Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Elon Musk dan masa depan neuralink (Steve Jurvetson, CC BY 2.0, via Wkimedia Commons)
  • Elon Musk menilai tabungan jangka panjang bisa kehilangan fungsi jika AI memenuhi hampir seluruh kebutuhan manusia dalam ekonomi berkelimpahan.
  • Pabrik otomatis dan robot dinilai mampu memproduksi barang serta jasa secara masif, menekan biaya produksi dan harga hingga sangat murah.
  • Musk memprediksi uang dan pensiun menjadi kurang relevan dalam 10–20 tahun; Bill Gates juga melihat kelimpahan AI, tetapi mengingatkan gejolak akibat pergeseran tenaga kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bayangkan sebuah masa ketika kamu tak perlu lagi pusing memikirkan tabungan pensiun atau anggaran belanja bulanan karena semua barang dan jasa tersedia melimpah dengan harga yang sangat murah. Gagasan futuristik ini bermula dari gurauan seorang pengguna media sosial X dengan akun @battleangelviv yang menyebut bahwa keputusan keuangan yang buruk saat ini tak akan terlalu berpengaruh dalam beberapa tahun mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Tesla dan SpaceX Elon Musk menilai fenomena ini bukan sekadar tren belanja, melainkan sinyal awal dari perubahan mendasar pada struktur ekonomi global. Melansir laporan Firstpost, Musk berpandangan bahwa tradisi menabung jangka panjang akan kehilangan fungsinya secara total jika kecerdasan buatan (AI) mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan manusia.

Fenomena kelimpahan super ini diprediksi akan mengubah cara manusia memandang nilai uang dan perencanaan finansial masa depan secara drastis. Lantas, apa saja alasan utama yang membuat aktivitas menabung di masa depan dianggap tak lagi relevan?

1. Produksi otomatis menekan harga barang hingga mendekati nol

ilustrasi mobil (pexels.com/Sadi Hockmuller)

Alasan pertama berkaitan langsung dengan efisiensi tingkat tinggi dalam proses manufaktur modern. Berdasarkan laporan Business Insider, Musk, yang tercatat memiliki kekayaan hampir 1 triliun dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp18.156 triliun, menjelaskan bahwa keberadaan pabrik otomatis dan robot yang bekerja tanpa henti mampu memproduksi barang serta jasa dalam skala yang sangat masif. Lonjakan pasokan barang dalam jumlah besar ini pada akhirnya akan menekan biaya produksi dan menurunkan harga jual secara drastis di berbagai sektor.

Kondisi tersebut membuat perilaku menabung demi membeli suatu barang di masa mendatang menjadi tak rasional karena nilainya yang kian murah. Dalam konteks ekonomi tanpa kelangkaan, menahan uang tunai untuk barang yang di masa depan bisa didapatkan hampir tanpa biaya justru dinilai sebagai tindakan yang sia-sia.

2. Kelimpahan super membuat uang kehilangan fungsi utamanya

ilustrasi tabungan (pexels.com/Ahsanjaya)

Faktor kedua berhubungan dengan pergeseran peran tenaga kerja yang mengubah fungsi dasar dari mata uang itu sendiri. Dalam sebuah diskusi awal tahun ini bersama Peter Diamandis selaku Executive Chairman XPrize Foundation, Musk menyatakan bahwa peran manusia tak lagi diperlukan untuk sebagian besar sektor ekonomi. Situasi tersebut mendorong Musk berpandangan bahwa pada titik tertentu di masa depan, uang akan berhenti menjadi instrumen yang relevan.

Dalam percakapan tersebut, Diamandis sempat menyinggung ironi mengenai kekayaan Musk yang justru akan terus bertambah saat uang kehilangan nilainya. Musk pun membenarkan tanggapan tersebut dan menegaskan bahwa akumulasi modal finansial tak lagi memiliki makna tradisional di tengah era kelimpahan super.

3. Masyarakat bertransisi menuju era ekonomi tanpa kelangkaan

ilustrasi hubungan manusia dengan AI (pexels.com/cottonbro studio)

Alasan terakhir dipicu oleh perubahan struktur sosial menuju sistem ekonomi yang serba ada. Saat berbicara dalam sebuah siaran tunda (podcast) pada Januari lalu, Musk mengungkapkan bahwa masyarakat tak perlu khawatir menyisihkan uang untuk masa pensiun dalam 10-20 tahun ke depan karena seluruh kebutuhan akan tersedia secara melimpah. Gambaran masa depan tersebut mencakup layanan kesehatan yang jauh lebih baik, ketersediaan barang tanpa batas, akses pendidikan gratis bagi semua orang, hingga pembentukan ekonomi multiplanet.

Pandangan senada mengenai era kelimpahan juga disampaikan oleh salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, meski ia menyertainya dengan sebuah peringatan. Gates menyebut AI akan menghadirkan kelimpahan sejati melalui robot yang mampu membangun rumah, menanam bahan pangan, hingga melakukan prosedur operasi medis. Namun, Gates mengingatkan bahwa dua dekade ke depan akan menjadi periode yang penuh gejolak seiring menghilangnya ketergantungan industri pada tenaga kerja manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article