Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kedua kiri), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi (kanan), dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menurut Bhima, tekanan terhadap BI muncul di tengah memburuknya kondisi fiskal. Ia menilai pelebaran defisit APBN, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) yang dinilai bermasalah dari sisi perencanaan, telah memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Selain itu, penerimaan pajak yang melemah dan peningkatan utang pemerintah secara agresif turut memperbesar profil risiko Indonesia.
"Outlook rating utang yang negatif dari Moody's dan Fitch juga merupakan implikasi dari tata kelola fiskal. Tapi yang disalahkan justru Bank Indonesia, dianggap gagal menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor," ujarnya.
Bhima juga menilai hubungan antara otoritas fiskal dan moneter sudah tidak lagi berada dalam koridor sinergi.
"Intervensi otoritas fiskal ke moneter juga sudah berlebihan, bukan lagi sinergi," katanya.