Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bos OJK Ditanya Apakah Prabowo Tahu Kondisi Pasar Modal: Asumsi Saya Tahu

Bos OJK Ditanya Apakah Prabowo Tahu Kondisi Pasar Modal: Asumsi Saya Tahu
Konferensi pers OJK dan SRO terkait kondisi pasar modal saat ini. (IDN Times/Pitoko)
Intinya sih...
  • Gejolak pasar modal dua hari terakhir
  • BEI terancam turun peringkat menjadi Frontier Market
  • MSCI umumkan pembekuan sementara indeks saham-saham Indonesia
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK), Mahendra Siregar sedikit tertegun ketika mendapatkan pertanyaan dari awak media terkait apakah Presiden Prabowo Subianto mengetahui kondisi pasar modal dalam dua hari ini.

Hal itu terjadi ketika Mahendra menggelar konferensi pers bersama dengan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Sebelum menjawab pertanyaan, Mahendra sempat terdiam sebentar memikirkan apa yang mesti diucapkannya. Sambil sedikit tertawa, Mahendra mengaku kesulitan menjawab pertanyaan tersebut.

"Saya lagi memikir jawaban yang kedua itu agak sulit karena kan mesti tanya langsung, tapi ya asumsi saya ya, tahu dong. Ini kan penting dan ini kan juga diperhatikan. Mempengaruhi cukup banyak hal," ujar Mahendra.

1. Gejolak pasar modal dua hari terakhir

Bos OJK Ditanya Apakah Prabowo Tahu Kondisi Pasar Modal: Asumsi Saya Tahu
IHSG melemah 5,91 persen pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (29/1/2026). (IDN Times/Pitoko)

Pasar modal RI digoyang sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam dua hari terakhir. Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) longsor ke level 7.654,66 atau ambruk 8 persen. Hal itu memicu tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di BEI pada pukul 09:26:01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).

Sebelumnya, pada Rabu (28/1/2026), perdagangan juga sempat diberhentikan sementara lantaran ambruk sebesar 8 persen. Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengatakan, rontoknya IHSG kemarin tidak lepas dari pengumuman MSCI terkait metodologi perhitungan free float saham-saham Indonesia.

Meski begitu, Iman menyatakan kondisi IHSG bukanlah skenario terburuk mengingat pihaknya masih bernegosiasi dengan MSCI. Adapun aksi jual investor ritel panik akibat pengumuman MSCI membuat IHSG tumbang kemarin.

Kepanikan itu muncul lantaran selain soal perubahan metodologi free float, MSCI juga membekukan rebalancing saham Indonesia per Februari mendatang. Pembekuan tersebut bakal berlaku hingga Mei 2026.

"Apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah pertama untuk di bulan Februari Rebalancing-nya di-freeze. Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," kata Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

2. BEI terancam turun peringkat menjadi Frontier Market

Bos OJK Ditanya Apakah Prabowo Tahu Kondisi Pasar Modal: Asumsi Saya Tahu
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Selain itu, MSCI berpotensi menurunkan peringat BEI menjadi Frontier Market dari posisi sebelumnya di Emerging Market. Hal itu bisa terjadi jika BEI tidak kunjung melakukan perbaikan hingga Mei mendatang.

"Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Sementara kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia," kata Iman.

3. MSCI umumkan pembekuan sementara indeks saham-saham Indonesia

Bos OJK Ditanya Apakah Prabowo Tahu Kondisi Pasar Modal: Asumsi Saya Tahu
MSCI (Dok. IDX Channel)

Untuk diketahui dalam pengumuman terbarunya, MSCI menyampaikan pembekuan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar.

Dalam pengumuman yang dirilis Selasa (27/1/2026) malam waktu GMT, MSCI menyatakan telah menyelesaikan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Kendati terdapat sejumlah perbaikan minor dari BEI, MSCI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menjawab kekhawatiran investor global.

Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI menerapkan interim freeze yang berlaku segera. Kebijakan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks.

"Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga aspek investability," tulis MSCI dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/1/2026).

MSCI juga membuka kemungkinan langkah lanjutan yang lebih ekstrem apabila tidak ada perbaikan signifikan dalam aspek transparansi dan akses pasar. Opsi tersebut mencakup pengurangan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets hingga potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Tips Terhindar dari Penipuan Ketika Bertransaksi Digital

29 Jan 2026, 20:00 WIBBusiness