Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)
Untuk melihat distribusi likuiditas tersebut, BI memantau kondisi masing-masing bank, termasuk pemanfaatan likuiditas melalui rasio Loan to Deposit Ratio (LDR).
Destry mengatakan, LDR yang relatif tinggi saat ini terlihat pada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), seiring dengan pertumbuhan kredit yang cukup besar.
"Pertumbuhan kredit di Juli sudah mencapai 13,6 persen, namun DPK tumbuh sebesar 11,21 persen. Jadi di sini memang ada satu gap," ujar dia.
Menurut Destry, kondisi tersebut berbeda dengan periode sebelumnya ketika pertumbuhan DPK cenderung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit. Saat ini, pertumbuhan kredit justru lebih cepat dibandingkan DPK.
Karena itu, BI melakukan pemantauan secara lebih terperinci atau granular untuk melihat bank yang memiliki kondisi likuiditas ketat maupun bank dengan likuiditas berlebih.
"Kami di BI analisa itu benar-benar dilihat secara granular, kita lihat bank-bank mana yang likuiditasnya tight, dan mana yang over likuid," kata Destry.
Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar bagi BI dalam menentukan kebijakan untuk menjaga kondisi likuiditas di industri perbankan.
Destry menegaskan kondisi likuiditas di industri perbankan saat ini tidak sepenuhnya terdistribusi secara merata. Likuiditas cenderung tersegmentasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing bank.
"Jadi artinya di sini kita lihat likuiditas yang ada di industri itu tersegmentasi, tidak terdistribusi secara merata," ucap dia.