GMF Aero Asia Cetak Laba Rp114,7 Miliar di Kuartal I 2026

- GMF Aero Asia mencatat laba Rp114,7 miliar pada kuartal I-2026, tumbuh 77,87 persen yoy berkat peningkatan pendapatan hingga Rp1,95 triliun dari aktivitas maintenance dan ekspansi pasar internasional.
- Perusahaan menyelesaikan berbagai proyek strategis seperti overhaul mesin Citilink dan pesawat Korean Air, serta memperluas pelanggan ke Korea Selatan dan proyek non-aviasi untuk PLN Batam.
- Beban usaha naik 20,69 persen menjadi Rp218 miliar, sementara aset tumbuh 11,96 persen dengan total Rp15,47 triliun dan ekuitas meningkat 22,7 persen hingga akhir Maret 2026.
Jakarta, IDN Times - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF Aero Asia membukukan laba sebesar 6,75 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp114,7 miliar (kurs Rp16.999 per dolar AS). Angka tersebut tumbuh 77,87 persen dibandingkan kuartal I 2025 atau secara year on year (yoy).
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan perseroan yang mencapai 114,94 juta dolar AS atau setara Rp1,95 triliun hingga akhir Maret 2026, atau tumbuh 20,53 persen (yoy).
“Selain didukung peningkatan aktivitas maintenance, capaian ini juga menunjukkan semakin kompetitifnya kapabilitas GMF dalam menjawab kebutuhan industri aviasi domestik maupun internasional,” ujar Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi dikutip dari keterangan resmi, Kamis (6/5/2026).
1. Garuda Indonesia selesaikan full overhaul Citilink

Sepanjang Kuartal I 2026, GMF mencatatkan sejumlah milestone, salah satunya melalui penyelesaian full overhaul perdana secara mandiri untuk mesin CFM56-5B milik Citilink yang didukung melalui pendanaan Danantara.
Capaian tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan serviceability armada Garuda Indonesia Group sekaligus memperkuat kapabilitas engineering nasional. Di pasar internasional, GMF memperluas basis pelanggan melalui penambahan customer baru dari Korea Selatan, yakni Airzeta dan T-Way.
Perseroan juga menyelesaikan sejumlah proyek strategis global, termasuk overhaul pesawat A330 milik Korean Air dan landing gear change untuk Fiji Airways. Selain sektor penerbangan, GMF terus memperkuat diversifikasi bisnis engineering melalui pengerjaan proyek non-aviasi, salah satunya normalisasi PLTG MPP Balai Pungut TM2500 #3 untuk PLN Batam.
2. Beban usaha naik 20,51 persen

Dalam laporan keuangan perusahaan yang tidak diaudit, pertumbuhan pendapatan dan laba GMF Aero Asia ternyata diiringi dengan kenaikan beban usaha.
Tercatat, beban usaha perusahaan mencapai 102,1 juta dolar AS per kuartal I-2026 atau setara Rp1,73 triliun. Angka tersebut naik 20,51 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 84,72 juta dolar AS atau setara Rp1,44 triliun.
Beban terbesar berasal dari beban material sebesar 42,56 juta dolar AS atau setara Rp723 miliar, dan beban pegawai sebesar 33,35 juta dolar AS atau setara Rp566 miliar.
3. Aset GMF Aero Asia tumbuh 11,96 persen

Hingga kuartal I-2026, jumlah ekuitas perusahaan mencapai 140,58 juta dolar AS atau setara Rp2,39 triliun, naik 22,7 persen dibandingkan 31 Desember 2025.
Adapun jumlah liabilitas perusahaan sebesar Rp13,08 triliun, naik 10,19 persen dibandingkan akhir 2025. Aset perusahaan tercatat berada di angka Rp15,47 triliun per akhir kuartal I-2026, tumbuh 11,96 persen dibandingkan akhir tahun lalu.



















