Fakta-Fakta Proyek Vault, Upaya AS Kendalikan Pasokan Mineral Kritis

- Proyek Vault menyimpan lebih 50 mineral kritis, termasuk tanah jarang, litium, uranium, tembaga, dan kobalt.
- Proyek Vault lindungi bisnis dari krisis pasokan dan mengurangi ketergantungan terhadap China.
- Proyek Vault masih tahap awal pelaksanaan dengan pinjaman 10 miliar dolar AS dari EXIM Bank dan rencana aliansi dengan Uni Eropa.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi meluncurkan Proyek Vault dari Gedung Putih pada Senin (2/2/2026). Program kolaborasi pemerintah dan sektor swasta ini menargetkan pembentukan stok mineral kritis senilai 12 miliar dolar AS (setara Rp202 triliun) untuk menekan ketergantungan AS pada pasokan China.
Langkah tersebut diposisikan sebagai bagian dari penguatan ketahanan industri nasional, terutama di tengah persaingan rantai pasok global. Pemerintah menggandeng lembaga pembiayaan negara serta pelaku usaha besar guna memastikan ketersediaan bahan baku strategis. Berikut tiga fakta utama terkait Proyek Vault yang diperkenalkan pemerintahan Trump.
1. Proyek Vault menyimpan lebih 50 mineral kritis

Dilansir dari The New York Times, Proyek Vault dirancang sebagai fasilitas penyimpanan lebih dari 50 komoditas yang telah dikategorikan sebagai mineral kritis oleh Badan Survei Geologi AS (USGS). Daftar itu meliputi tanah jarang, litium, uranium, tembaga, kobalt, serta berbagai material lain yang dinilai vital bagi keamanan nasional, ekonomi, dan stabilitas rantai pasok.
Pendanaan program berasal dari pinjaman 10 miliar dolar AS (setara Rp168 triliun) yang disediakan oleh Bank Ekspor-Impor AS (EXIM Bank), ditambah investasi swasta sekitar 1,67-2 miliar dolar AS (setara Rp27,7 triliun hingga Rp33,2 triliun) sehingga totalnya mencapai 12 miliar dolar AS. Pasokan mineral akan dihimpun dari sumber domestik maupun luar negeri sebelum ditempatkan di fasilitas penyimpanan yang berlokasi di wilayah AS.
Lebih dari 12 korporasi besar telah menyatakan partisipasi, termasuk General Motors, Stellantis, Boeing, GE Vernova, Google, serta Western Digital. Selain itu, tiga perusahaan perdagangan komoditas telah meneken kesepakatan untuk menangani proses pengadaan bahan baku.
Menurut Ketua EXIM Bank John Jovanovic, skema ini merupakan bentuk kemitraan publik-swasta yang sangat cocok dan menunjukkan langkah terbaik AS. Program tersebut disusun agar perusahaan peserta memiliki cadangan mineral yang cukup untuk 60 hari jika terjadi kondisi darurat.
2. Proyek Vault lindungi bisnis dari krisis pasokan

Sasaran utama Proyek Vault ialah memastikan pelaku usaha dan tenaga kerja di AS tak terdampak kelangkaan mineral penting akibat gangguan pasar maupun pembatasan ekspor negara lain.
“Selama bertahun-tahun, bisnis Amerika berisiko kehabisan mineral kritis saat terjadi gangguan pasar. Hari ini kita meluncurkan apa yang akan dikenal sebagai Proyek Vault untuk memastikan bisnis dan pekerja Amerika tak pernah dirugikan oleh kekurangan apapun,” kata Trump dalam acara peluncuran, dikutip dari DW.
Program ini juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap China yang menguasai sekitar dua pertiga produksi tanah jarang dunia serta hampir 90 persen kapasitas pemurnian global. Dengan adanya stok strategis, pemerintah berharap fluktuasi harga dan pasokan yang dipengaruhi kebijakan ekspor Beijing dapat ditekan.
Di saat yang sama, Proyek Vault ditujukan menopang industri manufaktur dalam negeri melalui pengalihan risiko rantai pasok agar tak membebani neraca perusahaan. Trump menegaskan cakupan program tersebut sangat luas.
“Kalian mencakup segalanya dengan ini… Kita tak hanya menangani beberapa mineral dan tanah jarang. Kita menangani semuanya,” katanya.
Secara umum, kebijakan ini menjadi bagian dari langkah pemerintahan Trump dalam memperkuat daya tahan rantai pasok AS di tengah tekanan geopolitik, terutama yang berkaitan dengan China.
3. Proyek Vault masih tahap awal pelaksanaan

Hingga pertengahan Februari 2026, Proyek Vault baru memasuki fase awal implementasi setelah diumumkan secara resmi. Pinjaman 10 miliar dolar AS dari EXIM Bank telah memperoleh persetujuan dewan direksi pada hari pengumuman.
Usai peluncuran, Uni Eropa menyampaikan rencana membangun aliansi tanah jarang bersama AS guna memperkuat ketahanan rantai pasok kedua belah pihak. Sehari setelahnya, Wakil Presiden JD Vance berpidato di depan delegasi dari 55 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi mineral kritis di Washington, sekaligus mengusulkan pembentukan blok perdagangan mineral di antara negara sekutu.
Sejumlah perusahaan besar telah mengikat komitmen partisipasi, sementara tiga rumah perdagangan komoditas menyepakati peran mereka dalam pengadaan bahan baku. EXIM Bank kini berdiskusi dengan berbagai pihak yang berminat memanfaatkan stok tersebut untuk menuntaskan pembiayaan proyek hingga memasuki tahap operasi komersial.
Meski baru dimulai, Proyek Vault telah menjadi bagian dari strategi yang lebih luas pemerintahan Trump, termasuk penyertaan saham di perusahaan tambang, kontrak pembelian dengan harga dasar, serta gagasan pembentukan dana asuransi risiko kedaulatan guna melindungi investasi pertambangan dari potensi perubahan kebijakan. Pembelian fisik mineral dan pengisian fasilitas penyimpanan diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang.


















