Kredit Nganggur Meningkat Jadi Rp2.506 Triliun, Ini Langkah BI

- Bank Indonesia mencatat undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun per Januari 2026 atau 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
- Kredit perbankan tumbuh 9,96 persen secara tahunan dengan dorongan utama dari kredit investasi yang naik hingga 22,38 persen.
- BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen dengan likuiditas perbankan tetap longgar dan rasio AL/DPK mencapai 27,54 persen.
Jakarta, IDN Times — Bank Indonesia (BI) mencatat fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun per Januari 2026. Nilai tersebut setara 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia dan meningkat dibandingkan Desember 2025 sebesar Rp2.439,2 triliun.
Di sisi lain, kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 sebesar 9,69 persen (yoy). BI memandang ruang penyaluran kredit masih terbuka, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.
1. Kredit tumbuh 9,96 persen, investasi tertinggi

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan pertumbuhan kredit menunjukkan tren penguatan di awal tahun.
"Kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh sebesar 9,96 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan capaian pada Desember 2025 sebesar 9,69 persen (yoy)," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38 persen (yoy). Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,58 persen (yoy) dan kredit modal kerja tumbuh 4,13 persen (yoy).
BI menilai perkembangan tersebut didukung peningkatan kegiatan ekonomi serta pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial.
2. Fasilitas kredit belum ditarik tembus Rp2.506 triliun

Meski kredit tumbuh, BI mencatat masih besarnya fasilitas pinjaman yang telah disetujui namun belum dimanfaatkan debitur.
"Pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar yaitu mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia," ujar Perry.
Dari sisi permintaan, optimalisasi fasilitas tersebut dinilai dapat memperkuat ekspansi dunia usaha. Sementara dari sisi penawaran, likuiditas perbankan dinilai memadai untuk menopang pertumbuhan kredit lebih lanjut.
3. Likuiditas longgar, BI-Rate bertahan 4,75 persen

Rapat Dewan Gubernur BI pada 18-19 Februari 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung sasaran inflasi 2026-2027 di kisaran 2,5±1 persen, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi likuiditas, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat 27,54 persen pada Januari 2026. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,48 persen (yoy), menunjukkan kapasitas pembiayaan bank tetap kuat.
Transmisi penurunan suku bunga kebijakan masih berlanjut. Suku bunga deposito 1 bulan turun menjadi 4,13 persen pada Januari 2026 dari 4,81 persen pada Januari 2025. Suku bunga kredit juga menurun menjadi 8,80 persen dari 9,20 persen pada awal 2025.
4. Insentif likuiditas dan ketahanan perbankan

Penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus ditempuh untuk mendorong penyaluran kredit. Hingga minggu pertama Februari 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan mencapai Rp427,5 triliun, dengan alokasi lending channel Rp357,9 triliun dan interest rate channel Rp69,6 triliun.
Secara permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan pada Desember 2025 tercatat 25,89 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah sebesar 2,05 persen (bruto) dan 0,79 persen (neto).
"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8-12 persen. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut," kata Perry.
BI menyatakan prospek pertumbuhan kredit masih kuat dengan dukungan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sinergi bersama Pemerintah serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
















