Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Membuat Bisnis Kecil Sulit Bertahan di Marketplace?
ilustrasi marketplace (freepik.com/freepik)
  • Biaya komisi, iklan, logistik, kemasan, promosi, dan diskon dapat menggerus margin tipis bisnis kecil, sehingga transaksi ramai belum tentu menghasilkan laba memadai.
  • Visibilitas produk bergantung pada performa toko, kata kunci, transaksi, dan promosi berbayar; bisnis kecil juga menghadapi persaingan harga ketat dari penjual bermodal lebih besar.
  • Arus kas dapat tersendat karena modal stok dan operasional keluar sebelum dana penjualan diterima, sementara pengelolaan pesanan, stok, iklan, serta layanan pelanggan makin kompleks.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Marketplace menjadi salah satu tempat yang paling mudah bagi bisnis kecil untuk menjangkau pelanggan. Tanpa harus memiliki toko fisik, penjual bisa menawarkan produknya kepada jutaan pengguna. Cukup dengan mengunggah foto, menulis deskripsi produk, dan mengatur harga, produk bisa langsung ditemukan oleh banyak orang.

Namun, banyaknya calon pembeli ternyata tidak selalu membuat bisnis kecil lebih mudah bertahan. Di balik kemudahan tersebut, penjual harus menghadapi berbagai tantangan. Bahkan, toko yang terlihat ramai dan memiliki banyak transaksi belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar. Lantas, apa yang membuat bisnis kecil sulit bertahan di marketplace? Mari, kita kupas satu per satu alasannya!

1. Banyak biaya yang menggerus keuntungan

ilustrasi berjualan di marketplace (freepik.com/freepik)

Salah satu tantangan terbesar adalah biaya yang harus ditanggung penjual. Komisi marketplace bukan satu-satunya pengeluaran yang perlu diperhitungkan. Penjual juga bisa mengeluarkan biaya untuk iklan, layanan logistik, kemasan, program promosi, hingga potongan harga yang diberikan saat mengikuti kampanye tertentu. Jika produk yang dijual memiliki harga relatif murah, berbagai biaya tersebut bisa mengambil porsi yang cukup besar dari keuntungan.

Masalahnya, bisnis kecil biasanya memiliki margin keuntungan yang lebih tipis dibandingkan dengan perusahaan berskala besar. Ketika berbagai biaya terus bertambah, keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi pun ikut menyusut. Jika kondisi ini terus terjadi, penjualan yang terlihat tinggi belum tentu menghasilkan laba yang cukup untuk menjaga bisnis tetap berjalan.

2. Produk sulit terlihat tanpa iklan

ilustrasi marketplace (pexels.com/Negative Space)

Berjualan di marketplace bukan sekadar mengunggah produk, lalu pembeli datang sendirinya. Penjual juga perlu memastikan produknya muncul ketika calon pelanggan melakukan pencarian. Posisi produk dalam hasil pencarian dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk performa toko, kata kunci, jumlah transaksi, hingga promosi berbayar. Akibatnya, bisnis kecil bisa kesulitan mendapatkan perhatian ketika harus bersaing dengan toko yang memiliki modal lebih besar untuk beriklan.

Pada kondisi tertentu, penjual akhirnya harus mengeluarkan biaya tambahan agar produknya tetap terlihat. Biaya iklan ini harus dihitung dengan baik. Jika tidak, biaya iklan tersebut justru bisa mengurangi keuntungan dari penjualan.

3. Persaingan harga terlalu ketat

ilustrasi marketplace (pexels.com/AS Photography)

Marketplace membuat calon pembeli lebih mudah membandingkan harga. Dalam hitungan detik, seseorang bisa melihat puluhan toko yang menawarkan produk serupa. Kondisi ini menguntungkan konsumen, tetapi bisa menjadi tantangan bagi bisnis kecil. Ketika ada toko yang menjual produk dengan harga lebih rendah, penjual lain mungkin merasa harus ikut menurunkan harga agar tidak kehilangan pelanggan.

Lama-kelamaan, persaingan bisa berubah menjadi perang harga. Bisnis yang memiliki modal besar mungkin masih mampu bertahan dengan margin keuntungan yang kecil. Di sisi lain, UMKM harus berpikir lebih keras agar tetap mendapatkan keuntungan.

4. Arus kas bisa tersendat walapun penjualan ramai

ilustrasi menjalankan bisnis (pexels.com/fauxels)

Banyak transaksi bukan berarti uang langsung tersedia untuk digunakan. Salah satu masalah yang sering dihadapi penjual marketplace adalah jarak antara waktu mengeluarkan modal dan menerima hasil penjualan. Bisnis perlu membeli stok, membayar pemasok, menyediakan kemasan, dan memenuhi berbagai kebutuhan operasional terlebih dahulu. Sementara itu, dana dari penjualan baru bisa diterima setelah proses tertentu di marketplace selesai.

Jika stok yang dimiliki terlalu banyak, modal juga akan semakin lama tertahan dalam bentuk barang. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit bisa membuat penjual kehilangan kesempatan ketika permintaan meningkat. Karena itu, bisnis kecil tidak cukup hanya melihat jumlah omzet. Mereka juga perlu memperhatikan kapan uang keluar dan kapan uang benar-benar masuk.

5. Diskon bisa menekan margin

ilustrasi diskon (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Program diskon dan kampanye besar memang dapat mendatangkan lebih banyak pembeli. Namun, mengikuti terlalu banyak promosi juga bisa menjadi masalah jika perhitungannya tidak matang. Penjual mungkin harus memberikan potongan harga, voucher, atau subsidi tertentu agar produknya terlihat menarik. Ketika biaya tersebut digabungkan dengan komisi marketplace, biaya iklan, pengemasan, dan operasional lainnya, keuntungan yang tersisa bisa jauh lebih kecil. Bagi bisnis dengan margin tipis, peningkatan jumlah pesanan belum tentu sebanding dengan peningkatan laba.

6. Pengelolaan bisnis menjadi lebih kompleks

ilustrasi menjalankan bisnis (pexels.com/Kampus Production)

Terakhir, penyebab bisnis kecil sulit bertahan di marketplace adalah karena membutuhkan kemampuan digital dan pengelolaan operasional yang cukup baik. Penjual perlu memperbarui stok, mengelola pesanan, membalas pertanyaan pelanggan, membuat konten produk, mengatur promosi, memantau iklan, hingga memastikan pengiriman berjalan lancar. Jika bisnis mulai berjualan di beberapa platform sekaligus, pekerjaan tersebut bisa menjadi semakin rumit.

Bagi usaha kecil yang hanya memiliki sedikit tenaga kerja, semua tugas tersebut bisa menyita banyak waktu. Pemilik bisnis akhirnya tidak hanya berperan sebagai penjual, tetapi juga harus menjadi admin, pengelola stok, pemasar, sekaligus menangani layanan pelanggan. Ini tentu saja menyita banyak waktu dan energi untuk mengelola bisnis.

Marketplace memang membuka peluang besar bagi bisnis kecil, tetapi persaingan dan biaya yang tinggi bisa membuat keuntungan semakin tipis. Karena itu, penjual perlu mengelola biaya, arus kas, dan strategi penjualan dengan cermat agar bisnis tetap bertahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article