Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah harganya sempat menyentuh US$77.646 pada 30 Oktober 2026. Penurunan tersebut membawa Bitcoin ke level terendah dalam enam minggu dan membuat pasar kripto kembali menjadi perhatian investor. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah aset digital lain, termasuk Ethereum dan BNB.
Bitcoin Anjlok ke US$77 Ribu, Ada Apa dengan Pasar Kripto?

- Bitcoin menyentuh US$77.646 pada 30 Oktober 2026, level terendah enam minggu; Ethereum dan BNB juga melemah, menandakan tekanan meluas di pasar kripto.
- Sentimen risk-off, gejolak harga minyak, dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi mendorong investor mengurangi aset berisiko, sementara arus ETF Bitcoin AS bergerak dinamis.
- Likuidasi posisi leverage mempercepat tekanan jual, sementara penyelidikan Binance atas potensi masalah keamanan menambah kekhawatiran pasar meski dana pengguna dinyatakan aman.
Ethereum sempat menyentuh US$2.238,76, sedangkan BNB melemah lebih dari 8 persen dalam 24 jam. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga meluas ke aset kripto lainnya. Lalu, apa yang membuat Bitcoin anjlok ke US$77 ribu? Apa saja faktor yang membuat pasar kripto mengalami tekanan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pergerakan Bitcoin?
1. Sentimen pasar global membuat investor lebih berhati-hati

ilustrasi menganalisis pasar crypto (unsplash.com/Sortter) Salah satu faktor yang memengaruhi harga Bitcoin adalah perubahan sentimen investor terhadap kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut dikenal sebagai risk-off, yaitu situasi ketika pelaku pasar lebih mengutamakan perlindungan modal daripada mencari keuntungan besar.
Harga minyak yang bergejolak dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang tinggi turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Imbal hasil obligasi merupakan tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari kepemilikan surat utang pemerintah. Jika imbal hasil tersebut meningkat, sebagian investor dapat beralih dari aset berisiko seperti Bitcoin ke instrumen yang menawarkan pendapatan lebih terukur.
2. Arus dana ETF Bitcoin mengalami perubahan

ilustrasi Bitcoin (magnific.com/freepik) Pergerakan dana pada produk investasi Bitcoin juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan pelaku pasar. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin merupakan produk investasi yang memungkinkan masyarakat memperoleh eksposur terhadap harga Bitcoin melalui pasar saham tanpa harus membeli dan menyimpan aset kripto secara langsung. Ketika dana masuk ke ETF, pengelola produk dapat meningkatkan permintaan terhadap Bitcoin, sedangkan penarikan dana dapat menambah tekanan jual.
Arus dana ETF Bitcoin di Amerika Serikat sempat menunjukkan perubahan selama Oktober 2026. Pada 19 Oktober, produk ETF Bitcoin mencatatkan dana masuk sekitar US$653 juta dalam satu hari, tetapi aktivitas tersebut belum diikuti peningkatan volume perdagangan yang kuat. Perubahan arus dana ini memperlihatkan bahwa minat investor institusional masih bergerak dinamis dan belum tentu memberikan dukungan harga secara konsisten.
3. Likuidasi posisi leverage memperbesar tekanan jual

ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman) Aktivitas perdagangan dengan leverage juga dapat memperbesar penurunan harga Bitcoin. Leverage merupakan fasilitas yang memungkinkan trader membuka posisi perdagangan dengan nilai lebih besar daripada modal yang dimiliki melalui pinjaman atau dana tambahan dari platform. Strategi ini dapat memperbesar keuntungan, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian ketika harga bergerak berlawanan dengan prediksi.
Ketika harga Bitcoin turun melewati batas tertentu, platform perdagangan dapat melakukan likuidasi, yaitu menutup posisi trader secara otomatis untuk membatasi kerugian. Penutupan posisi secara paksa dapat memicu transaksi jual tambahan dan membuat penurunan harga berlangsung lebih cepat. Kondisi ini menciptakan efek berantai karena penurunan harga memicu likuidasi, sementara likuidasi kembali menambah tekanan terhadap harga pasar.
4. Kekhawatiran keamanan bursa kripto menambah tekanan

Binance (pexels.com/Bastian Riccardi) Pasar kripto juga menghadapi kekhawatiran setelah Binance mengumumkan penyelidikan terhadap potensi masalah keamanan pada 29 Oktober 2026. Sejumlah analisis transaksi blockchain memperkirakan perpindahan aset mencurigakan mencapai sekitar US$5,5 miliar hingga lebih dari US$6 miliar, meskipun jumlah kerugian akhirnya belum dipastikan. Binance menyatakan dana pengguna tetap aman dan bekerja sama dengan mitra industri untuk menelusuri serta membekukan aset terkait.
Di tengah kondisi tersebut, investor juga perlu memahami bahwa harga Bitcoin tidak selalu mencerminkan kondisi teknis jaringan blockchain. Salah satu indikator yang sering dibahas adalah hashrate, yaitu total kemampuan komputasi yang digunakan para penambang untuk memproses transaksi dan menjaga keamanan jaringan Bitcoin. Perubahan hashrate dapat memberikan gambaran tentang aktivitas dan persaingan penambang, tetapi indikator ini bukan penyebab langsung yang dapat menjelaskan setiap penurunan harga Bitcoin.
Bitcoin anjlok ke US$77 ribu menunjukkan bahwa pasar kripto masih rentan terhadap perubahan sentimen ekonomi dan aktivitas perdagangan. Tekanan dari kondisi global, perubahan arus dana ETF, likuidasi posisi leverage, serta kekhawatiran keamanan bursa dapat saling memperkuat pergerakan harga. Oleh karena itu, investor perlu memahami berbagai faktor tersebut sebelum mengambil keputusan di tengah volatilitas pasar kripto.






















