BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Tembus 5,2 Persen

- Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,2 persen, didorong oleh kekuatan sumber pertumbuhan domestik dan konsumsi rumah tangga yang meningkat.
- Konsumsi masyarakat naik berkat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional, pemberian THR, serta bantuan sosial pemerintah yang memperkuat daya beli dan indeks penghasilan konsumen.
- Meskipun PMI Manufaktur turun ke 50,1 akibat lemahnya permintaan baru dan ekspor, sektor manufaktur tetap tangguh berkat stabilitas permintaan domestik dan optimisme pelaku usaha.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,2 persen pada kuartal I-2026. Hal ini didorong oleh sumber pertumbuhan ekonomi domestik. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diperkirakan berada dalam rentang 4,9–5,7 persen.
“Pada kuartal I-2026, ekonomi kita diperkirakan masih tumbuh di atas 5 persen sekitar 5,2 persen,” ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, di Jakarta pada Senin (13/4/2026).
1. Komponen penopang laju ekonomi

Mnurut Destry, konsumsi rumah tangga meningkat karena didukung oleh perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional, kenaikan penghasilan dari tunjangan hari raya (THR), dan bantuan sosial pemerintah. Berdasarkan data BI, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 129,2 pada Maret 2026, meningkat dari 125 pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini meningkat pada seluruh kelompok, dengan indeks tertinggi 135,9 pada kelompok dengan gaji di atas Rp5 juta. Dari sisi usia, seluruh kelompok mengalami peningkatan indeks, kecuali responden berusia 20–30 tahun yang sedikit menurun menjadi 138,3.
“Pada kuartal I-2026, kami perkirakan indeks ini akan terus meningkat. Namun perhatian khusus tetap diperlukan bagi kelompok berpendapatan lebih rendah, karena mereka akan langsung merasakan dampaknya,” jelas Destry.
2. Ekspektasi terhadap kinerja PMI masih positif

Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi meski turun menjadi 50,1 pada Maret, dari 53,8 pada Februari. Penurunan ini menandakan aktivitas manufaktur melambat, tetapi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
“Secara keseluruhan, ekspektasi PMI tetap positif. Penurunan belakangan ini dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk situasi di Iran, namun momentum pertumbuhan tetap terjaga,” ujar Destry.
3. Penurunan PMI Manufaktur disebabkan oleh lemahnya sisi permintaan

Sementara itu, Direktur Jenderal Strategi ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menjelaskan penenurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan baru dan ekspor, serta meningkatnya biaya input akibat i dan gangguan rantai pasok global.
Meski demikian, sektor manufaktur tetap menunjukkan ketahanan yang kuat, didukung oleh stabilitas permintaan domestik dan optimisme pelaku usaha," ungkap Febrio Kacaribu dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Febrio mengeklaim ketahanan sektor manufaktur mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.
"Dengan adanya beberapa tantangan seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional akibat eskalasi geopolitik global, serta libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional, PMI tetap di zona ekspansi. Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan,” ujar Febrio.
















