Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 4,9-5,7 Persen
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
  • Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9-5,7 persen pada 2026 dan 5,2-6 persen pada 2027, setelah pertumbuhan semester I 2026 mencapai 5,45 persen.
  • Konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi menopang ekonomi, tetapi BI menilai investasi masih didominasi sektor terkait pemerintah sehingga peran swasta perlu ditingkatkan.
  • Prospek global 2026 menghadapi tekanan harga minyak, inflasi, dan kenaikan suku bunga The Fed yang memperkuat dolar serta memicu arus modal keluar dari emerging market.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bank Indonesia bilang ekonomi Indonesia tahun 2026 mungkin tumbuh 4,9 sampai 5,7 persen. Tahun 2027 bisa lebih besar. Destry Damayanti bilang belanja keluarga, pemerintah, dan investasi membantu ekonomi. Tapi harga minyak naik dan dolar kuat. Bank Indonesia berharap investasi swasta lebih banyak agar ekonomi makin kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Proyeksi BI menggambarkan fondasi ekonomi domestik yang tetap terjaga, dengan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi terus menopang aktivitas. Pertumbuhan di atas 5 persen pada kuartal II dan semester I 2026 memberi landasan bagi harapan penguatan pada 2027, terutama apabila peran investasi swasta, termasuk Danantara, meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada 2027 diproyeksikan meningkat menjadi 5,2-6 persen.

Gubernur BI Destry Damayanti menilai perekonomian domestik masih tumbuh cukup terjaga. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas 5 persen, yakni 5,29 persen pada kuartal II dan 5,45 persen pada semester I 2026.

"BI perkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di 4,9-5,7 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 5,2-6 persen pada 2027, dengan asumsi kenaikan investasi swasta, termasuk investasi Danantara," tegas Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

1. Laju ekonomi ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi domestik ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi. Menurut Destry, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Investasi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, Destry mencermati investasi saat ini masih banyak ditopang oleh sektor yang terkait dengan pemerintah.

"Investasi masih banyak didukung oleh government related. Ini menjadi tantangan ke depan, bagaimana peran investasi swasta akan terus ditingkatkan," katanya.

2. Peran investasi swasta diharapkan meningkat di 2027

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Menurut Destry, peningkatan investasi swasta menjadi salah satu faktor yang akan mendukung penguatan pertumbuhan ekonomi pada 2027. Meski demikian, ia tak menampik prospek ekonomi global pada 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun, kondisi global diperkirakan membaik pada 2027.

"Prospek ekonomi 2026 secara global memang agak gloomy. Namun demikian, di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan. Kami melihat 2027 secara global akan lebih baik dibandingkan 2026," ujarnya.

3. Tantangan global mulai dari harga minyak, inflasi hingga kebijakan The Fed

Gedung Federal Reserve (Instagram/the Fed)

Destry mengatakan, salah satu tantangan berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Pada 24 September 2026, harga minyak tercatat mencapai 125,53 dolar AS per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 sebesar 90,88 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut turut mendorong inflasi global. BI mencatat inflasi global saat ini berada di level 4,6 persen sehingga mendorong sejumlah bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

The Federal Reserve (The Fed), misalnya, baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV-2026.

Kondisi tersebut kemudian mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain. Indeks dolar AS atau DXY tercatat berada di level 111,11, sementara indeks mata uang Asia berada di level 96,26.

"Ini akhirnya mendorong penguatan dolar terhadap mata uang lainnya dan terjadi arus modal asing yang keluar dari emerging market dan kembali ke developed country, khususnya Amerika Serikat," jelas Destry.

Curated For You

Editorial Team

Related Article