BI Terus Turunkan Outstanding SRBI, Likuiditas Ekonomi Diperbesar

- BI menurunkan yield SRBI 12 bulan menjadi 6,76 persen dan outstanding menjadi Rp1.013,5 triliun per 23 September 2026 untuk memperluas likuiditas ekonomi.
- Likuiditas diperkuat melalui FX swap dan repo senilai sekitar Rp387 triliun sepanjang tahun ini, serta insentif KLM Rp491,2 triliun hingga minggu pertama September.
- Bank dengan kepemilikan surat berharga di bawah 19 persen dan aktif menyalurkan kredit dapat memperoleh insentif KLM total 6 persen; di atas batas hanya 4 persen.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) terus memangkas tingkat imbal hasil (yield) dan nilai outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah strategis ini dilakukan untuk memperlebar ruang likuiditas guna menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan, penyesuaian ini sejalan dengan komitmen bank sentral untuk memperkuat ekspansi likuiditas pasar melalui beragam instrumen kebijakan.
"Kami terus mendorong penurunan yield dan outstanding SRBI. Yield SRBI 12 bulan saat ini berada di level 6,76 persen, lebih rendah dibandingkan level tertingginya sebesar 7,74 persen," tegas Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
1. Outstanding SRBI tercatat turun jadi Rp1.013,5 triliun per 23 September

Rincian ekspansi likuiditas yang sudah dilakukan Bank Indonesia. (Dok/Istimewa). Selain imbal hasil, posisi outstanding SRBI terus bergerak turun. Per 23 September 2026, posisinya tercatat menyusut ke Rp1.013,5 triliun dari yang sebelumnya menyentuh Rp1.096 triliun. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan periode Juni 2026 yang sempat menembus Rp1.072,62 triliun, meski masih berada di atas posisi Januari 2026 sebesar Rp754,76 triliun.
Destry meyakini penurunan outstanding SRBI bakal membuka kran likuiditas yang lebih melimpah ke sektor riil. Kondisi ini diperkuat oleh suku bunga pasar uang antarbank overnight (IndONIA) yang kian melandai dari puncaknya 6,61 persen pada Juni 2026 menjadi 5,91 persen.
"Likuiditas cukup terkendali. Ini sejalan dengan ekspansi likuiditas yang dilakukan dan diperkuat oleh Bank Indonesia," kata Destry.
2. Ekspansi likuiditas diperkuat FX Swap dan Repo

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat) Tak hanya itu, BI juga memperkuat ekspansi likuiditas melalui instrumen foreign exchange (FX) swap dan repo. Secara kumulatif, tambahan likuiditas melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai sekitar Rp387 triliun sepanjang tahun ini.
Untuk memperkuat transmisi likuiditas ke sektor riil, BI juga terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
"Hingga minggu pertama September 2026, total insentif likuiditas yang telah diberikan mencapai Rp491,2 triliun," ungkapnya.
3. Skema insentif KLM perbankan tembus 6 persen

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk) BI juga menerapkan aturan ketat pada Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Bank yang menempatkan porsi dana lebih dari 19 persen pada surat berharga, seperti Surat Berharga Negara (SBN) maupun SRBI—tidak akan mendapatkan insentif tambahan, melainkan hanya insentif pembiayaan standar sebesar 4 persen.
Sebaliknya, perbankan yang mampu menahan kepemilikan surat berharga di bawah threshold 19 persen dan aktif menyalurkan kredit akan mendapat amunisi insentif ekstra sebesar 2 persen.
"Dengan demikian, total insentif KLM yang dapat diperoleh bank tersebut mencapai 6 persen," ungkapnya.
Destry menegaskan, BI bakal mengoptimalkan bauran kebijakan terintegrasi yang mencakup sektor moneter, makroprudensial, hingga sistem pembayaran demi mengawal stabilitas sekaligus memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















