Tiongkok (unsplash.com/Catgirlmutant)
Intinya Sih
  • Pemerintah China menjaga stabilitas kerja lewat target pengangguran 5,5%, membuat perusahaan lebih hati-hati melakukan PHK besar meski teknologi AI terus berkembang.
  • Biaya tenaga kerja yang masih rendah dan peran pekerja yang fleksibel bikin perusahaan di China cenderung memadukan AI dengan manusia, bukan menggantikan sepenuhnya.
  • Tingkat digitalisasi bisnis yang belum sematang AS membuat adopsi AI di China berjalan lebih lambat, sehingga dampak PHK massal akibat otomatisasi belum terasa signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perkembangan AI memang bikin banyak pekerja waswas, apalagi setelah gelombang PHK besar di perusahaan teknologi Amerika Serikat terus jadi sorotan. Di Silicon Valley, AI mulai sering dikaitkan dengan efisiensi kerja sampai pemangkasan tim dalam waktu cepat.

Menariknya, situasi yang sama belum terasa sekeras itu di China. Meski sama-sama agresif mengembangkan teknologi, pasar tenaga kerja China justru terlihat lebih “tertahan” dari gelombang PHK massal.

Ada beberapa alasan yang bikin kondisinya beda, mulai dari kebijakan pemerintah, struktur biaya tenaga kerja, sampai budaya kerja yang unik. Kalau kamu penasaran kenapa AI belum terlalu menghantam pasar kerja China, poin-poin berikut bakal membantumu memahaminya.

1. Target pemerintah bikin perusahaan lebih hati-hati

ilustrasi kantor open space (unsplash.com/Israel Andrade)
ilustrasi kantor open space (unsplash.com/Israel Andrade)

Salah satu pembeda terbesar antara China dan AS ada di cara pemerintah memandang tenaga kerja. Dilansir cnbc.com, Beijing punya target pengangguran perkotaan di kisaran 5,5 persen, sehingga stabilitas lapangan kerja jadi agenda nasional. Kondisi ini membuat perusahaan gak bisa sembarangan melakukan PHK besar hanya demi efisiensi teknologi.

Alex Lu, pendiri LSY Consulting, menjelaskan bahwa mandat ketenagakerjaan dari pemerintah ikut menahan perusahaan lokal untuk memangkas pekerja terlalu agresif. Fokusnya bukan sekadar mengejar margin, tapi juga menjaga stabilitas ekonomi sosial. Ini menunjukkan bahwa kebijakan negara masih sangat berpengaruh terhadap kecepatan otomatisasi.

2. Biaya tenaga kerja masih jauh lebih murah

ilustrasi karyawan sedang merokok
ilustrasi karyawan sedang merokok (unsplash.com/Fenghua)

Alasan lain kenapa AI belum memicu PHK massal di China adalah biaya tenaga kerja yang relatif lebih rendah dibanding AS. Gaji engineer algoritma yang banyak dicari rata-rata sekitar 20.035 yuan per bulan, atau kurang lebih setara 35.000 dolar per tahun. Angka ini jauh di bawah standar engineer level menengah di Silicon Valley yang bisa menyentuh 300.000 dolar per tahun.

Kalau kamu lihat dari sisi bisnis, insentif mengganti manusia dengan AI jadi gak sebesar di Amerika. Saat biaya karyawan masih cukup “murah”, perusahaan cenderung memilih memadukan AI dengan tenaga manusia daripada langsung memangkas tim. Efisiensi memang tetap dicari, tapi belum sampai level yang memicu restrukturisasi brutal.

3. Peran pekerja di China lebih sulit digantikan penuh

ilustrasi karyawan fokus bekerja
ilustrasi karyawan fokus bekerja (unsplash.com/blue sky)

Menariknya, banyak pekerja di perusahaan China justru memegang tugas yang lebih luas. Seorang engineer bisa merangkap banyak fungsi, mulai dari teknis, koordinasi, sampai support operasional. Tina Zhou, pendiri startup marketing Boomfluence.ai yang berbasis di Beijing, menilai pola kerja seperti ini membuat AI lebih sulit mengambil alih satu posisi secara utuh.

Bagi pekerja di industri digital, poin ini penting banget untuk dipahami. AI memang jago mengotomatisasi tugas spesifik, tapi jauh lebih sulit menggantikan pekerjaan yang sifatnya campuran dan fleksibel. Karena itu, perusahaan di China lebih banyak memakai AI sebagai alat bantu produktivitas, bukan pengganti total tenaga kerja.

4. Digitalisasi perusahaan belum sematang AS

ilustrasi AI
ilustrasi AI (pexels.com/Matheus Bertelli)

Faktor berikutnya datang dari struktur bisnis itu sendiri. Banyak perusahaan di China masih belum sedigital perusahaan AS, terutama dalam penggunaan software enterprise skala besar. Saat sistem kerja belum sepenuhnya terdigitalisasi, integrasi AI untuk menggantikan alur kerja manusia tentu gak bisa dilakukan secepat di Amerika.

Alex Lu juga menyoroti bahwa banyak tools AI populer di China masih fokus pada produktivitas individu, bukan solusi enterprise yang bisa mengganti satu divisi sekaligus. Buat kamu yang membayangkan AI langsung memangkas ribuan pekerjaan, realitanya implementasi di level perusahaan besar masih butuh proses panjang.

5. AI tetap tumbuh, tapi arahnya lebih ke reposisi kerja

ilustrasi perusahaan Alibaba
ilustrasi perusahaan Alibaba (unsplash.com/Ban Daisy)

Bukan berarti China bebas dari dampak AI, ya. Alibaba sempat melaporkan penurunan jumlah karyawan lebih dari 30 persen untuk memprioritaskan strategi AI. Meski begitu, perusahaan lain seperti Tencent dan Huawei justru masih menambah tenaga kerja, terutama di riset dan pengembangan.

Artinya, AI di China saat ini lebih banyak menggeser kebutuhan skill dibanding memusnahkan pekerjaan secara massal. Kalau kamu ingin tetap relevan, fokus terbaik bukan takut pada AI, melainkan meningkatkan skill di bidang engineering, chip, robotik, data, dan operasional berbasis teknologi. Pasar kerja mungkin berubah, tapi peluang baru juga terus terbuka.

Gelombang PHK akibat AI memang sudah terasa nyata di AS, tapi China masih berada di fase yang berbeda. Campuran antara target pemerintah, ongkos tenaga kerja yang lebih rendah, peran kerja yang fleksibel, dan digitalisasi yang belum sepenuhnya matang membuat dampaknya lebih tertahan.

Buat kamu, kondisi ini jadi pengingat bahwa AI gak selalu berarti hilangnya pekerjaan secara instan. Lebih sering, teknologi justru mengubah bentuk pekerjaan dan skill yang dibutuhkan. Jadi daripada panik soal PHK, langkah paling realistis adalah mulai menyesuaikan kemampuanmu dengan arah industri yang makin dekat dengan AI.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More