Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Fakta Sumber Dana Beasiswa LPDP yang Wajib Kamu Tahu
Beasiswa LPDP (pajak.go.id)
  • LPDP dibiayai terutama dari APBN yang bersumber dari pajak masyarakat, dengan alokasi minimal 20 persen untuk pendidikan sesuai ketentuan pemerintah.
  • Dana abadi LPDP dikelola melalui investasi aman seperti SBN dan deposito, di mana hanya hasil pengembangannya digunakan untuk program beasiswa dan riset.
  • Sejak 2010, dana abadi LPDP terus meningkat hingga lebih dari Rp139 triliun pada 2023, mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap pembangunan pendidikan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jagat media sosial kembali ramai membahas Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) setelah muncul pernyataan salah satu penerima beasiswa yang menuai sorotan publik. Isu ini mencuat karena berkaitan dengan komitmen kebangsaan dan tanggung jawab moral sebagai awardee beasiswa negara. Banyak warganet kemudian mempertanyakan dari mana sebenarnya sumber dana beasiswa LPDP dan bagaimana skema pengelolaannya diatur pemerintah.

Pendanaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan telah memiliki dasar hukum jelas melalui Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2021 tentang Dana Abadi di Bidang Pendidikan. Sejak dibentuk pada 2010, LPDP telah membiayai puluhan ribu mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri.

Supaya kamu makin paham, berikut empat fakta penting tentang sumber dana beasiswa LPDP yang perlu kamu ketahui!

1. APBN menjadi sumber utama dana LPDP

Ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Sumber dana beasiswa LPDP yang paling utama berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah yang memuat seluruh penerimaan dan belanja negara dalam satu tahun anggaran. Di dalamnya terdapat berbagai pos penerimaan yang menopang kebutuhan pembangunan nasional, termasuk sektor pendidikan.

Komponen terbesar dalam APBN berasal dari pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan bea cukai. Selain pajak, ada pula Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hibah, serta pinjaman dalam dan luar negeri. Karena pajak menjadi tulang punggung penerimaan negara, kontribusi masyarakat secara tidak langsung ikut membentuk Dana Abadi LPDP.

Pemerintah juga memiliki kewajiban mengalokasikan minimal 20 persen APBN untuk sektor pendidikan. Sebagian dari anggaran pendidikan tersebut disisihkan ke dalam skema dana abadi yang dikelola LPDP. Dengan mekanisme ini, sumber dana beasiswa LPDP tidak hanya bergantung pada anggaran tahunan, tetapi dirancang untuk berkelanjutan dalam jangka panjang.

2. Dana abadi dikelola dengan skema investasi

ilustrasi ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

Berbeda dengan anggaran kementerian yang bisa langsung dibelanjakan, dana abadi LPDP tidak boleh digunakan pokok dananya. Regulasi mengatur bahwa hanya hasil pengembangan atau imbal hasil investasi yang dapat dimanfaatkan untuk program pendidikan. Skema ini dibuat agar dana pokok tetap utuh dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Pengelolaan dana dilakukan melalui instrumen investasi yang relatif aman dan sesuai ketentuan pemerintah. Contohnya adalah penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito di bank nasional. Strategi ini dipilih untuk menjaga stabilitas nilai dana sekaligus menghasilkan imbal hasil yang optimal.

Hasil investasi tersebut kemudian digunakan untuk membiayai berbagai program, termasuk beasiswa magister, doktor, hingga pendanaan riset dan perguruan tinggi. Dengan model seperti ini, sumber dana beasiswa LPDP memiliki sifat jangka panjang dan tidak mudah tergerus. Skema investasi juga membuat pengelolaan dana lebih profesional dan terukur.

3. Sumber sah lain turut memperkuat pendanaan

ilustrasi uang (pexels.com/Pixabay)

Selain berasal dari APBN dan hasil investasi, sumber dana beasiswa LPDP juga bisa diperoleh dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat. Ketentuan ini memberikan ruang bagi LPDP untuk memperluas dukungan pembiayaan pendidikan. Semua tambahan dana tetap harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Beberapa contoh sumber lain tersebut antara lain hibah dari lembaga internasional dan kerja sama dengan institusi pendidikan global. LPDP juga dapat menerima kontribusi dari perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR). Dana-dana tersebut tetap dimasukkan ke dalam skema dana abadi dan dikelola secara akuntabel.

Diversifikasi sumber pendanaan ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan LPDP di tengah dinamika ekonomi. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, ketahanan pendanaan pendidikan menjadi lebih kuat. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan tanggung jawab bersama.

4. Dana abadi terus bertambah sejak 2010

ilustrasi dana pendidikan anak (freepik.com/freepik)

Sejak pertama kali digulirkan pada 2010 dengan nilai awal Rp1 triliun, dana abadi LPDP terus mengalami peningkatan signifikan. Setiap tahun, pemerintah menambah alokasi dana sesuai dengan kemampuan fiskal negara. Perkembangan ini menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pembangunan pendidikan nasional.

Hingga akhir 2023, total dana abadi yang dikelola LPDP telah mencapai lebih dari Rp139 triliun. Dana tersebut terbagi dalam beberapa kategori, seperti Dana Abadi Pendidikan, Dana Abadi Penelitian, Dana Abadi Kebudayaan, dan Dana Abadi Perguruan Tinggi. Pembagian ini bertujuan agar dukungan pendidikan tidak hanya fokus pada individu, tetapi juga pada ekosistem pendidikan secara luas.

Dengan dana yang terus bertambah, jumlah penerima beasiswa pun meningkat setiap tahun. Puluhan ribu awardee telah merasakan manfaat program ini dan banyak di antaranya telah lulus serta berkontribusi di berbagai sektor. Pertumbuhan dana abadi ini menjadi indikator bahwa sumber dana beasiswa LPDP dikelola secara berkelanjutan dan terencana.

Pada akhirnya, sumber dana beasiswa LPDP memang tidak terlepas dari kontribusi masyarakat melalui pajak serta pengelolaan dana abadi yang profesional. Skema ini dirancang agar pendidikan menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa. Memahami asal-usul pendanaannya membuat kamu bisa melihat LPDP bukan sekadar beasiswa, tetapi sebagai strategi besar dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team