Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dibayangi Volatilitas Global, KSSK: Sistem Keuangan RI Stabil di Q4

WhatsApp Image 2026-01-27 at 17.55.06 (2).jpeg
Konferensi Pers KSSK per Januari 2026. (IDN Times/Triyan).
Intinya sih...
  • Perekonomian global menghadapi tantangan, dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang dan penurunan suku bunga bank sentral AS
  • Ruang penurunan suku bunga The Fed semakin terbatas, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada tahun 2025 dan 2026
  • Kinerja perekonomian Indonesia tetap kuat, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 diperkirakan lebih tinggi didukung oleh kenaikan permintaan domestik dan stimulus kebijakan fiskal dan moneter
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan berada dalam kondisi yang konsisten terjaga pada kuartal IV-2025. Hal ini didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan antar pemangku kepentingan. Namun, pemerintah tidak bisa terlena dengan kondisi tersebut, sebab volatilitas pasar keuangan global sempat meningkat, terutama disebabkan oleh ketegangan perdagangan pada Januari 2026.

“KSSK akan terus mencermati dan melakukan penilaian secara forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, sekaligus melakukan usaha mitigasi secara terkoordinasi,” ucap Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK I Tahun 2025 di kantor Kementerian Keuangan pada Selasa (27/1/2026).

KSSK, yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus menjalankan sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

1. Perekonomian global masih hadapi tantangan

WhatsApp Image 2026-01-27 at 17.55.06 (1).jpeg
Konferensi Pers KSSK per Januari 2026. (IDN Times/Triyan).

Purbaya menuturkan kondisi perekonomian global tengah menghadapi tantangan dengan ketidakpastian yang meningkat. Dalam hal ini, dinamika ekonomi pada kuartal IV-2025 dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang lebih agresif.

Terjadinya perlambatan aktivitas ekonomi Amerika Serikat dengan pelemahan pasar ketenagakerjaan mendorong The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin pada kuartal IV-2025, menjadi kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

“Pemangkasan lanjutan diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi dan mendukung aliran modal ke pasar negara berkembang (emerging markets),” tutur Purbaya

2. Ruang penurunan suku bunga The Fed makin terbatas dan pertumbuhan ekonomi global diproyeksi 3,3 persen tahun ini

Ketua the Fed Jerome Powell (YouTube the Fed)
Ketua the Fed Jerome Powell (YouTube the Fed)

Di sisi lain, Lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada tahun 2025 dan 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya, yaitu 3,2 persen untuk tahun 2025 dan 3,1 persen untuk 2026.

Lebih lanjut, pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan dipengaruhi oleh dampak lanjutan dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor. Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate semakin terbatas, disertai dengan tingginya imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (US Treasury), yang mencerminkan defisit fiskal Amerika Serikat yang masih besar.

“Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat, terutama dipicu oleh ketegangan perang dagang serta meluasnya eskalasi tensi geopolitik,” tutur dia.

3. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan lebih tinggi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan optimisme fiskal
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan optimisme fiskal(https://www.freepik.com/free-photo/digital-increasing-bar-graph-with-businessman-hand-overlay_13312397.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=469933c9-44ea-4a3e-8543-158440a31f06&query=growth)

Namun, kinerja perekonomian Indonesia diyakini tetap kuat, dan momentum pertumbuhan ekonomi ke depan tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 diperkirakan akan lebih tinggi, ditopang oleh kenaikan permintaan domestik, sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung oleh stimulus kebijakan fiskal dan moneter.

“Pada kuartal IV-2025, Purchasing Manager's Index (PMI) berada di zona ekspansif, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan tercatat surplus,” terang Purbaya.

Selain itu, penyaluran kredit perbankan turut memperkuat likuiditas, yang tercermin dari pertumbuhan M0 (uang primer) sebesar 11,4 persen year on year pada bulan Desember. Hal ini juga menekan dana perbankan, yang didukung oleh kebijakan dari Bank Sentral. Pertumbuhan M0 yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh ekspansi fiskal moneter, sejalan dengan ekspansi likuiditas Bank Sentral dan stimulus fiskal pemerintah di akhir tahun.

Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat sebesar 9,6 persen year on year, yang antara lain dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2025 diperkirakan berada di sekitar 5,2 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

BCA Cetak Laba Bersih Rp57,5 Triliun Selama 2025, Tumbuh 4,9 Persen

27 Jan 2026, 19:21 WIBBusiness