Defisit Transaksi Berjalan RI Kuartal I 2026 Naik Jadi Rp70,4 Triliun

- Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan kuartal I 2026 mencapai 4,0 miliar dolar AS atau Rp70,4 triliun, setara 1,1 persen terhadap PDB dan meningkat dari kuartal sebelumnya.
- Surplus perdagangan barang turun menjadi 8,0 miliar dolar AS akibat perlambatan ekspor nonmigas dan penurunan impor, sementara defisit migas menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang stabil.
- Transaksi modal dan finansial mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS dengan cadangan devisa tetap tinggi di 148,2 miliar dolar AS; BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan 0,5–1,3 persen dari PDB.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia melaporkan transaksi berjalan mencatat defisit 4,0 miliar dolar AS atau setara Rp70,4 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS). Laju defisit ini setara dengan 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun defisit ini pun lebih lebar dibandingkan realisasi kuartal I sebesar 2,5 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan transaksi berjalan disebabkan oleh lebih rendahnya surplus neraca barang di tengah defisit neraca pendapatan jasa yang menyempit dan surplus neraca pendapatan sekunder.
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara. Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga.
"Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight," tegasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
1. Surplus neraca dagang barang susut dari kuartal IV 2025

Ia menjelaskan surplus perdagangan barang pada kuartal I 2026 membukukan surplus 8,0 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal IV 2025 sebesar 10,2 miliar dolar AS. Namun perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas dan berkurangnya defisit neraca perdagangan migas.
"Kinerja ekspor nonmigas kuartal I 2026 tidak setinggi capaian pada triwulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh perlambatan ekspor riil, di tengah perbaikan indeks harga. Sementara itu, impor nonmigas menurun, dipicu oleh lebih rendahnya impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal," tegasnya.
2. Transaksi modal dan finansial defisit 4,9 miliar dolar AS

Sementara itu, kinerja transaksi modal dan finansial tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga. Investasi portofolio juga tetap mencatat surplus, meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global.
Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri.
"Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada kuartal I 2026 mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS, setelah pada kuartal sebelumnya mencatat surplus 9,0 miliar dolar AS," tegasnya.
3. Defisit transaksi berjalan diperkirakan sentuh 1,3 hingga 0,5 persen terhadap PDB

Dengan kondisi neraca transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial, NPI pada kuartal I 2026 mencatat defisit 9,1 miliar dolar AS dan posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal.
"Kinerja NPI 2026 diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB," tulisnya.



















