Jakarta, IDN Times - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh resilien sekitar 5,2 persen pada 2026. Stabilitas makroekonomi, investasi, dan penguatan pasar valuta asing (valas) menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan di tengah risiko kenaikan harga energi dan perlambatan ekonomi global.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperketat kondisi keuangan di sejumlah negara.
Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,0 persen pada akhir 2026. Namun, pertumbuhan global diproyeksikan kembali membaik pada 2027. Di sisi lain, harga minyak yang sempat melonjak diperkirakan berangsur turun seiring penyesuaian pasokan global.
"Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
