Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Produk Manufaktur Singapura Melonjak 47,5 Persen pada September

3 min read
Harga Produk Manufaktur Singapura Melonjak 47,5 Persen pada September
ilustrasi bendera Singapura (pexels.com/Calvin Seng)
  • Indeks harga produk manufaktur Singapura melonjak 47,5 persen secara tahunan pada September 2026, meningkat dari 40,1 persen pada Agustus dan mencatat penguatan selama sembilan bulan berturut-turut.
  • Indeks harga pasokan domestik naik 48 persen secara tahunan dan 7,3 persen secara bulanan pada September, dengan komponen minyak melonjak 78,9 persen secara tahunan.
  • Kenaikan kedua indeks dipicu harga minyak bumi dan produk olahannya, serta biaya peralatan mesin listrik, terutama sirkuit terpadu elektronik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Harga produk manufaktur dan pasokan domestik di Singapura mengalami lonjakan signifikan sepanjang September 2026. Laporan Departemen Statistik Singapura yang dirilis pada Kamis (29/10/2026) mencatat kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak dan naiknya biaya peralatan mesin listrik.

Indeks harga produk manufaktur negara tersebut bahkan melonjak hingga 47,5 persen secara tahunan. Kenaikan tajam ini memperpanjang tren penguatan indeks harga pabrik dan pasokan domestik yang terus bergerak naik selama beberapa bulan terakhir.

  1. 1. Lonjakan tajam indeks harga manufaktur Singapura

    ilustrasi bahan baku manufaktur
    ilustrasi bahan baku manufaktur (unsplash.com/Morteza Mohammadi)

    Berdasarkan data resmi dari Departemen Statistik Singapura, indeks harga produk manufaktur Singapura atau Singapore Manufactured Products Price Index (SMPPI) melesat 47,5 persen secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut mencatatkan percepatan dibandingkan dengan kenaikan 40,1 persen pada Agustus 2026. Capaian ini menandai penguatan tahunan selama sembilan bulan berturut-turut sejak Januari 2026.

    Jika dihitung secara bulanan, indeks SMPPI meningkat sebesar 5,3 persen pada September 2026. Pertumbuhan ini tercatat lebih cepat dari kenaikan 4,4 persen yang terjadi pada Agustus 2026. Laporan media Xinhua menyebutkan kenaikan bulanan tersebut merupakan penguatan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

    Lonjakan indeks SMPPI secara tahunan ditopang oleh kenaikan indeks minyak yang mencapai 58,9 persen dari sebelumnya 48,1 persen. Sementara itu, komponen nonminyak turut mempertahankan tren kenaikan dengan melonjak 45,8 persen dari 38,9 persen pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, komponen minyak naik 7,9 persen dan komponen nonminyak bertambah 4,8 persen.

  2. 2. Indeks pasokan domestik melambung tinggi

    ilustrasi barel minyak
    ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)

    Tren kenaikan serupa juga terjadi pada indeks harga pasokan dalam negeri atau Domestic Supply Price Index (DSPI). Sebagaimana dilaporkan Singapore Business Review, indeks DSPI membukukan kenaikan tajam sebesar 48 persen secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan pertumbuhan sebesar 38,8 persen pada Agustus 2026.

    Peningkatan tajam pada DSPI secara tahunan dipicu oleh komponen minyak yang mengalami percepatan hingga 78,9 persen dari 57,4 persen. Pada saat yang sama, komponen nonminyak pada indeks pasokan domestik ini juga mencatatkan pertumbuhan menjadi 38,2 persen dari posisi 33 persen. Kenaikan ini memperpanjang laju pertumbuhan yang kokoh dalam beberapa bulan terakhir.

    Dilihat secara bulanan, indeks DSPI Singapura tercatat naik sebesar 7,3 persen pada September 2026. Persentase tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan 4,1 persen pada Agustus 2026. Dalam perincian bulanan tersebut, indeks minyak melonjak 15,9 persen, sedangkan indeks nonminyak naik 4,1 persen.

  3. 3. Faktor pemicu kenaikan minyak dan peralatan listrik

    ilustrasi kapal tanker
    ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

    Pihak Departemen Statistik Singapura memaparkan faktor utama di balik kenaikan komponen minyak pada kedua indeks tersebut. Lonjakan indeks minyak utamanya diakibatkan oleh kenaikan harga minyak bumi serta produk-produk olahan minyak bumi. Kondisi pasar minyak ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

    Sementara itu, kenaikan pada komponen nonminyak di kedua indeks sebagian besar dipicu oleh naiknya biaya peralatan mesin listrik. Salah satu komoditas utama yang mendorong kenaikan biaya ini adalah produk sirkuit terpadu elektronik. Kenaikan harga komponen penting tersebut berdampak langsung terhadap laju indeks pabrik maupun pasokan domestik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More