Keputusan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada Oktober 2026 menjadi perhatian banyak pihak. Langkah ini diambil ketika tekanan inflasi di Negeri Paman Sam masih sulit mereda, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipengaruhi oleh konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
The Fed Tahan Bunga dan Biaya Kredit Membengkak karena Inflasi AS

The Fed mempertahankan suku bunga acuan 3,75–4 persen pada 28 Oktober 2026 karena inflasi, terutama harga energi terkait konflik AS-Iran, masih sulit mereda.
Biaya hidup rumah tangga AS tertekan oleh energi mahal dan bunga pinjaman tinggi; Moody’s Analytics memperkirakan konflik menambah beban rata-rata sekitar US$2.000.
Bunga kartu kredit, KPR, dan kredit mobil tetap mahal, sementara rekening tabungan online berimbal hasil tinggi masih menawarkan bunga di atas 4 persen.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat, mulai dari harga kebutuhan sehari-hari hingga biaya pinjaman. Bagi kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi global, keputusan The Fed tahan bunga dan biaya kredit membengkak menarik dicermati. Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut bisa memengaruhi pasar keuangan dan perekonomian negara lain, termasuk Indonesia.
1. The Fed menahan suku bunga di tengah inflasi yang membandel

ilustrasi inflasi (magnific.com/creativeart) Pada pertemuan 28 Oktober 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75–4 persen. Keputusan tersebut diambil ketika kenaikan harga energi masih menjadi salah satu faktor yang menghambat penurunan inflasi. Konflik Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk keadaan karena berpotensi membuat harga energi bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan. Situasi ini membuat bank sentral membutuhkan waktu tambahan untuk mengamati perkembangan ekonomi sebelum menentukan kebijakan berikutnya.
The Fed sendiri memiliki target inflasi sebesar 2 persen. Namun, kondisi ekonomi yang belum stabil membuat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember 2026 masih terbuka. Jika tekanan inflasi terus berlanjut, kebijakan tersebut bisa dipertimbangkan untuk membantu mengendalikan kenaikan harga. Artinya, masyarakat Amerika Serikat kemungkinan belum bisa berharap mendapatkan keringanan biaya pinjaman dalam waktu dekat.
2. Biaya hidup masyarakat semakin tertekan

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket, bendera Amerika Serikat (pexels.com/Mike Jones) Inflasi yang sulit dikendalikan memberikan dampak langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kenaikan harga energi, misalnya, bisa memengaruhi pengeluaran untuk bahan bakar, transportasi, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Ketika biaya hidup meningkat sementara bunga pinjaman masih tinggi, ruang gerak keuangan keluarga menjadi semakin terbatas. Kondisi ini terutama terasa bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
Mark Zandi, kepala ekonom Moody's Analytics, memperkirakan konflik tersebut telah menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga Amerika Serikat sekitar US$2.000 atau setara Rp33,2 juta. Angka tersebut terutama berasal dari kenaikan biaya energi dan ditambah beban bunga pinjaman yang lebih tinggi. Menurut Zandi, masyarakat berpenghasilan tinggi masih menikmati keuntungan dari kenaikan saham perusahaan kecerdasan buatan (AI). Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah dan menengah semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang karena upah riil melemah dan biaya pinjaman tetap mahal.
3. Bunga kartu kredit dan KPR masih mahal

ilustrasi properti, KPR, jual beli rumah (magnific.com/rawpixel.com) Salah satu dampak keputusan The Fed yang paling terasa adalah biaya penggunaan kartu kredit. Sebagian besar kartu kredit menerapkan suku bunga variabel sehingga perubahannya bisa mengikuti pergerakan suku bunga acuan. Biasanya, penyesuaian tersebut mulai dirasakan pemegang kartu dalam satu hingga dua siklus tagihan. Artinya, ketika bunga acuan meningkat, beban pembayaran utang kartu kredit juga berpotensi semakin besar.
Matt Schulz, kepala analis keuangan konsumen di LendingTree, mengatakan bahwa bunga kartu kredit telah meningkat selama tiga bulan berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2025. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan berikutnya. Sementara itu, bunga KPR dengan tenor tetap 15 dan 30 tahun tidak bergerak secara langsung mengikuti keputusan The Fed. Suku bunganya lebih banyak dipengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang, ekspektasi inflasi, dan prospek ekonomi.
Berdasarkan data Mortgage News Daily, bunga KPR tetap tenor 30 tahun bahkan bertahan di atas 7 persen selama lebih dari sebulan. Jeff DerGurahian, kepala ekonom LoanDepot, menjelaskan bahwa penurunan bunga KPR membutuhkan beberapa kondisi sekaligus. Di antaranya adalah harga minyak yang lebih terkendali, belanja konsumen yang melambat, serta laporan inflasi yang menunjukkan perkembangan positif menuju target 2 persen. Jadi, masyarakat yang berencana membeli rumah masih harus memperhitungkan cicilan dengan cermat.
4. Bunga kredit mobil dan pinjaman pendidikan ikut menjadi perhatian

ilustrasi mobil Volvo, perusahaan otomotif, mobil SUV (unsplash.com/Remy Lovesy) Kondisi suku bunga tinggi juga memengaruhi masyarakat yang berencana membeli kendaraan menggunakan fasilitas kredit. Menurut Joseph Yoon, analis senior Edmunds, tingkat APR atau suku bunga tahunan kredit mobil baru berada di sekitar 7 persen sepanjang tahun. Meskipun The Fed tidak menaikkan bunga pada Oktober, calon pembeli mungkin memperoleh penawaran pembiayaan yang lebih rendah untuk sementara waktu. Hal ini terutama bisa terjadi menjelang akhir tahun ketika produsen kendaraan menawarkan program pembiayaan khusus untuk meningkatkan penjualan.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan sebelum tergiur dengan penawaran tersebut. Yoon menjelaskan bahwa program bunga khusus biasanya lebih banyak diberikan kepada pembeli mobil baru dengan riwayat kredit yang sangat baik. Sementara itu, bunga kredit mobil bekas masih berada di atas 10 persen. Jadi, jika kamu memiliki rencana membeli kendaraan, jangan hanya melihat besarnya cicilan bulanan, ya, tapi perhatikan juga total bunga yang harus dibayarkan hingga masa pinjaman berakhir.
Pinjaman pendidikan federal juga memiliki ketentuan tersendiri karena bunganya ditetapkan untuk sepanjang masa pinjaman. Dengan demikian, perubahan suku bunga The Fed gak secara langsung mengubah bunga pinjaman yang sudah dimiliki peminjam. Namun, bunga untuk peminjam baru di Amerika Serikat berada pada kisaran 6,52–9,07 persen, bergantung pada jenis pinjamannya. Donald Trump juga menyampaikan kemungkinan dukungan terhadap rancangan undang-undang yang membatasi bunga pinjaman pendidikan federal, meskipun pembahasannya masih berlangsung di komite.
5. Rekening tabungan masih menawarkan peluang mendapatkan imbal hasil

ilustrasi Citi Bank (unsplash.com/Declan Sun) Di tengah mahalnya biaya pinjaman, ada satu sisi yang relatif menguntungkan dari kondisi suku bunga tinggi, yaitu potensi imbal hasil tabungan. Suku bunga rekening tabungan umumnya memiliki hubungan dengan perubahan suku bunga acuan The Fed. Ketika bank sentral mempertahankan bunganya, tingkat imbal hasil tabungan cenderung ikut stabil. Bahkan, sejumlah rekening tabungan online dengan imbal hasil tinggi di Amerika Serikat masih menawarkan bunga di atas 4 persen.
Matt Schulz menilai kondisi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mencari rekening tabungan dengan tingkat imbal hasil lebih menarik. Meskipun hasilnya belum setinggi rekor beberapa tahun sebelumnya, nilainya masih lebih menguntungkan dibandingkan rekening tabungan konvensional di sejumlah bank besar. Dengan membandingkan penawaran antarbank, masyarakat berpeluang memperoleh keuntungan lebih optimal dari dana yang disimpan. Langkah ini juga bisa membantu menjaga nilai simpanan ketika biaya hidup sedang meningkat.
Namun, menghadapi kondisi ekonomi seperti ini tetap membutuhkan pengelolaan keuangan yang cermat. Sung Won Sohn, profesor keuangan dan ekonomi di Loyola Marymount University sekaligus kepala ekonom SS Economics, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dapat membantu menekan permintaan sehingga perusahaan memiliki ruang yang lebih terbatas untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Meski begitu, bunga pinjaman yang tinggi juga bisa memperberat kondisi keuangan rumah tangga. Charlie Wise, kepala riset dan konsultasi global TransUnion, menyarankan masyarakat untuk mengurangi utang berbunga tinggi, menegosiasikan ketentuan pinjaman yang lebih baik, dan memanfaatkan rekening tabungan dengan imbal hasil tinggi.
Keputusan The Fed tahan bunga dan biaya kredit membengkak pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa perjuangan mengendalikan inflasi di Amerika Serikat masih menghadapi banyak tantangan. Masyarakat harus menghadapi biaya pinjaman yang tinggi, sementara harga energi dan kebutuhan sehari-hari juga berpotensi terus meningkat.
Di sisi lain, kondisi tersebut masih memberikan peluang bagi masyarakat yang ingin memperoleh imbal hasil lebih baik dari rekening tabungan. Karena itu, mengurangi utang berbunga tinggi, mengevaluasi cicilan, dan mengoptimalkan dana simpanan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan keuangan.






















