Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rontoknya Rupiah dan Tekanan APBN, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi RI?

Rontoknya Rupiah dan Tekanan APBN, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi RI?
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah anjlok ke level Rp17.500 per dolar AS, diperparah keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional.
  • Pemerintah dorong penerbitan SBN berimbal hasil tinggi hingga 7 persen untuk menarik investor, namun strategi ini memperberat beban bunga utang dan mengeringkan likuiditas perbankan domestik.
  • Pelemahan rupiah dan defisit fiskal yang melebar meningkatkan risiko penurunan rating surat utang, memicu capital outflow, serta memperlambat sektor riil yang berdampak pada biaya hidup dan potensi PHK.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah berada pada titik nadir. Dua hari ini, Selasa, (12/5/2026) dan Rabu, (13/5), kurs rupiah menyentuh level terburuk sepanjang sejarah, yakni Rp17.500-an per dolar AS.

Pelemahan rupiah diperparah dengan rilisnya hasil rebalancing indeks dari dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), di mana sebanyak 6 saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai menjadi sinyal bahaya bagi perekonomian Indonesia, tentang bagaimana dampaknya pada kenaikan harga barang-barang, terutama minyak dunia.

Menurut Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies(CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, pelemahan rupiah menjadi tantangan besar, ditambah lagi dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang rentan.

1. Lingkaran setan utang dan yield yang kian mencekik

Ilustrasi Utang (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Utang (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemerintah dilihat terjebak dalam dilema besar untuk menarik minat investor agar tetap bertahan di pasar domestik. Salah satu strategi yang diambil adalah dengan mendorong penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dengan imbal hasil (yield) yang sangat tinggi, bahkan diprediksi bisa menembus angka 7 persen.

Namun, langkah ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, yield tinggi bisa menarik modal masuk, tetapi di sisi lain, hal ini menjadi beban bunga utang yang sangat nyata bagi APBN.

“Kalau beban bunga utang yang makin berat tahun ini mungkin bisa napas tuh, tapi defisitnya kan sudah hampir 3 persen. Nah, tahun berikutnya dengan beban bunga utang yang semakin berat mau ditutup dengan apa? Dengan penerbitan utang baru lagi?," ujar Bhima.

Kondisi "gali lubang tutup lubang" itu dikhawatirkan akan membuat keseimbangan primer semakin melebar dan membuat postur fiskal Indonesia menjadi tidak produktif, serta rentan terhadap guncangan.

2. Efek dominasi SBN yang "mengeringkan" likuiditas perbankan

Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)

Tekanan tidak hanya berhenti pada beban bunga, tetapi juga merembet ke sektor perbankan domestik. Ketika pemerintah secara jor-joran menerbitkan SBN dengan imbal hasil tinggi untuk menyedot dana, terjadi fenomena di mana dana perbankan ikut terserap masuk ke surat utang negara tersebut.

Hal itu menciptakan persaingan perebutan dana yang berpotensi membuat likuiditas di sektor riil menjadi kering.

“Pemerintah sepertinya ya kalau saya lihat itu akan mendorong penerbitan SBN dengan imbal hasil yang lebih tinggi lagi. Bahkan, mungkin menembus lebih dari 7 persen, dan ini akan jor-joran untuk menyedot dana domestik tapi juga dari perbankan juga akan pindah ke SBN,” ujar Bhima.

Kondisi itu diperparah dengan realita bahwa per April hingga Mei 2026, cadangan devisa kita terus mengalami tren penurunan, menyentuh angka terendah sejak pertengahan 2024. Penurunan cadangan devisa itu membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi pasar secara agresif guna menstabilkan rupiah.

Akibatnya, kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia pun ikut tergerus. Ketidakpercayaan terhadap kebijakan fiskal ini akhirnya memicu capital outflow atau larinya modal asing keluar dari Indonesia, yang secara otomatis memberikan tekanan ganda bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

“Jadi capital outflow udah terjadi kan, Rp40 triliun lebih menguap dari pasar modal dalam bentuk net sales asing dari mulai Januari sampai hari ini. Jadi memang itu sudah terjadi tekanan dari sisi pasar keuangan, ada faktor distrust terhadap kebijakan fiskal terutama, dan kebijakan Presiden Prabowo ini,” tutur Bhima.

3. Risiko penurunan rating surat utang dan melambatnya sektor riil

Ilustrasi Utang. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Utang. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dengan posisi nilai tukar rupiah yang sempat melampaui angka Rp17.500 per dolar AS—jauh melampaui asumsi APBN di angka Rp16.500—beban utang luar negeri secara otomatis membengkak dalam denominasi rupiah.

Jika tata kelola manajemen fiskal tetap mengandalkan utang dengan bunga tinggi tanpa adanya perbaikan efisiensi belanja, Indonesia menghadapi risiko nyata berupa penurunan rating surat utang dari lembaga internasional.

Bhima mengatakan, manajemen fiskal yang terlalu bertumpu pada utang ini patut dipertanyakan. Jika defisit terus dipaksakan dan risiko gagal bayar (yang tercermin dari kenaikan Credit Default Swap) terus meningkat, maka rupiah akan semakin sulit untuk bangkit.

"Maka defisit keseimbangan primernya bisa semakin besar dan itu membuat fiskal bukan hanya gak produktif tapi rentan. Nanti risiko adanya penurunan rating surat utang itu bisa jadi konsekuensinya dan rupiahnya bisa makin lemah," tutur Bhima.

Pada akhirnya, masyarakat luas yang akan merasakan dampaknya, melalui kenaikan biaya hidup, dan ancaman pemutusam hubungan kerja (PHK) yang kian nyata akibat melambatnya roda ekonomi sektor riil.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta
Follow Us

Related Articles

See More