Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alasan BTN Tak Revisi Target Kredit meski Realisasi Juni 11,12 Persen

Alasan BTN Tak Revisi Target Kredit meski Realisasi Juni 11,12 Persen
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyelenggarakan Public Expose Live 2026. (Dok/Screenhot).
  • BTN mempertahankan target pertumbuhan kredit 2026 sebesar 8-10 persen meski realisasi hingga Juni mencapai 11,2 persen secara tahunan.
  • Pertumbuhan kredit semester pertama didorong akuisisi portofolio Bank SMBC Indonesia; BTN memperkirakan capaian akhir tahun maksimal sekitar 10,1-10,2 persen.
  • BTN akan lebih selektif menyalurkan kredit karena pertumbuhan KPR MBR melambat dan pasokan rumah, terutama di Jawa Barat, terkendala perizinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tidak akan merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2026 meski realisasi penyaluran kredit hingga Juni telah tumbuh 11,2 persen secara tahunan.

Direktur Utama BTN, Nixon, mengatakan, perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit dalam kisaran 8 persen hingga 10 persen secara tahunan atau year on year (yoy) hingga akhir tahun.

"Jadi kita gak revisi. Ini masih sama dengan RBB awal, t =api memang realisasinya melebihi dari rencana," ujar Nixon dalam paparan Public Expose, Kamis (10/10/2026).

  1. 1. Realisasi pertumbuhan kredit hingga Juni 11,2 persen

    Alasan BTN Tak Revisi Target Kredit meski Realisasi Juni 11,12 Persen
    Logo Bank BTN. (Dok/Istimewa).

    Menurut Nixon, realisasi pertumbuhan kredit yang telah mencapai 11,2 persen pada semester I 2026 salah satunya didorong oleh akuisisi portofolio dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk.

    Dengan mempertimbangkan kondisi industri hingga akhir tahun, BTN tetap mengacu pada target awal. Bahkan, jika pertumbuhan kredit mampu melampaui batas atas target, Nixon memperkirakan angkanya hanya berada di sekitar 10,1 persen-10,2 persen

    "Kita sebenarnya mengembalikan ke RKP awal saja 8 sampai 10 persen. Ya, kalau pun lebih mungkin 10,1 atau 10,2 persen. Jadi gak akan lebih," ujar dia.

  2. 2. BTN lebih selektif dalam menyalurkan kredit

    Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)
    Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)

    Oleh karena itu, BTN kini akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama pada sejumlah segmen perkreditan.

    Di sisi lain, Nixon melihat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR), khususnya untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), masih menghadapi tantangan.

    "Pembangunan maupun pembelian rumah dinilai masih tumbuh lebih lambat," kata dia.

  3. 3. Ada tantangan pembangunan rumah di wilayah Jawa Barat

    Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)
    Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)

    Selain permintaan, sisi pasokan perumahan juga masih menjadi kendala. Nixon mengatakan, pembangunan rumah, terutama di wilayah Jawa Barat masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satunya adalah perizinan.

    "Apalagi sisi supply-nya juga masih pelan. Terutama di daerah Jawa Barat, ada beberapa persoalan perizinan dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kami juga tetap memasang angka 8 sampai 10 persen," ucap Nixon.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More