Efek Konflik Timur Tengah, 3 Pekan Lagi Harga Pakaian Bisa Naik

- Harga minyak dunia naik akibat konflik Timur Tengah membuat harga bahan baku tekstil seperti paraxylene melonjak 40 persen hingga 1.300 dolar AS per ton.
- Dalam tiga minggu ke depan, efek kenaikan harga bahan baku akan menjalar ke produsen kain dan pakaian jadi, memicu penyesuaian harga retail sekitar 10 persen.
- Meskipun permintaan pasar masih stabil, tingkat utilisasi produsen polyester nasional hanya sekitar 40 persen dan rayon 70 persen karena praktik pasar domestik yang belum adil.
Jakarta, IDN Times - Industri dan produk tekstil semakin meradang akibat tekanan harga baku imbas konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia ke level 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menerangkan, harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada pada level 1.300 dolar AS per ton atau naik sekitar 40 persen dari dua pekan lalu.
Meski begitu, Redma menjelaskan, kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya sampai ke industri hilir. Efek domino yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap hingga tiga minggu ke depan.
"Dalam seminggu kedepan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan dua minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi," kata Redma dalam pernyataan resminya, Selasa (7/4/2026).
1. Penyesuaian di sektor retail

Selain itu, Redma mengungkapkan bakal terjadi penyesuaian harga di sektor retail. Penyesuaian harga barang jadi retail bisa sampai lebih dari lima persen.
"Diperkirakan kenaikan di sektor retail akan berada di sekitar 10 persen,” katanya.
2. Permintaan pasar masih stabil

Sementara itu dari sisi permintaan pasar, Redma melihat masih dalam level stabil dengan kecenderungan permintaan yang meningkat.
Hal itu lantaran kenaikan harga bahan baku impor juga jadi lebih tinggi dari produk lokal.
"Hingga saat ini bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi," ujar Redma.
3. Tingkat utilisasi nasional produsen masih belum 100 persen

Meski begitu, secara keseluruhan tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih di bawah 40 persen dan utilisasi produsen rayon sekitar 70 persen.
“Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik," kata Redma.
“Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan," sambung dia.

















