BUMA Grup Resmikan Training Center untuk SDM Bisa Tembus Pasar Kerja

- PT BUMA Internasional Grup Tbk melalui PT BISA Ruang Nuswantara meresmikan training center di Depok dan test center di Jakarta untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi pasar global.
- Inisiatif ini menargetkan generasi muda yang belum bekerja atau bersekolah, dengan pelatihan berbasis industri guna menjembatani kesenjangan antara pendidikan, sertifikasi, dan kebutuhan dunia kerja nyata.
- Pemerintah mengapresiasi langkah BUMA Grup karena sejalan dengan program Perintis Berdaya yang fokus membangun ekosistem pemberdayaan UMKM, koperasi, serta peningkatan kompetensi pekerja migran Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan kontraktor pertambangan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), melalui anak usahanya PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), berinisiatif memperkuat kesiapan tenaga kerja Indonesia sebagai upaya memenuhi kebutuhan industri sekaligus membuka akses peluang kerja internasional.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui peresmian pusat pelatihan (training center) terintegrasi di Kota Depok, Jawa Barat, serta pusat pengujian (test center) di DKI Jakarta.
“Inisiatif ini merupakan respons terhadap tantangan kesiapan tenaga kerja di Indonesia, dengan tujuan membekali peserta agar selaras dengan kebutuhan industri, memperoleh sertifikasi kompetensi, serta memiliki akses ke peluang kerja internasional,” ujar Direktur DOID Iwan Fuad Salim dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
1. Jawab tantangan generasi muda

Iwan mengatakan, peresmian training center dan test center mencerminkan komitmen jangka panjang grup dalam menciptakan dampak sosial berkelanjutan melalui pengembangan sumber daya manusia sebagai fokus utama.
“Kami berupaya menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda yang tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan, dengan memperkuat keterkaitan antara pelatihan dan dunia kerja, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja bagi talenta Indonesia,” ujar Iwan.
Data BPS menunjukkan bahwa 19,44 persen penduduk Indonesia usia 15–24 tahun tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment, or Training/NEET) pada 20251. Sementara itu, tingkat pengangguran pada lulusan SMK mencapai 8,63 persen pada tahun yang sama, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
2 Atasi kesenjangan pelatihan dan dunia kerja

Chief Executive Officer (CEO) BIRU, Kanya Stira Sjahrir, mengatakan perseroan berkomitmen menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan dunia kerja.
“Kami fokus menyiapkan peserta melalui pelatihan yang mencerminkan kondisi kerja nyata, didukung proses penguatan kompetensi dan sertifikasi dalam satu ekosistem terintegrasi,” ujar Kanya.
Melalui kombinasi kurikulum yang relevan, praktik berbasis peralatan industri, serta pembelajaran berorientasi industri, pihaknya ingin membantu peserta membangun keterampilan, disiplin, dan kesiapan untuk memasuki dunia kerja dengan lebih percaya diri.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas kapasitas pelatihan, sekaligus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja global, termasuk di sektor pengelolaan gedung di Jepang yang diproyeksikan membutuhkan sekitar 37.000 pekerja pada 2029,” ujar Kanya.
3. Bangun ekosistem pemberdayaan yang lebih kuat bagi UMKM, koperasi, dan pekerja migran Indonesia

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Leontinus Alpha Edison, menyampaikan apresiasi atas kontribusi BUMA Grup dalam mendukung agenda pemerintah.
“Melalui program Perintis Berdaya, kami berupaya membangun ekosistem pemberdayaan yang lebih kuat bagi UMKM, koperasi, dan pekerja migran Indonesia, mulai dari penguatan kapasitas, akses pembiayaan, hingga tata kelola pemberdayaan dan perlindungan,” ujar Leontinus.
Khusus melalui pilar Berdaya Global, pihaknya ingin mempersiapkan talenta Indonesia agar lebih siap bersaing di pasar kerja internasional melalui penguatan pelatihan, orientasi pra-penempatan yang relevan secara keterampilan dan budaya, serta tata kelola pekerja migran yang lebih baik.


















