BI Tingkatkan Diskon Premi Swap Lindung Nilai hingga 25 Persen

- BI menaikkan diskon premi swap lindung nilai untuk pendanaan luar negeri menjadi 15 persen pada tenor tiga bulan, 20 persen enam bulan, dan 25 persen 12 bulan.
- Diskon premi DNDF ditingkatkan menjadi 20 persen untuk tenor enam bulan dan 25 persen untuk 12 bulan, sejalan prinsip insentif lebih besar bagi dana asing yang ditempatkan lebih lama.
- Kebijakan ini mendukung stabilisasi rupiah dan likuiditas melalui intervensi NDF, spot, DNDF, serta insentif LCT; rupiah pada 22 September 2026 berada di Rp17.855 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperbesar insentif untuk transaksi lindung nilai melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, kebijakan tersebut menerapkan prinsip higher for longer. Artinya, semakin lama dana asing ditempatkan di pasar keuangan domestik, semakin besar insentif yang diberikan.
"Kami memberikan kebijakan insentif yang sifatnya higher for longer. Kalau dia makin lama menaruh di sini, baik itu swap atau DNDF, makin lama sampai satu tahun kita bisa memberikan insentif cukup besar," tutur Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2026 di Gedung Thamrin BI, Rabu (23/9/2026).
1. Rincian insentif yang ditebar BI

Logo Bank Indonesia Destry menjelaskan, BI meningkatkan insentif melalui pengurangan premi untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri. Transaksi yang dicakup antara lain portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI).
Untuk tenor tiga bulan, pengurangan premi ditetapkan sebesar 15 persen, tenor enam bulan 20 persen, dan tenor 12 bulan 25 persen. Sebelumnya, pengurangan premi ditetapkan sebesar 12,5 persen untuk seluruh tenor.
"BI juga memberikan insentif melalui instrumen DNDF. Pengurangan premi DNDF ditetapkan sebesar 20 persen untuk tenor enam bulan dan 25 persen untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 15 persen," jelasnya.
2. Penguatan insentif tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp) Destry mengatakan, penguatan insentif tersebut menjadi bagian dari strategi BI memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga kecukupan likuiditas rupiah.
"BI mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA)," bebernya.
3. BI perkuat strategi intervensi valas melalui NDF dan DNDF

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt) Dalam kebijakan stabilisasi rupiah, BI mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang agar tetap sejalan dengan BI-Rate dan suku bunga instrumen operasi moneter pro-market, disertai penguatan strategi operasi moneter.
"Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi," kata Destry.
Selain itu, BI melanjutkan pemberian insentif untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra guna mendorong diversifikasi transaksi valuta asing. Insentif tersebut berupa penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai atau Swap Jual Lindung Nilai kepada BI sebesar 10 persen serta pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10 persen.
Adapun nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78 persen secara point to point dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2026.
Dengan berbagai perkembangan terkini, BI memperkirakan rupiah bergerak stabil ke depan, didukung komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, imbal hasil yang menarik, inflasi yang tetap berada dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ucap Destry.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















