Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BNI Catat Laba Bersih Konsolidasi Rp20 Triliun sepanjang 2025

BNI
BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen. (Dok/Istimewa).
Intinya sih...
  • Capaian kinerja keuangan mencerminkan ketahanan model bisnis BNI
  • BNI aktif cermati perkembangan makroekonomi dan kinerja intermediasi tetap solid
  • Dana murah BNI tumbuh 28,9% dan laba bersih konsolidasi capai Rp20 triliun sepanjang 2025
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat kinerja fundamental yang solid sepanjang 2025 di tengah tekanan volatilitas global dan penurunan suku bunga acuan. Kredit BNI tumbuh 15,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara laba bersih konsolidasi mencapai Rp20 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang struktur pendanaan yang kuat, tercermin dari porsi dana murah (CASA) yang solid, sehingga menjaga efisiensi biaya dana.

1. Capaian kinerja keuangan cerminkan ketahanan model bisnis

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.

"Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Putrama dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

2. BNI aktif cermati perkembangan makroekonomi

gedung Bank Negara Indonesia (bni.co.id)
gedung Bank Negara Indonesia (bni.co.id)

Putrama menegaskan, transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas secara menyeluruh. Upaya tersebut dijalankan melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, optimalisasi jaringan kantor dan pemanfaatan data analytics, serta penguatan platform digital guna meningkatkan kualitas layanan dan customer experience secara berkelanjutan.

"Sebagai bagian dari ekosistem perbankan nasional, BNI juga secara aktif mencermati perkembangan makroekonomi serta menerapkan langkah mitigasi yang terukur untuk memastikan kebijakan strategis berjalan optimal dan mendukung kesinambungan pertumbuhan jangka panjang," tegasnya.

3. Kinerja intermediasi BNI dipastikan tetap solid

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan berimbang secara keseluruhan. BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen YoY sepanjang 2025, mencerminkan kinerja intermediasi yang tetap solid di tengah tantangan ekonomi global.

"Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo.

Paolo menambahkan, pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA.

3. Dana murah BNI tumbuh 28,9 persen dan laba bersih konsolidasi capai Rp20 triliun

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Ia merinci pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9 persen YoY, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8 persen YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 11,2 persen YoY. Struktur pendanaan yang sehat tersebut menopang pengelolaan likuiditas secara optimal.

"Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko," tegasnya.

Ia menjelaskan momentum akselerasi bisnis terlihat terutama di kuartal IV tahun 2025 dimana BNI berhasil membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,4 triliun. Pencapaian PPOP ini merupakan tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disupport dari pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).

Secara kumulatif 2025, NII dibukukan sebesar Rp40,3 triliun, dengan loan yield yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan, sementara pendapatan non bunga tumbuh 5,2 persen YoY menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.

Sementara itu, dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9 persen atau membaik 10bps YoY, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5 persen atau membaik 1,8 persen YoY, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio mencapai 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan. Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang solid, serta kualitas aset yang membaik, BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,0 triliun sepanjang 2025.

"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More

PINTU Wanti-wanti Bahaya APK Kripto Ilegal di Android

03 Feb 2026, 15:43 WIBBusiness