Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BI Bongkar Biang Kerok Rupiah Sempat Jebol Rp17.500 per Dolar AS
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Triyan).
  • Bank Indonesia menjelaskan pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS dipicu gejolak global akibat konflik Timur Tengah yang menaikkan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.
  • Rupiah sempat melemah namun ditutup menguat di level Rp17.475,5 per dolar AS, sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya sejak akhir Februari 2026.
  • Selain faktor global, permintaan dolar meningkat karena repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan haji; BI tetap optimistis stabilitas rupiah terjaga berkat kebijakan moneter dan ekonomi domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Uang rupiah sempat lemah banget sampai Rp17.500 buat satu dolar Amerika. Katanya gara-gara ada perang di Timur Tengah, jadi harga minyak naik dan orang-orang takut. Banyak uang negara lain juga ikut lemah. Tapi sekarang rupiah sudah agak kuat lagi, dan Bank Indonesia bilang semuanya masih aman dan akan dijaga baik-baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tekanan global akibat konflik dan lonjakan harga minyak, rupiah menunjukkan ketahanan dengan berhasil menguat pada penutupan perdagangan. Pernyataan Bank Indonesia yang menegaskan solidnya fundamental ekonomi domestik serta optimisme terhadap efektivitas bauran kebijakan moneter mencerminkan keyakinan bahwa stabilitas nilai tukar masih terjaga meski menghadapi tantangan eksternal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dipengaruhi gejolak global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong naiknya harga minyak dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Mata uang Garuda berhasil menguat pada penutupan perdagangan, Rabu (13/5/2026) pada level Rp17.475,5 per dolar AS. Berdasarkan Bloomberg, rupiah menguat hingga 53 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang negara berkembang sejak akhir Februari 2026.

“Pergerakan nilai tukar di berbagai negara sangat dipengaruhi dinamika global, terutama konflik Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia,” ujar Denny di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5 persen turut memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market. Pada akhir Februari lalu, yield obligasi AS tersebut masih berada di kisaran 4 persen.

“Termasuk juga kecenderungan penguatan indeks dolar AS,” katanya.

Denny menegaskan tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang lain seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, won Korea Selatan, hingga beberapa mata uang Amerika Latin juga mengalami pelemahan.

Meski demikian, ia mengakui terdapat faktor domestik yang turut mendorong peningkatan permintaan dolar AS.
“Ada faktor domestik seiring repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing untuk penyelenggaraan ibadah haji,” ungkapnya.

Meski begitu, BI optimistis stabilitas rupiah akan tetap terjaga seiring penguatan bauran kebijakan moneter dan fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih solid.

Editorial Team