ilustrasi kafe (pexels.com/Kampus Production)
Berbeda dari indikator yang cuma bisa ditelusuri lewat data internal, ada sejumlah kejanggalan yang sebenarnya bisa tertangkap mata orang awam kalau cukup jeli. Salah satunya adalah kafe yang terlihat sepi hampir sepanjang waktu, jarang ada antrean, tapi tetap bertahan bertahun-tahun tanpa tanda kesulitan finansial. Sementara usaha sejenis di sekitarnya silih berganti tutup. Kejanggalan lain adalah ketidaksesuaian skala investasi dengan logika bisnis F&B. Misalnya, interior mewah, peralatan mahal, atau lokasi premium, padahal dari sisi pengunjung dan turnover menu terlihat tidak sebanding untuk balik modal dalam waktu wajar. Pola operasional yang tidak konsisten, contohnya jam buka-tutup berubah-ubah, sering libur mendadak, atau gaya hidup pemilik yang jauh di atas skala usahanya juga bisa jadi sinyal serupa.
Penting digarisbawahi, tanda-tanda ini sifatnya observasional dan tidak serta-merta membuktikan adanya pencucian uang. Banyak faktor sah yang bisa menjelaskan pola serupa. Misalnya, kafe sebagai proyek passion pemilik yang punya sumber pendapatan lain, subsidi dari bisnis keluarga, atau strategi jangka panjang untuk membangun brand. Kecurigaan semacam ini sebaiknya jadi bahan kewaspadaan pribadi, bukan tuduhan sepihak terhadap usaha tertentu.
Risiko pencucian uang ternyata tidak selalu datang dari sektor yang terlihat mencurigakan. Justru, bisnis kafe rentan dijadikan kedok money laundering karena memiliki citra bersih dan struktur modal yang masuk akal. Selain itu, jenis bisnis tersebut minim pengawasan ketat.
Buat pelaku usaha F&B yang menjalankan bisnisnya secara legit, pencatatan keuangan yang rapi bukan cuma soal patuh pajak, tapi juga jadi tameng dari kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sementara bagi otoritas pengawas, kerumitan modus di industri ini menuntut pendekatan audit yang lebih adaptif, tidak lagi sekadar mengandalkan besar-kecilnya nilai transaksi sebagai patokan utama kecurigaan.
Referensi
"How Do Criminals Launder Money Through a Restaurant?" Eater. Diakses pada Agustus 2026.
"Food crime: An often-ignored money laundering typology and a predicate crime" Journal of Economic Criminology. Diakses pada Agustus 2026.